
Sign up to save your podcasts
Or


Owada Masako Pelajar Berprestasi dengan 3 Gelar Universitas Ternama Dunia
Owada Masako merupakan pelajar yang berprestasi. Ia diketahui lulus dari beberapa perguruan tinggi dunia, meliputi; Universitas Harvard, Universitas Tokyo dan Universitas Oxford. Ia mahir berbahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Rusia. Dahulu kala, Masako diketahui ingin menggeluti profesi di bidang diplomatik, mengingat kemampuan bahasanya yang mahir.
Hadirnya Masako dalam keluarga kerjaan, menjadikan dirinya dielu-elukan oleh warga Jepang. Masyarakat luas memandangya bagai “Lady Diana dari Jepang”. Pernikahannya dengan Kaisar Naruhito dianggap sebagai salah satu hari yang paling berbahagia di Jepang.
Seperti layaknya sang mertua, Masako yang awalnya memiliki kepribadian ceria dan mampu berpikir ataupun menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri, secara perlahan-lahan memikul tekanan dan tanggung jawab yang luar biasa. Sikapnya yang bertolak belakang dengan gaya keluarga aristrokrat, membuatnya dianggap sebagai sosok yang tidak paham etiket kerajaan. Larangan demi larangan menghampiri Masako, mulai dari berbicara di depan publik hingga bertemu dengan keluarga tercinta.
Wartawan Australia, Ben Hills, menjulukinya sebagai “Princess Masako : Prisoner of the Chrysanthemum Throne”. Ditambah lagi dengan tidak mampunya Masako melahirkan keturunan laki-laki dalam keluarga raja, menjadikannya lebih tertekan. Mengingat ketentuan kerajaan Jepang yang mengutamakan pewaris takhta laki-laki.
Owada Masako Simbol Wanita Jepang
Sang mertua Shado Michiko memahami betul situasi yang dialami menantunya tersebut. Ia pun memberikan perhatian hangat kepada Masako. Namun dikarenakan perbedaan karakter antar keduanya dan gagalnya Masako memberikan keturunan laki-laki bagi keluarga kerajaan, menjadikannya mengalami depresi. Pihak istana pernah mengumumkan bahwa Masako mengalami kesulitan dalam beradaptasi, namun dalam bukunya Ben Hills mengemukakan Owada Masako menderita depresi yang mendalam setelah menikah dengan Kaisar Naruhito.
Pada awalnya, masyarakat Jepang menaruh harapan besar bahwa Masako dapat membawa sedikit perubahan bagi sistem kerajaan Jepang. Mengingat latar belakang pendidikannya yang cukup baik dan kemampuan berbahasanya yang cukup mahir. Setelah kabar sakitnya beredar, sebagian warga merasa prihatin dan merasa Masako merupakan simbol akan sulitnya posisi kaum wanita dalam kehidupan sosial Jepang.
Dalam sebuah wawancara dengan Japan Times, Rika Kayama, seorang psikolog ternama Jepang mengemukakan ia banyak berjumpa dengan pasien wanita yang memiliki kemiripan kasus dengan Owada Masako. Banyak beberapa dari mereka memiliki tekanan yang serupa, yakni memiliki tanggung jawab untuk meneruskan keturunan dan membesarkan generasi berikutnya. Tidak jarang dari mereka yang juga harus terjun kembali ke dalam lingkungan pekerjaan. Di mata seorang Rika Kayama, sosok Owada Masako merupakan simbol kehidupan wanita Jepang.
Kesediaan Masako Memikul Tugas sebagai Permaisuri
Permaisuri Shoda Michiko seringkali menemani sang suami dalam aneka kegiatan. Selama Kaisar Akihiro berkuasa, Jepang diketahui sering dilanda bencana alam; misal gempa mematikan di Kobe dan di bagian timur Jepang. Tidak lama setelah gempa berlangsung, sang Kaisar dan Permaisuri kerapkali tiba dan mengunjungi para korban. Sikap hening Michiko yang setia menemani sang Kaisar, membuatnya dicintai oleh warga Jepang.
