Untuk dapat menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya, seseorang harus memercayai dan menghayati keberadaan Allah. Orang-orang Kristen yang yang dibesarkan dalam lingkungan gereja, sudah terbiasa meyakini bahwa Allah itu ada. Keyakinan mengenai keberadaan Allah itu telah menyatu dalam kehidupan, mengalir dalam jiwanya sejak kecil. Pada umumnya, mereka merasa sudah menjadi orang percaya yang benar. Tetapi sebenarnya, banyak di antara mereka yang memercayai keberadaan Allah tanpa menghayati dengan benar atau semestinya. Hal ini dibuktikan dengan perilaku dan buah-buah kehidupan mereka. Banyak di antara mereka yang perilaku hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Kalau seseorang hidup sebagai orang percaya yang menghayati kehadiran Allah, maka gaya hidupnya pasti mengikut jejak Yesus, sehingga ia menjadi semakin seperti Yesus. Faktanya, sedikit sekali, bahkan hampir tidak kita temukan orang Kristen—sekalipun itu pendeta—yang berkeberadaan seperti Yesus.
Hal tersebut membuktikan bahwa mereka belum menjadi orang percaya yang benar. Mereka tidak memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup. Tentu semua orang Kristen memercayai Allah sebagai keberadaan yang hidup dan nyata, tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Suasana kekristenan di Indonesia seperti ini memengaruhi kehidupan kerohanian generasi muda. Bukan tidak mungkin, lambat laun kekristenan di Indonesia menjadi seperti kekristenan di masyarakat Barat. Hal ini sangat besar kemungkinannya, sebab banyak gereja di Indonesia yang doktrin dan pengajarannya berasal dari Barat.
Sementara ini, semakin kuat suasana dunia yang menunjukkan sikap seakan-akan Allah tidak hadir dalam kehidupan. Hal ini memengaruhi kehidupan banyak orang Kristen. Banyak orang Kristen yang telah diracuni pemikiran seakan-akan Allah itu tidak ada. Menurut Rasul Petrus, dunia akhir zaman akan dibawa kepada suasana dimana manusia tidak percaya adanya Allah (2Ptr. 3:1-7). Dalam kehidupan orang-orang Kristen, sikap terhadap Allah seperti ini tanpa disadari mematikan keyakinan bahwa Allah hadir dalam kehidupan manusia. Ini merupakan pintu masuk kuasa gelap untuk memengaruhi dan menguasai kehidupan seseorang. Banyak orang Kristen yang hati nuraninya menjadi gelap, sehingga membuat mereka tidak takut akan Allah secara benar. Walaupun mereka tampak sebagai orang-orang Kristen yang baik, tetapi sebenarnya mereka tidak memiliki hati yang mengasihi dan menghormati Allah secara patut. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak memiliki kekudusan seperti yang Allah kehendaki dan mereka masih mencintai dunia.
Keadaan dunia hari ini mengondisi orang Kristen untuk semakin sukar memercayai kehadiran Allah dalam kehidupan. Banyak mereka yang telah hanyut dalam sikap seakan-akan Allah tidak hadir dalam kehidupan. Hal ini terbukti dengan perilaku mereka, dimana hampir semua orang menjadikan adalah kekayaan, kehormatan, pangkat, kepuasan nafsu daging dan lain sebagainya sebagai sumber kebahagiaannya. Mereka tidak menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya kebahagiaan.
Kerajaan Surga bukan lagi menjadi tujuan hidup. Tidak heran kalau mereka tidak ingin pulang ke surga. Bagi mereka, langit baru dan bumi baru adalah dunia yang asing. Bila keadaan ini berlangsung terus-menerus, maka sampai pada level tertentu, mereka tidak bisa lagi menyadari dan menghayati bahwa mereka bukan berasal dari dunia ini. Inilah keadaan orang-orang Kristen yang terhilang. Mereka tidak tahu ke mana harus pulang. Ironisnya, mereka menganggap bahwa keadaan hidup seperti ini adalah wajar. Inilah keberhasilan kuasa gelap yang membuat banyak orang Kristen tidak lagi menjadi perawan suci di hadapan Allah, dan mereka telah kehilangan kesetiaan yang sejati kepada Kristus (2Kor. 11:2-3).
Memercayai keberadaan Allah tidak cukup hanya berupa pengakuan di bibir saja. Seseorang yang percaya kehadiran Tuhan harus menunjukkan keyakinannya itu dalam perbuatan. Itulah sebabnya,