Ketika seseorang berlabuh kepada Tuhan Yesus seperti kapal yang membuang sauh, ia tidak boleh lagi berpikir akan beranjak untuk berangkat ke pelabuhan lain. Baginya, itulah tujuan akhir perjalanannya. Ia harus berpendirian bahwa tidak ada pelabuhan hidup selain Tuhan. Memang kenyataannya, di dalam diri manusia seperti ada rongga kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun dan siapa pun selain Allah sendiri. Hal ini menjadi kodrat yang mutlak. Ibarat kehidupan, inilah nafasnya. Kejatuhan manusia ke dalam dosa menempatkan manusia pada keadaan tanpa kehidupan. Manusia pada hakikatnya telah mati, seperti yang dikatakan oleh Allah bahwa pada hari mereka makan “buah yang terlarang,” mereka mati. “Mati” di sini bisa juga berarti tidak lagi memiliki kehidupan. Allah itulah kehidupannya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa semua manusia “kehilangan kemuliaan Allah.”
Menemukan Tuhan sebagai pelabuhan berarti menemukan kemuliaan Allah. Oleh karenanya, sejak seseorang mengenal Injil dan belajar kebenaran-Nya, ia harus mulai belajar untuk tidak punya keinginan memiliki sesuatu. Seharusnya, dengan menemukan Tuhan melalui Injil, seseorang merasa sudah menemukan “harta yang lebih berharga dari segala sesuatu.” Bisa dimengerti kalau Paulus yang tadinya bernama Saulus, rela melepaskan segala sesuatu atau meninggalkan dunia sejak perjumpaannya dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini, Paulus benar-benar menemukan dan mengenali nilai kekayaan yang terdapat dalam “pengenalan akan Tuhan.” Jadi, kalau ada seorang Kristen belum berani meninggalkan segala sesuatu, berarti ia belum menemukan harta yang berharga dalam pengenalan akan Tuhan. Selanjutnya, demi Yesus yang menjadi hartanya, seseorang akan rela berbuat segala sesuatu, bahkan menyerahkan nyawanya. Hal ini sudah terbukti dalam kehidupan orang-orang Kristen di abad mula-mula.
Bagaimana pun, orang yang sudah menemukan kekayaan di dalam Tuhan Yesus pasti mengalami perubahan yang luar biasa. Baginya, segala sesuatu yang dimilikinya semata-mata untuk kepentingan pekerjaan Tuhan (Flp. 1:21). Prinsipnya adalah “aku tidak lagi memiliki kebutuhan kecuali untuk pelayanan pekerjaan-Nya.” Sampai pada level ini, sulitlah seseorang menjadi egois, sebab semua yang diperjuangkan adalah untuk Tuhan. Memang kadang-kadang oleh karena fokusnya kepada pekerjaan Tuhan, ada pihak-pihak tertentu yang merasa dikorbankan dan menuduh mereka sebagai fanatik. Sering kali tuduhan tersebut justru datang dari orang-orang dekatnya, khususnya keluarganya sendiri. Tetapi kita harus tetap bersikap bijaksana, agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mereka menuduh kita sebagai fanatik karena mereka belum tahu kebenaran. Kita harus sangat maklum sehingga kita menjadi lebih sabar.
Orang yang berlabuh dalam Tuhan, tidak ada lagi memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan atau yang oleh karenanya ia bisa bermegah (Flp. 3:7-8). Kalau bermegah, kemegahannya adalah ikut menderita demi pelayanan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan bermegah dalam Yesus dan salib-Nya (Gal. 6:14; Flp. 3:3). Prinsipnya adalah “aku bangga karena aku boleh menderita bersama dan untuk Tuhanku.” Perasaan yang mulai muncul adalah perasaan seorang yang mendapat eksekusi hukuman mati atau seorang yang mengidap penyakit kronis, dimana dokter sudah menyerah tidak sanggup mengobati. Perasaan seperti ini juga ada pada mereka yang berani membela keyakinannya menjadi teroris dan menargetkan beberapa objek dengan mengorbankan nyawanya, dengan melakukan bom bunuh diri. Kalau mereka bisa berbuat demikian, mengapa sebagai orang percaya kita tidak bisa melakukannya, yaitu membela kepentingan Tuhan dengan cara yang tidak mencelakai siapa pun? Prinsip seperti ini dikemukakan oleh Paulus dalam pernyataannya: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat” (2Tim. 4:6).
Bagi Paulus, adalah kebanggaan dan kebahagiaan boleh mengorbankan nyawanya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Sejatinya,