Dalam tradisi Israel pada masa itu, janggut adalah simbol kedewasaan dan otoritas. Hanun—raja bani Amon yang menggantikan ayahnya yang meninggal—menghina Daud dengan mempermalukan para pegawai Daud yang diutus untuk menyampaikan pesan dukacita. Hanun—yang mendengarkan saran menyesatkan dari para pemuka bani Amon—mencurigai motivasi para utusan itu, sehingga ia menangkap mereka, mencukur setengah janggut mereka, memotong pakaian mereka di bagian tengah sampai pantat, lalu melepaskan mereka (10:3-4). Pengambilan keputusan itu berdampak besar terhadap Hanun. Ia sadar bahwa kini Daud sangat membenci mereka. Ketimbang mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki keadaan, ia malah mengumumkan perang dengan menyewa pasukan asing (10:6). Seperti Hanun, terkadang kita merespons kesalahan yang kita perbuat dengan amarah dan mengingkari, bukan mengakui, meminta maaf, dan berusaha meredakan amarah orang yang kepadanya kita telah bersalah. Hanun gagal mengusahakan perdamaian dan menghindari perseteruan.
Respons Daud terhadap ancaman serangan bani Amon ditunjukkan oleh Yoab, panglima perang Daud. Saat menghadapi musuh yang mengancam dari depan dan belakang, ia mengobarkan semangat para pejuang Israel untuk tetap menguatkan hati dan meneguhkan tekad dengan keyakinan bahwa jika mereka melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan dengan segala sumber daya yang mereka miliki, TUHAN akan melakukan apa yang baik di mata-Nya (10:12b). Yoab sadar bahwa ia harus menggunakan semua sumber dayanya untuk menaati Tuhan, sekaligus memercayakan hasil akhir kepada TUHAN. Orang Amon akhirnya dikalahkan (10:14). Bahkan, ketika Hadadezer mengumpulkan orang Aram untuk berperang melawan Daud, TUHAN memberi kemenangan kepada Daud. Sobakh, panglima tentara Aram, dilukainya hingga mati (10:18), Sesudah itu, pasukan Aram memohon perdamaian dan takluk kepada Israel (10:19).
Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan beberapa hal kepada kita: Pertama, jika kita melakukan kesalahan, jangan menunda-nunda untuk memperbaikinya.
Kedua, saat kita menghadapi kesulitan, tetaplah lakukan yang terbaik. Ketiga, peganglah keyakinan bahwa TUHAN pasti melakukan hal yang terbaik bagi umat-Nya. Apakah Anda percaya bahwa keputusan TUHAN merupakan hal yang terbaik bagi diri Anda, sekalipun hal itu berarti bahwa Anda harus bergumul untuk mengatasi kesulitan? Saat menghadapi masalah, apakah Anda tekun berjuang dan tetap berusaha melakukan yang terbaik? Tenanglah! TUHAN memiliki rancangan yang terbaik bagi diri Anda! [Pdt. Martin Kurniawan]