Selamat tahun baru 2025! Sukacita perayaan Natal telah usai dan tahun baru sudah kita jelang. Tahun baru mungkin memberi asa—artinya harapan atau semangat—yang baru. Bagi sebagian orang, tahun baru adalah saat dimulainya pengalaman baru, misalnya pekerjaan baru, bisnis baru, rumah baru, dan sebagainya. Akan tetapi, jangan-jangan kita menjalani tahun baru dengan cara berpikir, cara bicara, kebiasaan, tingkah laku, pola ekspresi emosi, dan gaya hidup yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebaruan yang ada di tahun yang baru—dalam contoh-contoh seperti disebutkan di atas—merupakan aspek penting, tetapi tidak sangat mendasar, yang wajar bila terjadi dalam diri kita.
Kristus yang menjadi manusia dan kita rayakan kedatangan-Nya di hari Natal bukan hanya memberi contoh hidup yang baik dan benar, bukan pula sekadar mengajarkan kebenaran sejati. Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia itu, datang ke dunia untuk mati di kayu salib dan bangkit kembali. Natal berujung pada Paskah. Kristus datang dengan tujuan menebus manusia yang tidak berdaya karena dosa. Allah menghendaki agar selama di dunia, kita bertumbuh makin serupa dengan Kristus dalam segala hal (Efesus 4:15). Artinya, kita bertumbuh baik dalam aspek keagamaan—seperti lebih rajin beribadah, lebih tekun berdoa, lebih rajin membaca Alkitab, lebih berkomitmen dalam pelayanan gereja—maupun dalam kebiasaan, perilaku, cara bicara, cara berpikir, cara mengungkapkan emosi, gaya hidup, dan sebagainya. Salah satu langkah penting yang wajar kita lakukan adalah menanggalkan manusia lama serta mengenakan manusia baru. Manusia lama—dikatakan oleh Rasul Paulus—"menemui kebinasaannya", sedangkan manusia baru "diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Efesus 4:22, 24). Secara sederhana, maksud Rasul Paulus itu bisa digambarkan seperti menanggalkan pakaian lama dan mengenakan pakaian baru. Setelah aktivitas yang panjang selama satu hari, pakaian yang kita kenakan telah kotor sehingga wajar bila pakaian lama itu diganti dengan pakaian baru yang bersih. Kita tidak akan terus mengenakan pakaian lama untuk aktivitas esok hari, bukan?
Marilah kita serius menentukan manusia lama yang akan kita tanggalkan dan manusia baru yang akan kita kenakan. Misalnya, kita mungkin "menanggalkan" kebiasaan cepat marah dan "mengenakan" penguasaan diri atau "menanggalkan" kesombongan dan "mengenakan" kemurahhatian. Apakah manusia lama yang akan Anda lepaskan dan manusia baru yang akan Anda kenakan? Kiranya Tuhan menolong sehingga kebaruan yang sejati terwujud di tahun yang baru ini! [Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono]