Selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah artinya keadaan dimana seseorang tidak dapat lagi dituntut oleh siapa pun dan apa pun untuk melakukan suatu hal, baik dituntut oleh dirinya sendiri maupun oleh pihak di luar dirinya. Ini berarti tidak lagi ada keinginan dari diri sendiri dan dorongan oleh faktor di luar dirinya yang menggerakkan dirinya dalam menjalani roda kehidupannya, selain kehendak Allah. Inilah kemerdekaan yang sejati, yaitu ketika seseorang tidak terbelenggu oleh apa pun dan siapa pun, selain oleh Tuhan. Hal ini bisa dimiliki oleh seseorang, namun tergantung pada orang itu, asalkan ia tidak membiarkan dirinya terhanyut oleh keinginan diri sendiri dan pengaruh dunia sekitarnya. Orang yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah dalam menjalankan hidupnya, digerakkan oleh kehendak Allah. Hal ini bisa terjadi kalau orang percaya tersebut telah memiliki tingkat kedewasaan dimana ia dapat hidup menurut pimpinan Roh Kudus. Orang percaya yang dewasa dapat berjalan seiring dengan Roh Kudus dan hidup dalam ketertundukan kepada Roh Kudus secara mutlak dan terus-menerus, sampai pribadi orang tersebut “menjadi” seirama dengan Roh Kudus.
Seseorang dapat mencapai kehidupan “sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah” kalau sudah melalui perjalanan panjang dalam proses pendewasaan yang tidak mudah. Mengapa? Sebab, pada umumnya manusia memiliki kecenderungan hidup hanya untuk memuaskan diri sendiri dengan keinginan dari diri sendiri yang pada dasarnya hasil dari pengaruh dunia yang fasik. Untuk dapat menghentikan gaya hidup seperti ini, cara berpikir harus diubah melalui kebenaran Firman Tuhan dan proses pendewasaan melalui pengalaman hidup yang Allah izinkan terjadi. Tentu saja hal ini hanya terjadi dalam kehidupan orang-orang yang mengasihi Allah dengan benar sesuai standar-Nya. Mengasihi Allah dengan standar yang benar adalah mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mat. 22:37-40). Orang yang mengasihi Allah dengan benar adalah orang yang bersedia tidak mengasihi dunia dan bertekad untuk hidup tidak bercacat di hadapan Allah.
Seseorang tidak akan pernah memiliki kehidupan yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah kalau tidak memiliki kedewasaan rohani yang sejati. Pengalaman hidup dimana seseorang melewati berbagai peristiwa adalah sarana Allah mematangkan kebenaran Firman yang dipahami seseorang, sehingga ia dapat mengenakan kebenaran Firman Allah dalam kehidupannya secara konkret. Dalam hal ini, tidak dapat dibantah bahwa “waktu” memegang peranan penting dalam proses pendewasaan. Seseorang tidak dapat menjadi dewasa secara mendadak, apalagi secara otomatis. Menjadi tua secara usia adalah otomatis, tetapi menjadi dewasa adalah sebuah proses melalui perjuangan. Dengan demikian, kedewasaan adalah prestasi hidup yang harus diupayakan oleh setiap orang percaya.
Ukuran kedewasaan rohani yang sejati adalah pribadi Yesus. Yesus adalah model manusia yang telah selesai dengan diri sendiri dengan prinsip “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dengan berkeadaan telah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah, seseorang baru bisa melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kalau seseorang belum selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah, ia hanya hidup untuk memuaskan keinginannya sendiri, dan keinginan itu berasal dari pengaruh dunia sekitarnya. Orang seperti ini tidak memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan tidak mengerti rencana Allah dalam hidupnya. Seorang yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah akan merasa cukup terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Tidak ada lagi yang diingini kecuali menyukakan hati Allah.
Orang yang belum selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah tidak mengalirkan “spirit selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah” dalam kehidupan setiap hari. “Spirit selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah” tidak akan “melting” (meleleh) dalam...