Orang yang selesai dengan dirinya sendiri bukan hanya siap menghadapi kematian, namun kematian menjadi saat yang dinantikan karena membahagiakan. Paulus menunjukkan kualitas hidup seperti ini (2Kor. 5: 1-10; Flp. 1:21). Kesiapan menghadapai kematian adalah masalah yang bukan saja sangat penting, melainkan sangat mendesak dan harus selalu dipandang sebagai hal yang sangat penting. Kalau ada hal lain yang dianggap penting dan mendesak, maka ia tidak mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan serius. Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus mulai sekarang. Sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan berjaga-jaga dan berdoa tiada berkeputusan. Suatu relasi yang terus dibangun dengan Tuhan. Tidak boleh ada saat di mana kita tidak memiliki hubungan yang baik atau harmonis dengan Tuhan. Hubungan yang harmonis dengan Tuhan adalah kebutuhan yang lebih penting dari makan dan minum atau kebutuhan apa pun dalam hidup ini. Demi hubungan yang harmoni dengan Tuhan ini, orang percaya harus bersedia mengorbankan apa pun. Orang percaya harus berani memilih demi keselamatan kekalnya dan ia juga harus rela kehilangan segala sesuatu.
Kuasa kegelapan berusaha agar orang Kristen dengan berbagai kesenangan melupakan realitas ini. Hal ini membuat seseorang menunda untuk berusaha mengerti kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kuasa kegelapan menipu seseorang dengan pemikiran bahwa sekarang ini—selama masih di dunia dan belum menghadap takhta pengadilan Allah—seseorang belum bisa mengetahui dengan pasti apakah dirinya ditolak atau diterima oleh Allah. Itulah sebabnya, mereka berpikir tidak perlu mempersoalkannya dulu. Pemikiran atau anggapan ini sungguh-sungguh sangat menyesatkan. Dengan pemikiran tersebut, seseorang menjadi ceroboh.
Banyak orang Kristen merasa bahwa keadaan kekekalan bukan hal yang penting. Mereka selalu menunda untuk melakukan kehendak Bapa. Mereka berpikir bahwa Tuhan memaklumi dan menolerir keadaan mereka yang belum berkenan kepada-Nya. Mereka berpikir bahwa yang penting, mereka tidak menjadi orang jahat dan tetap pergi ke gereja. Mereka tidak mengerti bahwa menjadi Kristen harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Tanpa keselamatan dalam Yesus Kristus pun orang bisa memiliki moral atau mental yang baik, tetapi yang dikehendaki oleh Allah adalah serupa dengan Yesus. Hendaknya, kita tidak berpikir bahwa hal diterima atau ditolak Allah tidak bisa dipersoalkan sejak hari ini, seakan-akan Allah menyembunyikan hal tersebut. Jika seseorang beranggapan bahwa Allah sekarang ini—yaitu sejak manusia masih hidup—sengaja menyembunyikan kepastian diterima atau ditolak oleh Dia, berarti ia menuduh Allah sebagai Allah yang jahat dan licik. Sejak masih hidup—yaitu sebelum meninggal dunia dan sebelum menghadap takhta pengadilan Allah—seseorang harus dapat mengetahui dengan pasti keadaannya, apakah ia diterima atau ditolak oleh Allah kalau meninggal dunia saat ini. Itulah sebabnya, Tuhan menghendaki agar setiap orang menguji dirinya dan mohon Tuhan membuka pikirannya untuk mengetahui apakah jalannya serong (2Kor. 13:5; Ef. 5:10; Mzm. 139).