Sebaliknya, Masako juga diketahui sering menemani Naruhito berkunjung ke kamp pengungsi korban bencana alam. Namun demikian, dikarenakan kondisi fisiknya yang kurang memungkinkan, membuat Masako harus beristirahat di rumah selama 15 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Masako jarang terlihat di depan publik.
Pada perayaan ulang tahunnya ke 55 yang jatuh di bulan Desembar tahun 2018 lalu, Masako mengemukakan akan berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan kesehatannya. Mengingat kursi Raja akan jatuh ke tangan suaminya dan kesibukannya sebagai Permaisuri Raja, membuat ia harus lebih optimis.
Kehidupan Istana Kerajaan yang Tidak Mudah
Naotaka Kimizuka seorang pakar monarki Eropa dari Kanto Gakuin University mengemukakan jika seorang wanita memasuki keluarga kerajaan, maka seketika itu kebebasannya akan terampas. Tugas utama mereka adalah melahirkan penerus dan membesarkan keluarga raja. Teori ini tidak serta merta hanya berlaku di Istana Kerajaan Jepang, namun juga merata di seluruh Kerajaan Eropa.
Jika dibandingkan dengan kerajaan Britania Raya, keluarga Kerajaan Jepang terkenal lebih konservatif dan hati-hati. Istri pangeran dari kerajaan Britania Raya lebih memiliki sedikit kebebasan dalam mengatur waktu mereka, dan yang terpenting adalah mereka tidak memiliki tekanan berat untuk melahirkan anak laki-laki.
Dalam kurun 2 tahun terakhir ini, beberapa pakar mulai mengamati kemajuan dari kesehatan Owada Masako. Ia terlihat lebih sering muncul di acara-acara publik dan terkesan lebih aktif. Upacara penobatan sang suami menjadi peristiwa besar bagi warga Jepang, demikian juga dengan Owada Masako yang kini telah resmi menjadi Permaisuri yang akan siap menemani warga Jepang mengarungi masa-masa di depan mata.
By Yunus Hendry, RtiOwada Masako Pelajar Berprestasi dengan 3 Gelar Universitas Ternama Dunia
Owada Masako merupakan pelajar yang berprestasi. Ia diketahui lulus dari beberapa perguruan tinggi dunia, meliputi; Universitas Harvard, Universitas Tokyo dan Universitas Oxford. Ia mahir berbahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Rusia. Dahulu kala, Masako diketahui ingin menggeluti profesi di bidang diplomatik, mengingat kemampuan bahasanya yang mahir.
Hadirnya Masako dalam keluarga kerjaan, menjadikan dirinya dielu-elukan oleh warga Jepang. Masyarakat luas memandangya bagai “Lady Diana dari Jepang”. Pernikahannya dengan Kaisar Naruhito dianggap sebagai salah satu hari yang paling berbahagia di Jepang.
Seperti layaknya sang mertua, Masako yang awalnya memiliki kepribadian ceria dan mampu berpikir ataupun menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri, secara perlahan-lahan memikul tekanan dan tanggung jawab yang luar biasa. Sikapnya yang bertolak belakang dengan gaya keluarga aristrokrat, membuatnya dianggap sebagai sosok yang tidak paham etiket kerajaan. Larangan demi larangan menghampiri Masako, mulai dari berbicara di depan publik hingga bertemu dengan keluarga tercinta.
Wartawan Australia, Ben Hills, menjulukinya sebagai “Princess Masako : Prisoner of the Chrysanthemum Throne”. Ditambah lagi dengan tidak mampunya Masako melahirkan keturunan laki-laki dalam keluarga raja, menjadikannya lebih tertekan. Mengingat ketentuan kerajaan Jepang yang mengutamakan pewaris takhta laki-laki.
