Selama tiga setengah tahun, Tuhan Yesus mendidik murid-murid, namun selera jiwa mereka belum berubah secara total. Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, murid-murid masih menuntut agar Tuhan Yesus memulihkan Kerajaan Israel duniawi. Mereka masih berpikir duniawi. Mereka belum memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka masih ingin membangun kerajaan mereka sendiri. Mereka masih memiliki cita rasa atau selera bumi ini, bukan langit baru dan bumi yang baru. Itulah sebabnya, mereka harus menerima Roh Kudus yang menuntun mereka kepada segala kebenaran. Perubahan secara signifikan terjadi ketika mereka dipenuhi Roh Kudus. Roh Kudus membawa perubahan yang sangat luar biasa. Bapa menghendaki agar orang percaya memiliki selera atau cita rasa rohani atau surgawi.
Selera atau cita rasa rohani tersebut adalah gairah untuk menikmati kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan Allah Bapa, bukan menikmati yang lain (Yoh. 4:34). Dengan melakukan itu, Tuhan Yesus menikmati hidup-Nya sebagai Anak Allah yang dapat memuaskan hati Bapa (Mat. 3:17). Tuhan Yesus memuaskan diri-Nya secara benar. Diri-Nya merasa puas ketika hidup-Nya memuaskan atau menyenangkan Bapa-Nya. Seperti Tuhan Yesus, demikian pula seharusnya kita. Kepuasan diri anak-anak Allah adalah melakukan kehendak Bapa. Ini adalah kepuasan yang kudus.
Sebagai orang percaya yang sudah mengerti kebenaran, kita harus bersungguh-sungguh mengubah cita rasa jiwa atau selera duniawi kita dengan selera yang baru, yang juga dimiliki oleh Tuhan Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa. Dalam hal ini, kita harus benar-benar memperkarakan: “Apakah kita sudah sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa?” Hal tersebut merupakan kepuasan jiwa kita dan menjadi selera jiwa yang permanen. Dengan selera atau cita rasa jiwa ini, kita dapat menolak setiap tawaran yang diajukan oleh kuasa gelap, yaitu keindahan dunia ini. Seperti Tuhan Yesus dengan tegas menolaknya, kita pun juga harus dengan tegas menolaknya. Memang kita menjadi manusia yang “aneh” di mata manusia di sekitar kita, tetapi dengan cara ini, kita menantang zaman.
Dalam suratnya, Paulus menunjuk adanya ilah zaman ini: Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2Kor. 4:3-4). Ilah zaman ini menunjuk kepada semangat atau gairah zaman yang menguasai sebagian besar manusia pada zaman itu. Ilah di sini sama dengan allah atau berhala. Pada dasarnya, berhala sama artinya dengan allah, yang arti sempitnya adalah objek yang disembah dan dipuja. Jadi, siapakah allah bagi seseorang, dialah berhalanya; atau siapakah berhala seseorang, dialah allahnya. Dalam hal ini, berhala adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang melakukan pengabdian atau pelayanan.
Dalam arti luas, berhala adalah sesuatu atau satu pribadi yang dianggap paling berharga, sebab mendatangkan kesenangan atau kebahagiaan, keuntungan dan keamanan. Tentu saja berhala bagi seseorang adalah pusat kehidupan dimana seseorang bergantung dan jiwanya melekat. Seseorang tidak akan merasa lengkap tanpanya. Kehidupan ini akan menjadi sepi dan kosong tanpanya. Dengan demikian, seseorang tidak bisa hidup tanpanya. Dalam hal ini, berhala atau allah adalah kelengkapan hidup yang mutlak harus ada. Allah atau berhala adalah pasangan hidup setiap individu orang beragama. Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri adalah orang yang masih memberhalakan sesuatu. Dirinya sendiri bisa menjadi berhala tersebut. Orang-orang seperti ini biasanya suka memanjakan perasaannya sendiri. Selera jiwanya adalah membahagiakan diri sendiri. Tentu saja materi dunia dengan segala hiburannya sebagai sarana untuk kebahagiaannya. Orang seperti ini akan semakin terbelenggu oleh percintaan dunia, selalu memburu kekayaan dunia,