
Sign up to save your podcasts
Or


Personal branding bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menjadi jujur pada siapa dirimu.
Di podcast ini, kita berbincang pelan tentang identitas, nilai, dan cara berdiri utuh di dunia yang penuh penilaian.
Dalam sabar aku berdiam, menanam rindu di ladang waktu. Jarak hanyalah bayang, tak sanggup meruntuhkan keyakinan yang kita genggam. Hari yang ku tunggu sedang berjalan menujuku, meski perlahan ia pasti datang. Dan di ujung penantian, ada pelukan abadi yang menutup semua luka jarak.
Kesibukan menari dalam ruang sunyi, menenggelamkan ratap yang tak sempat lahir.
Luka-luka itu bukan hilang
hanya bersembunyi di balik agenda yang terlalu rapi.
Sunyi yang merambat di sela nadi, bukanlah hening
melainkan gema dari luka yang lupa cara bersuara. Dan jika tawa tak lagi menggema di ruang dada, mungkin itu karena jiwa sedang berjalan jauh…
mencari rumah yang tak pernah diberi nama.
Mereka melihat aku berdiri,
tak tahu aku sedang menjadi reruntuhan
yang sedang belajar berlagak langit.
Kadang mulut bungkam, tapi kepala ribut.
Cemas numpuk, tapi gak bisa bilang siapa-siapa.
Di balik tawa, ada luka yang gak kelihatan.
Di balik sunyinya malam, sering kali justru kepala kita paling ribut.
Pikiran berlarian ke mana-mana, menyesali yang sudah terjadi, mengkhawatirkan yang belum tentu datang.
Di dunia yang memuja kecepatan, kita lupa bahwa matahari pun tak terburu-buru terbit.
Angin tak dipaksa berhembus, sungai mengalir tanpa disiplin kalender.
Lalu mengapa kita menghukum diri dengan ‘hustle’ yang tak berujung?
Sepenggal waktu yang berjalan tanpa jejak, dimana detik-detik berlalu seperti bayangan. Ada namun tak pernah benar-benar hadir.
From the publisher's feed