Dalam suratnya Paulus menyatakan: Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima (2Kor. 11:4). Dari tulisan ini Paulus menyatakan bahwa seharusnya mereka tidak boleh bersikap sabar terhadap orang-orang yang memberitakan Yesus yang lain tersebut. Kata sabar dalam teks aslinya adalah anekhesthe (ἀνέχεσθε), yang bisa berarti toleransi (tolerance endure). Dengan sikap toleransi tersebut mengesankan bahwa apa yang diberitakan bisa dibenarkan. Hal ini membahayakan bagi gereja Tuhan.
Kalau menghadapi orang-orang di luar gereja tentu kita harus bersikap toleransi, dalam arti menerima orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Walau di mata kita ajaran dan keyakinan mereka tidak benar, karena tidak sesuai dengan keyakinan dan doktrin kita, kita harus dengan lapang hati memberi kesempatan kepada mereka untuk meyakini apa yang dipandang mereka benar dan turut menciptakan kesejukan dalam hidup berdampingan sebagai orang beragama. Kita tidak berhak menghakimi, mencela, apalagi menghambat keyakinan mereka serta menganggu kegiatan mereka dalam menjalankan ibadah. Sebagai manusia yang beradab, kita harus menghargai keyakinan agama lain. Tetapi terhadap Injil yang salah, yang mengajarkan Yesus yang lain di dalam gereja, kita harus bersikap tegas.
Sikap tegas kita terhadap ajaran salah yang masuk ke dalam gereja di antara orang-orang Kristen dan para pemberita Firman di lingkungan gereja bukanlah kesalahan. Hal ini bukan sesuatu yang menyalahi etika kehidupan sebagai orang percaya. Kita tidak boleh bersikap toleransi, artinya kita harus menyatakan dengan tegas dan terus terang bahwa ajaran yang tidak sesuai dengan Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru, di mana Yesus yang lain yang diajarkan, adalah salah. Justru kalau kita tidak bersikap tegas, kita bersalah kepada Tuhan.
Kita tidak boleh takut menyatakan bahwa mereka yang tidak mengajarkan kebenaran tersebut adalah saudara palsu. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. Kalau Paulus menyampaikan kecaman terhadap mereka yang memberitakan Injil yang lain dengan sedemikian keras, maka kita harus mengerti betapa berbahayanya pengajaran palsu yang mengajarkan Yesus yang lain tersebut.
Sikap tegas kita tidak bermaksud mengobarkan permusuhan yang bisa melahirkan pertikaian, sakit hati dan permusuhan, tetapi dengan kasih yang tulus kita menunjukkan kebenaran dengan maksud agar kita semua kembali kepada Injil yang murni dan menemukan Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Perjanjian Baru. Tidak tertutup kemungkinan, kita yang bermaksud mengajarkan Injil yang benar, disalahmengerti oleh mereka yang menganggap kita menyerang atau menghakimi mereka. Tetapi hal ini tidak perlu menggusarkan kita, yang penting bagi kita adalah tidak bersikap negatif terhadap mereka.
Membiarkan ajaran Injil yang sebenarnya bukan Injil atau membiarkan Yesus lain diajarkan, sama dengan membiarkan makanan beracun dikonsumsi oleh banyak orang, yang tentu saja berakibat banyak orang menjadi sakit bahkan kematian. Oleh sebab itu mengajarkan Injil yang benar atau memperkenalkan Yesus yang benar atau sejati adalah perjuangan yang tidak boleh berhenti, apa pun resiko dan konsekuensinya. Suatu hari mereka akan tahu bahwa kita tidak bermaksud jahat, tetapi kita bermaksud menyelamatkan sebanyak mungkin orang Kristen menjadi anak-anak Allah yang benar.