WE ARE HERE
Kisah Para Rasul 16:27-28 (TB) 27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. 28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!"
Acts 16:27-28 (NET) 27 When the jailer woke up and saw the doors of the prison standing open, he drew his sword and was about to kill himself, because he assumed the prisoners had escaped. 28 But Paul called out loudly, “Do not harm yourself, for we are all here!”
Apa alasan kepala penjara itu hendak bunuh diri? Alasannya sangat sederhana: Jika tawanan lepas maka kepala penjara akan kena hukuman apakah dihukum mati atau penjara seumur hidup. Ia tidak siap menghadapi kedua pilihan itu.
Ia melihat pintu-pintu penjara terbuka, dan mengira, seperti yang mungkin akan dilakukannya, bahwa para tawanan sudah melarikan diri. Dan jika demikian, apa yang akan terjadi padanya? Dia tahu hukum Roma yang berlaku mengenai hal itu, dan belum lama hukum itu dijalankan atas para penjaga yang telah membiarkan Petrus melarikan diri ( Kis 12:19).
Kisah Para Rasul 12:19 (TB) Herodes menyuruh mencari Petrus, tetapi ia tidak ditemukan. Lalu Herodes menyuruh memeriksa pengawal-pengawal itu dan membunuh mereka. Kemudian ia berangkat dari Yudea ke Kaisarea dan tinggal di situ.
Aturan ini dibuat menurut apa yang dikatakan nabi (1Raj. 20:39, 42), Jagalah orang ini, jika ia hilang dengan cara bagaimanapun juga, maka nyawamu adalah ganti nyawanya.
Dalam ketakutannya, ia menghunus pedangnya dan hendak membunuh diri, untuk mencegah terjadinya kematian yang lebih mengerikan, yang sudah ia duga akan diterimanya karena membiarkan para tahanan melarikan diri dan tidak bisa menjaga mereka baik-baik. Ia sudah diberi tugas supaya menjaga Paulus dan Silas dengan luar biasa ketat, jadi ia sadar betapa berat hukumannya jika mereka sampai kabur. Para filsuf umumnya membolehkan tindakan bunuh diri. Seneca, seorang filsuf Romawi, meresepkannya sebagai obat terakhir yang boleh diambil oleh orang-orang yang tertekan. Golongan Stoa, meskipun mengaku-ngaku sudah menaklukkan nafsu, sejauh ini menyerah pada nafsu itu sendiri. Sedangkan golongan Epikuros, yang memperbolehkan kenikmatan indrawi, memilih menghindari penderitaannya dengan mengakhiri hidup. Kepala penjara ini mengira bahwa tidak ada salahnya bertindak mendahului kematiannya sendiri.
Paulus menghentikan perbuatannya (ay. Kis 16:28). Paulus berseru dengan suara nyaring, bukan hanya supaya kepala penjara itu mendengar, tetapi juga supaya ia menaatinya. Katanya, "Jangan menyakiti dirimu sendiri. Jangan celakai dirimu". Semua peringatan firman Allah terhadap dosa, segala bentuk dan cara penyampaiannya, memiliki kecenderungan ini, “Jangan celakai dirimu. Lelaki atau perempuan, jangan sakiti, atau hancurkan dirimu. Jangan lukai dirimu, dan dengan demikian tidak ada orang lain yang dapat melukai dirimu.
Di Jepang ada seorang pria usia 79 yang setiap hari pergi ke tebing tinggi Dan terjal serta berbatu-batu. Meskipun sulit dicapai pemandangan dari tebing itu sangat indah. Ia pergi ke situ bukan karena pemandangannya yang indah. Ternyata tebing itu selain indah pemandangannya tempat itu adalah tempat favorite untuk bunuh diri. Pria tua bernama Yukio Shige, ia pergi ke tebing untuk menyelamatkan orang-orang yang hendak bunuh diri. Ia sudah menyelamatkan 800 orang dengan kehadirannya di tebing itu.
Bagaimana kehadiran kita? (CS)