Perspektif

Sosok Permaisuri Jepang yang Merakyat (I)


Listen Later

(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 30 April 2019, Kaisar Akihito turun takhta dan digantikan sang putra, yakni Pangeran Naruhito. Semenjak tanggal 1 Mei 2019, Era Reiwa resmi berlangsung di bawah kepemimpinan Kaisar Naruhito. Posisi Permaisuri pun berpindah dari Shoda Michiko ke tangan Owada Masako. Akihito adalah Kaisar pertama yang turun tahta setelah Kaisar Kokaku pada era Edo, 200 tahun lalu. Akihito yang dekat dengan rakyatnya mengumumkan pengunduran dirinya sebagai kaisar yang membuat kaget masyarakat Jepang pada tahun 2016. Selain itu, peran dari Permaisuri Jepang tentu mengundang perhatian publik, mengingat 2 Ratu terakhir diketahui pernah mengalami masa-masa sulit dan tertekan.

 

Tanggung Jawab Sebagai Penerus Keturunan Raja

Pergantian era kerajaan Jepang, tentu menyedot perhatian publik, baik internal maupun eksternal. Selain sosok dari Kaisar Naruhito, peran dari Permaisuri Owada Masako mendapat perhatian khusus dari masyarakat luas. Menurut Konstitusi Negeri Matahari Terbit, Kaisar Jepang merupakan simbol kenegaraan dan persatuan dari seluruh warga setempat. Sedangkan Permaisuri melambangkan sosok Ibu Negara, yang menghadirkan simbol ketentraman sosial masyarakat. Permaisuri seringkali menemani Kaisar menghadiri ragam kegiatan. Sosok Permaisuri Jepang merupakan lambing keheningan, jauh dari sikap yang temperamental dan sarat dengan kesopanan. Untuk menjadi sosok yang demikian sempurna, Permaisuri Jepang harus mengikuti aneka pelatihan ketat yang disediakan oleh Istana. Jadwal dan peraturan yang harus dijalani, menjadikan Permaisuri tertekan dan berbeda dari rakyat biasa.

Dua Permaisuri terakhir Jepang, yakni Michikio dan Masako memiliki banyak kesamaan. Namun dikarenakan kemampuan adaptasi yang tidak sama, mengakibatkan mereka memiliki pengalaman yang berbeda dalam menghadapi ragam norma kerajaan.


Foto keluarga kerajaan Jepang di awal tahun 2019. Permaisuri Owada Masako (kiri 1) dan Permaisuri Shoda Michiko (kanan 3).

 

Mertua dan Menantu yang Berasal dari Kalangan Rakyat Biasa

Kedua Ratu Jepang (Owada Masako dan Shoda Michiko) berasal dari kalangan rakyat biasa. Status mereka ini berbeda dengan ratu-ratu Jepang sebelumnya. Mereka masuk ke dalam keluarga kerajaan, dikarenakan rasa cinta terhadap sang suami, yang kebetulan memegang posisi raja.

Akihito merupakan Kaisar Jepang pertama yang menikah dengan kalangan biasa, menjadikan Shoda Michiko sebagai sosok pertama yang mematahkan tradisi kerajaan. Hal ini juga lah yang menyebabkan dirinya harus memperoleh tekanan luar biasa dari pihak istana.

Shoda Michiko merupakan siswa lulusan dari salah satu universitas ternama Jepang, yakni University of the Sacred Heart. Ia diketahui mahir bermain piano dan tenis. Media CNN mengutip pernyataan seorang jurnalis wanita Jepang, Yukiya Chikashige, mengemukakan pernikahan antar Akihiro dan Michiko berlangsung di saat Jepang hendak keluar dari masa kekalahan Perang Dunia 2 dan tengah memasuki era baru. Popularitas dari Shoda Michiko tidak jauh jika dibandingkan dengan Catherine Middleton dan Meghan Markle. Bahkan tidak sedikit yang berangappan bahwa Michiko memiliki reputasi yang sama dengan Lady Diana.

Kedekatan Akihiro dan Masako berawal dari hobi tenis.

Namun, Shoda Michiko yang tidak akrab dengan etiket keluarga kerajaan, harus mengalami tekanan yang berat saat memasuki istana. Tidak hanya para petinggi dari kalangan aristokrat, beberapa pelayan dalam istana, diketahui pernah bersikap kurang ramah terhadapnya. Rumor yang berkembang, bahwa Michiko di kala itu sempat dilecehkan oleh sang mertua, yakni Kaisar Hirohito dan Permaisuri Nagako. Shoda Michiko sempat menjadi lebih kurus dan sering terlihat murung. Ia diketahui sempat menderita gangguan fungsi bicara, menjadikannya enggan berkomunikasi dengan orang lain, selain suami dan putrinya.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

PerspektifBy Yunus Hendry, Rti