Owada Masako Simbol Wanita Jepang
Sang mertua Shado Michiko memahami betul situasi yang dialami menantunya tersebut. Ia pun memberikan perhatian hangat kepada Masako. Namun dikarenakan perbedaan karakter antar keduanya dan gagalnya Masako memberikan keturunan laki-laki bagi keluarga kerajaan, menjadikannya mengalami depresi. Pihak istana pernah mengumumkan bahwa Masako mengalami kesulitan dalam beradaptasi, namun dalam bukunya Ben Hills mengemukakan Owada Masako menderita depresi yang mendalam setelah menikah dengan Kaisar Naruhito.
Pada awalnya, masyarakat Jepang menaruh harapan besar bahwa Masako dapat membawa sedikit perubahan bagi sistem kerajaan Jepang. Mengingat latar belakang pendidikannya yang cukup baik dan kemampuan berbahasanya yang cukup mahir. Setelah kabar sakitnya beredar, sebagian warga merasa prihatin dan merasa Masako merupakan simbol akan sulitnya posisi kaum wanita dalam kehidupan sosial Jepang.
Dalam sebuah wawancara dengan Japan Times, Rika Kayama, seorang psikolog ternama Jepang mengemukakan ia banyak berjumpa dengan pasien wanita yang memiliki kemiripan kasus dengan Owada Masako. Banyak beberapa dari mereka memiliki tekanan yang serupa, yakni memiliki tanggung jawab untuk meneruskan keturunan dan membesarkan generasi berikutnya. Tidak jarang dari mereka yang juga harus terjun kembali ke dalam lingkungan pekerjaan. Di mata seorang Rika Kayama, sosok Owada Masako merupakan simbol kehidupan wanita Jepang.
Kesediaan Masako Memikul Tugas sebagai Permaisuri
Permaisuri Shoda Michiko seringkali menemani sang suami dalam aneka kegiatan. Selama Kaisar Akihiro berkuasa, Jepang diketahui sering dilanda bencana alam; misal gempa mematikan di Kobe dan di bagian timur Jepang. Tidak lama setelah gempa berlangsung, sang Kaisar dan Permaisuri kerapkali tiba dan mengunjungi para korban. Sikap hening Michiko yang setia menemani sang Kaisar, membuatnya dicintai oleh warga Jepang.
Sebaliknya, Masako juga diketahui sering menemani Naruhito berkunjung ke kamp pengungsi korban bencana alam. Namun demikian, dikarenakan kondisi fisiknya yang kurang memungkinkan, membuat Masako harus beristirahat di rumah selama 15 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Masako jarang terlihat di depan publik.
Pada perayaan ulang tahunnya ke 55 yang jatuh di bulan Desembar tahun 2018 lalu, Masako mengemukakan akan berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan kesehatannya. Mengingat kursi Raja akan jatuh ke tangan suaminya dan kesibukannya sebagai Permaisuri Raja, membuat ia harus lebih optimis.
Kehidupan Istana Kerajaan yang Tidak Mudah
Naotaka Kimizuka seorang pakar monarki Eropa dari Kanto Gakuin University mengemukakan jika seorang wanita memasuki keluarga kerajaan, maka seketika itu kebebasannya akan terampas. Tugas utama mereka adalah melahirkan penerus dan membesarkan keluarga raja. Teori ini tidak serta merta hanya berlaku di Istana Kerajaan Jepang, namun juga merata di seluruh Kerajaan Eropa.
Jika dibandingkan dengan kerajaan Britania Raya, keluarga Kerajaan Jepang terkenal lebih konservatif dan hati-hati. Istri pangeran dari kerajaan Britania Raya lebih memiliki sedikit kebebasan dalam mengatur waktu mereka, dan yang terpenting adalah mereka tidak memiliki tekanan berat untuk melahirkan anak laki-laki.
Dalam kurun 2 tahun terakhir ini, beberapa pakar mulai mengamati kemajuan dari kesehatan Owada Masako. Ia terlihat lebih sering muncul di acara-acara publik dan terkesan lebih aktif. Upacara penobatan sang suami menjadi peristiwa besar bagi warga Jepang, demikian juga dengan Owada Masako yang kini telah resmi menjadi Permaisuri yang akan siap menemani warga Jepang mengarungi masa-masa di depan mata.