Betapa kekanak-kanakan dan bodohnya banyak orang yang berharap dan yakin masuk surge, tetapi tidak memiliki perjuangan sama sekali untuk memeroleh hal tersebut. Jadi, karena Allah itu baik, memberikan kasih karunia, maka ia yakin nanti kalau mati pasti masuk surga. Selama di dunia, ia hidup seperti manusia lain hidup, hidup dalam kewajaran anak dunia yang menikmati dunia seperti anak-anak dunia menikmati dunia, lalu ketika mati bisa masuk surga dengan yakin. Tuhan hanya ‘disuap’ dengan pujian, penyembahan waktu kebakitan di gereja, dengan memberikan kolekte atau perpuluhan. Terkadang memberikan persembahan pun dengan tujuan supaya bisa dikembalikan berlipat kali ganda, seperti layaknya orang “memancing.” Memberikan perpuluhan supaya mendapat kembali 30, 60, 100 kali lipat. Hal ini adalah sebuah kebodohan. Tidak mungkin Allah memberikan sesuatu kepada seseorang yang tidak sepadan dengan perjuangan orang itu.
Kalau kita memerhatikan apa yang dikatakan oleh firman Tuhan dalam Filipi 2:5-7, jelas sekali Yesus mengosongkan diri. Ia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Lalu di ayat 8, “dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib.” Di ayat 9, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama”. Jadi, harus ada perjuangan dan pengorbanan, baru bisa memeroleh kemuliaan. Hal ini sepadan dengan pengorbanan dan perjuangan yang Yesus lakukan.
Demikian pula dengan Roma 8:17, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Ingat ini: jika kita menderita bersama-sama dengan Dia. Berarti ini bersyarat. Untuk memperoleh kemuliaan itu bersyarat, bukan gratis. Kerajaan Surga itu diberikan gratis, tetapi untuk bisa menikmati dan masuk Kerajaan itu ada perjuangan, yaitu perjuangan merubah diri kita masing-masing.
Demikian pula dengan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Tidak mungkin seseorang menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus tanpa dia sendiri berjuang. Harus ada perjuangan. Seimbang atau setimpal dengan perjuangannya, maka ia memperoleh apa yang patut diterimanya. Di dalam 2 Korintus 5:10 dikatakan bahwa “setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Betapa bodohnya orang yang merasa berhak memeroleh sesuatu tanpa perjuangan. Ironisnya, hal ini terjadi dalam banyak kehidupan orang Kristen. Mereka mengagungkan Tuhan yang baik, yang menebus dosa, menyediakan Surga, tetapi tidak berjuang untuk memiliki kehidupan yang sepadan dengan anugerah Kerajaan Allah yang disediakan itu.
Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, semua pintu tertutup. Orang tidak akan bisa masuk Kerajaan Allah, orang tidak akan pernah memiliki keselamatan. Mutlak tertutup. Tetapi, Yesus yang membukanya. Itu tidak otomatis, lalu Kerajaan Surga datang, lalu dimiliki, dan orang bisa menikmati Kerajaan Surga tersebut. Orang harus datang kepada Tuhan untuk menerima didikan-Nya atau dimuridkan oleh Tuhan guna mengalami perubahan untuk bisa menikmati Kerajaan Allah tersebut. Kalau orang-orang Kristen (tentu tidak semua) merasa bahwa dirinya sudah selamat karena mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sekarang hanya menantikan saja kedatangan-Nya. Selama menantikan kedatangan-Nya dia hidup seperti anak-anak dunia, tidak mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat ilahi. Tetapi faktanya, banyak orang Kristen seperti ini, dan lebih menyedihkan kalau sampai khotbah di mimbar gereja juga mengesankan demikian: kalau sudah percaya kepada Tuhan Yesus, pasti sudah selamat. Cukup, titik. Padahal, harus ada perjuangan yang sepadan dengan mahkota yang kita peroleh nanti.