Kita tidak boleh terkubur dalam liturgi gereja, seakan-akan kalau sudah ikut liturgi, berarti sudah mengalami Allah. Justru liturgi sering menipu, sebab liturgi hanya dapat menjadi media dimana seseorang berfantasi mengenai Allah dan bersikap munafik; berlagak atau bergaya seakan-akan mengenal Allah dan memiliki hubungan yang benar dengan Dia. Banyak orang Kristen terkubur dalam konsep-konsep mengenai Allah di dalam diri dan membiasakan diri merasakan apa yang ia yakini, tetapi tidak merasakan apa yang ia alami. Padahal, Allah harus dialami secara konkret. Orang percaya harus sungguh-sungguh mencari Allah. Maksudnya, harus mengisi waktu hidupnya untuk belajar kebenaran, meditasi dalam saat teduh atau doa pribadi, mencari wajah-Nya, dan peka terhadap setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya, yang di dalamnya Allah mau berbicara dan menasihatinya. Kita harus menjadikan ini sebagai agenda yang selalu penting dan mendesak, bahkan agenda hidup satu-satunya.
Setiap hari, pasti ada berkat-Nya. Pasti ada porsi berkat pendewasaan yang Bapa sediakan untuk orang percaya. Kehadiran Allah, nasihat-Nya, dan didikan-Nya pasti ada. Hendaknya, kita tidak tenggelam dengan pemahaman mengenai Allah hanya secara kognitif atau secara pengetahuan nalar semata-mata. Hendaknya, orang percaya tidak membiasakan diri merasakan apa yang diyakini. Biasanya, orang hanya membiasakan merasakan apa yang mereka yakini, dan mereka berusaha membela apa yang mereka yakini tersebut dengan berbagai definisi, format, argumentasi, dan segala kajian teologi yang dibangun di atas kertas dan ucapan lisan. Mestinya, orang percaya membangun pemahaman mengenai Allah dalam pengalaman konkret, yaitu dalam perjumpaan dengan Dia atau pengalaman hidup, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari. Untuk itu, dibutuhkan kehausan yang benar terhadap Dia.
Banyak orang belum berada di wilayah perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah adalah wilayah yang harus menembus batas. Kita harus “menembus batas” sampai di hadirat Allah, atau hidup dalam kehadiran Allah. Orang percaya harus berjuang untuk dapat benar-benar hidup di hadirat Allah. Kalau hadirat Allah mencengkeram hidup kita, pasti ada perubahan yang sesuai dengan standar Allah. Dengan keadaan ini, kita bisa membangun hati yang takut akan Allah atau hati yang gentar sepatutnya kepada Dia. Kita dapat melihat kemuliaan Kerajaan Surga sejak di bumi, sehingga kita tidak tertarik lagi dengan keindahan dunia ini. Kita juga dapat membangun keyakinan akan Allah yang tidak kelihatan, sehingga kita benar-benar mengalami Allah secara konkret, bukan fantasi.
Banyak teolog yang rasional, yaitu para perumus doktrin yang membangun sistematika, dogmatika, atau sistematika teologi, merasa sudah memiliki bangunan pengertian tentang Allah yang kokoh dan benar. Mereka merasa sudah menemukan Allah di dalam nalar mereka dengan argumentasi yang kuat. Padahal, sejatinya mereka hanya menemukan pengetahuan mengenai Allah, tetapi belum menemukan Allah sendiri. Pengetahuan mereka pun belum tentu benar. Orang percaya tidak dapat menemukan Allah hanya pada rumusan doktrin teologi yang dinalar. Orang percaya dapat menemukan Allah dalam kehidupan konkret sehingga dapat menangkap gerakan, manuver tindakan Allah dalam segala hal yang dialami atau dijalani.
Di tengah-tengah dunia yang fasik, banyak orang yang secara teori ber-Tuhan, tetapi secara praktis adalah ateis. Tidak sedikit pula orang Kristen yang ketika sudah keluar dari ruangan gereja, dicengkeram atmosfer dunia yang tidak memiliki kegentaran terhadap Allah. Sehingga, banyak orang Kristen tertarik dengan banyak hal di dalam hidup ini dan mengingininya tanpa perasaan takut akan Allah. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dan berlarut-larut, maka cita rasa jiwa orang Kristen menjadi rusak. Mereka tidak mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya secara proporsional, tetapi lebih mengingini dunia. Dengan keadaan ini, seseorang menjadi terbelenggu oleh kuasa gelap.