Kitab Rut dimulai dengan bencana kelaparan di Israel. Kelaparan ini mendorong Elimelekh meninggalkan Israel bersama keluarganya dan tinggal sementara di Moab sampai kelaparan berakhir. Elimelekh dan istrinya, yaitu Naomi, mempunyai dua orang putra bernama Mahlon dan Kilyon. Keduanya, menikah dengan wanita Moab. Di Moab, Elimelekh meninggal, lalu disusul oleh kedua putranya yang meninggal tanpa memiliki anak, sehingga Naomi, tinggal bersama dengan kedua menantunya, yaitu Rut dan Orpa. Suatu hari, Naomi mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan gandum di Israel, sehingga dia bergegas untuk kembali. Dalam perjalanan, Naomi meminta menantunya pulang karena: Pertama, Naomi berharap mereka mendapat suami pengganti dari sesama orang Moab (1:8-9). Kedua, Naomi tidak mempunyai anak laki-laki yang lain yang bisa menjadi suami mereka dan dia sudah terlalu tua untuk bisa melahirkan anak lagi. Orpa menurut dan kembali ke tempat asalnya, tetapi Rut memutuskan untuk mengikuti Naomi dan mendesak agar Naomi tidak memaksa dia untuk pulang (1:16). Tiba Betlehem, orang-orang berkata "mungkinkah ini Naomi?" Jelas bahwa penampilan dan semangat hidup Naomi telah berubah. Dia meminta agar tidak dipanggil Naomi yang artinya "menyenangkan", melainkan Mara yang artinya "pahit". Naomi berkata bahwa Tuhan telah melakukan banyak hal yang terasa pahit (1:20). Dia menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Bentuk kemarahannya terlihat jelas (1:13b,21). Akan tetapi, sekalipun Naomi kembali dengan "tangan kosong", TUHAN menunjukkan kebaikan-Nya dengan tidak membiarkan mereka kelaparan (1:22) serta melalui kehadiran Rut yang setia menjaga dan merawat Naomi.
Sikap Naomi memperlihatkan kepada kita bahwa ada banyak orang yang menyalahkan TUHAN ketika menghadapi hal-hal yang pahit dalam hidupnya. Memang, apa yang dialami oleh Naomi—yang kehilangan suami dan kedua anaknya—bukanlah hal yang mudah, Saya banyak kali bertemu dengan orang yang menyalahkan TUHAN saat menghadapi pengalaman pahit. Sangat manusiawi bila seseorang mengungkapkan kekecewaan atas apa yang mereka alami. Akan tetapi, ingatlah bahwa ketika Tuhan mengizinkan hal-hal yang pahit terjadi dalam hidup kita, Tuhan pasti memberi kekuatan, sehingga kita bisa melewatinya, dan TUHAN pasti menyiapkan rencana yang indah bagi kita. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan Anda sendirian dalam menghadapi persoalan. Tuhan selalu bersama dengan kita! Apakah Anda percaya kepada pertolongan TUHAN? Apakah Anda percaya bahwa hal-hal yang pahit bisa mendatangkan kebaikan? [GI Yorimarlina Umboh]