Kita harus benar-benar berani serta dengan rela menanggalkan beban (keterikatan dengan percintaan dunia) dan dosa (keterikatan dengan hasrat dosa dalam daging). Menanggalkan beban dan dosa bukan hanya menunjuk satu langkah keputusan, melainkan sebuah proses panjang yang menuntut perjuangan berat sepanjang hidup. Ketika kita dalam proses menganggalkan beban dan dosa, kadang-kadang kita masih bisa berbuat salah. Kita tidak boleh putus asa dan berkesimpulan bahwa mencapai kehidupan yang tidak bercacat tidak bercela adalah hal yang mustahil. Perjuangan harus tetap dilakukan. Terkait dengan hal ini, Firman Tuhan berkata, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah” (Ibr. 12:3-4). Firman Tuhan ini menasihati kita untuk tetap tekun dalam segala keadaan demi mencapai kehidupan yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10).
Memang faktanya kita masih bisa berbuat salah, tetapi kita harus tetap bertekun untuk mengalami proses perubahan. Dalam hal ini, yang penting kita harus mengambil ketetapan hati untuk “putus hubungan” dengan dunia ini. Keputusan ini akan sangat membantu kita lepas dari beban—yaitu keterikatan dengan dunia—dan dosa—yaitu keterikatan dengan daging. Keputusan untuk putus hubungan dengan dunia harus terus di “update” setiap hari seiring dengan pengalaman pertobatan kita setiap hari yang tidak pernah berhenti. Dalam hal ini, siapa pun, baik aktivis jemaat, majelis, atau bahkan pendeta harus terus-menerus mengalami pembaharuan hidup guna mencapai kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
Berketetapan untuk “putus hubungan dengan dunia” dan terus-menerus memperbarui komitmen tersebut sama dengan bersikap “dhel” dengan dunia. Memang tidak mudah melakukan hal ini, selain daging dan jiwa kita telah banyak diracuni oleh dunia ini, kita juga melihat banyak orang di sekitar kita yang tidak peduli dengan Allah. Hidup orang-orang di sekitar kita sangat sembarangan dalam irama hidup manusia yang fasik (tidak takut akan Allah dan tidak peduli kehendak-Nya). Tetapi, kita harus tetap pada sikap dan pendirian kita untuk “putus hubungan” dengan dunia ini. Komitmen putus hubungan dengan dunia ini harus selalu diperbaharui agar semakin kuat dan permanen. Hal ini kita lakukan sebab bukan tidak mungkin pengaruh dunia mendistorsi (mengeruhkan) motivasi pelayanan kita kepada Tuhan. Harus diingat, bahwa kuasa gelap tidak akan berhenti mencobai dan membujuk orang percaya agar meninggalkan kesetiaannya yang sejati kepada Kristus. Perjuangan untuk tetap dalam komitmen putus hubungan dengan dunia dan membangun hubungan yang ideal dengan Allah harus dilakukan sampai menutup mata. Untuk itu, kita harus peduli dengan perasaan Allah.
Tidak mudah untuk dapat mengikuti perasaan Allah, tetapi kita akan banyak tertolong untuk dapat mengikuti perasaan Allah kalau berani bertindak “dhel.” Ini bukanlah sekadar teori untuk dianalisa atau dipikirkan. Ini adalah tindakan nyata yang harus diambil atau dilakukan secara konkret. Kita harus berani meninggalkan dunia, seperti yang Yesus perintahkan kepada orang muda yang kaya, “Juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Luk. 18:22). Perintah Yesus ini bisa dilukiskan dengan satu kata: “dhel.” “Dhel” adalah sikap radikal dalam mengikut Yesus. Ini berarti tidak menunda untuk berubah, tidak menyisakan kesenangan dunia, dan dengan segenap hidup tanpa batas bersedia melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Allah.
Persoalannya adalah bagaimana kita bisa bertindak “dhel” ini? Kita harus berani mengasihi Allah. Mengasihi Allah harus dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (Mat.