Truth Daily Enlightenment

Sertai Aku, Tuhan…


Listen Later

Banyak orang berdoa, “sertai aku, Tuhan,” dasarnya karena dalam hidup ini banyak masalah, banyak bahaya, dan sebagainya, tetapi, mestinya ketika kita berdoa “sertai aku, Tuhan” dasarnya “supaya aku bisa berjalan sesuai dengan kehendak-Mu. Supaya aku bisa menyukakan hati-Mu, supaya aku bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela.” Mestinya itu, bukan karena yang lain.  Demikian pula kalau dalam lingkungan pelayanan, kita sering berkata “Tuhan, sertai pelayananku.” Tapi di balik doa itu, kita berharap pelayanan kita sukses. Dan kalau sukses, nama kita terangkat, dan mungkin juga bisa dapat uang. Atau mungkin waktu kita mau berkhotbah, kita berkata “Tuhan, sertai dan urapi aku.” Agar khotbah kita bagus, orang memuji kita, dan itu nilai diri kita. Itulah kelicikan manusia. Kelicikan-kelicikan yang ada pada kita. Kalau dulu, tidak kita sadari. Sebab, di balik kalimat “sertai aku, Tuhan” ada agenda-agenda pribadi kita. Kita mau memanfaatkan Tuhan di balik pengakuan atau doa tersebut.
Tetapi sekarang, kalau kita berkata “sertai aku, Tuhan,” maksudnya adalah supaya setiap langkah, tindakan, keputusan kita selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, dan kita benar-benar membahagiakan hati-Nya. Jadi, kalau kita berkata “sertai aku, Tuhan,” itu karena kita mau membahagiakan hati-Nya. Bukan membahagiakan hidup kita, melainkan perasaan-Nya. Tentu Tuhan akan menuntun kita bagaimana kita bisa membahagiakan perasaan-Nya. Jadi, entah kita sehat atau sakit, kaya atau miskin, masalah kita sudah selesai atau belum, kita tidak mau tenggelam dalam masalah-masalah tersebut. Kita tidak akan memberhalakan masalah-masalah tersebut. Tetapi, bagaimana dalam setiap keputusan, tindakan, dan pilihan kita benar-benar menyukakan hati-Nya. Ini yang harus menjadi motivasi kita. Jadi, kalau kita memandang hal ini penting, maka penyertaan Tuhan supaya kita bisa menyukakan hati-Nya, kita bisa melihat bahwa menyukakan hati Allah, hidup suci, tidak bercacat dan tidak bercela jauh lebih berat dan sukar daripada mencari uang dan berkarier.
Jangan berpikir sebaliknya, bahwa mencari uang atau berkarier lebih berat dari mencari Tuhan atau menemukan hati-Nya. Menemukan hati Allah itu benar-benar sesuatu yang tidak mudah, harus kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Jadi, kalau kita berkata “Tuhan, sertai aku,” maksudnya adalah “Aku mau menemukan hati-Mu, Tuhan. Aku mau menemukan isi hati-Mu dan melakukan kehendak-Mu. Supaya aku bisa menyukakan hati-Mu, ya Allah.” Itu maksudnya. Orang-orang Kristen yang seperti ini, orang-orang yang merdeka dari dirinya sendiri dan orang lain. Dia tidak terbelenggu oleh masalahnya sendiri, apa pun masalah yang dia hadapi. Dan tidak terbelenggu oleh pandangan mata manusia terhadap dirinya. Ini sangat luar biasa. Jadi, kita disertai Tuhan supaya kita bisa menyukakan hati-Nya, yang akhirnya kita bisa sampai Rumah Bapa.
Adapun masalah-masalah lain dalam hidup kita, kita selesaikan dengan tanggung jawab. Kita memang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang kita lakukan. Ketika gereja mengesankan bahwa masalah-masalah hidup itu berat, maka lihat bagaimana jemaat awam mulai tidak sungguh-sungguh, karena mengesankan mencari uang lebih berat, berkarier itu lebih berat, sehingga jemaat tidak sungguh-sungguh berurusan dengan Tuhan untuk menjadi seorang yang berkenan. Berurusan dengan Tuhan hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah keuangan, pemenuhan kebutuhan jasmani, dll.
Dan tidak jarang, justru pendeta yang mengisyaratkan itu. Dalam doa syafaat, pendeta akan berkata, “Apa masalah Saudara? Kalau kau datang dengan masalah ekonomi, rumah tangga, kesehatan…” Tantangannya seperti itu terus setiap minggu. Kadang-kadang malah dijanjikan bahwa “ketika engkau pulang, engkau tidak akan sama seperti waktu engkau datang. Masalahmu telah selesai. Engkau telah sembuh.” Jemaat juga berkata “amin… amin…” Padahal itu salah, keliru. Maksud saya, belum tentu mereka benar-benar mendapat jalan keluar dari m...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings