KHABAR BAIK DI TENGAH DUKACITA
2 Korintus 7:8 (TB) Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu — kendatipun untuk seketika saja lamanya.
2 Korintus 7:8 (IMB) Sebab jika aku telah mendukakan kamu dengan surat itu, aku tidak menyesal, kalaupun aku menyesal, hal itu karena aku melihat bahwa surat itu telah mendukakan kamu hanya untuk sesaat saja.
Surat kepada jemaat Korintus ditulis Paulus dengan hati yang sedih karena isinya berupa teguran keras atas dosa jemaat itu. 2 Korintus 2:4 (IMB) Aku menulis kepadamu dengan banyak kesukaran, kepedihan hati, dan cucuran air mata, tidak untuk membuat kamu berdukacita, melainkan supaya kamu mengetahui betapa limpahnya kasih yang aku miliki untukmu.
Meskipun demikian dukacita Paulus dihiburkan karena tulisannya membuat jemaat Korintus bertobat. Hal ini dijelaskan oleh Matthew Henry sbb:
Rasul Paulus sangat bersukacita mendengar tentang pertobatan orang-orang Korintus dan tentang bukti-buktinya. Rasul Paulus merasa menyesal bahwa ia telah menyedihkan mereka, sehingga beberapa orang saleh di antara mereka sangat memprihatinkan apa yang telah ia katakan di dalam surat kerasulan sebelumnya. Ia juga menyesal bahwa ia sampai merasa perlu membuat mereka bersusah hati dan bukannya membuat mereka merasa gembira (ay. 8). Namun sekarang ia bersukacita, ketika ia mendapati bahwa dukacita itu telah membuat mereka bertobat (ay. 9). Dukacita mereka sendiri bukanlah penyebab Rasul Paulus bersukacita, melainkan sifat dari dukacita dan akibat yang ditimbulkannya (yaitu pertobatan yang membawa keselamatan, ay. 10). Sebab, sekarang tampaklah bahwa mereka sama sekali tidak dirugikan olehnya. Dukacita mereka hanyalah seketika saja lamanya. Dukacita itu telah berubah menjadi sukacita, dan sukacita itu bertahan lama.
Baru-baru ini saya mendengar cerita yang viral seorang penumpang Sriwijaya Air SJ182 yang tidak naik pesawat itu karena ia pergi dengan wanita selingkuhannya ke Bali. Sesaat setelah musibah itu rumahnya didatangi oleh kerabat yang berempati atas "musibah" yang menimpah sang suami. Yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan sang suami? Apakah ia "bisa" pulang dengan kondisi yang demikian?. Yang menarik konon khabarnya sang isteri merasa bersukacita mendengar suaminya "selamat" karena bukan salah satu korban musibah pesawat Itu.
Sang suami harusnya berdukacita atas apa yang dilakukannya karena apa yang dilakukannya itu bisa membawanya kepada ke kebinasaan abadi. Kesempatan ia hidup karena terhindar dari musibah itu harus dia gunakan untuk bertobat jika tidak ia akan benar-benar binasa. (CS).