Untuk memahami lebih lengkap mengenai hal “berdamai dengan Allah,” kita harus memahami pengertian kata “damai.” Kata “damai” bisa memiliki banyak arti. Pertama, sebuah keadaan tenang, biasanya menunjuk tempat yang tidak ada kegaduhan, tempat di mana tidak ada keributan, tidak ada perang, tidak ada perselisihan; keadaan aman, tidak ada ancaman. Kedua, damai juga sering menggambarkan atau menunjuk keadaan emosi yang tidak bergejolak negatif dalam diri seseorang. Karenanya, kata “damai” selalu berkoresponden dengan kata “kebahagiaan” dan “kesejahteraan hidup.” Apa yang dimaksud dengan “perdamaian?” Perdamaian biasanya digunakan untuk menunjuk kepada usaha untuk mengakhiri sebuah perselisihan, mengakhiri sebuah perang, mengakhiri sebuah persaingan untuk saling menjatuhkan, mengakhiri konflik, mengakhiri satu kepentingan, dan mengakhiri sebuah perdebatan atau adu argumentasi.
Di dalam perdamaian, ada langkah kompromi untuk mengakhiri sebuah permasalahan antara dua atau lebih dari pihak yang sedang berselisih atau tidak rukun, yaitu pihak-pihak yang sebelumnya saling merugikan atau menyakiti. Dalam perdamaian, ada usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi tuntutan atas pihak tertentu, sehingga tidak ada pihak yang merasa tertekan atau disakiti. Definisi yang dikemukakan di atas adalah definisi “perdamaian” secara umum. Lalu, bagaimana dengan perdamaian dalam konteks hubungan antara Allah dan manusia?
Hubungan Allah dan manusia telah rusak, disebabkan karena manusia tidak melakukan apa yang patut, sehingga manusia merusak keadaannya. Fragmen dari pemberontakan manusia ialah ketika manusia tidak menuruti apa yang dinasihatkan oleh Allah kepada mereka: “jangan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat ini.” Ketidaktaatan manusia kepada Allah merupakan pemberontakan manusia kepada Allah, sehingga menempatkan manusia sebagai musuh Allah. Hal itu menyakitkan hati Allah. Keadaan manusia menyakiti hati Allah, karena manusia tidak berkeadaan sesuai dengan rancangan Allah semula yang membuat manusia tidak bisa bersekutu dengan Allah.
Sebagai ilustrasi, ada orangtua yang gagal membesarkan anak, atau karena memang anak tidak mau dididik. Hati orangtua didukakan, bukan saja ketika melihat kelakuan salah dari anak tersebut, melainkan juga melihat seluruh keberadaan dari anak itu. Keadaan anak tersebut tidak membuat orangtua bisa bersekutu atau berdamai dengan anak. Ilustrasi yang lain, ada seorang pimpinan yang berharap orang kepercayaannya bisa dipercayai untuk melakukan suatu tugas, tapi ternyata ia tidak melakukannya dan tidak mampu melakukannya. Hal itu menghilangkan kesempatan untuk bisa bekerja sama dengan orang kepercayaan tersebut. Keadaan ini menyakiti hati pimpinan. Apalagi kalau orang kepercayaan pimpinan tersebut adalah anak kandung atau saudara, maka akan lebih menyakitkan hati atau mendukakannya.
Keadaan manusia yang telah rusak, dikatakan oleh Paulus dalam Roma 3:23 sebagai “kehilangan kemuliaan Allah.” Manusia berkeadaan tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Manusia telah menjadi manusia yang tidak lagi sesuai standar Allah. Kalau ada SNI (Standar Nasional Indonesia), maka ada pula ada SKA (Standar Kerajaan Allah). Dengan keadaan manusia yang tidak sesuai dengan SKA atau standar yang Allah rancang—karena manusia tidak taat kepada Allah yang pada mulanya dimulai oleh Adam—manusia bukan saja memosisikan diri sebagai musuh Allah, melainkan juga berkeadaan tidak dapat berdamai dengan Allah dalam persekutuan yang ideal. Allah yang baik, Allah mau mengadakan rekonsiliasi dengan manusia. Allah yang memprakarsai ini dengan memberi jalan pendamaian. Jalan itu adalah pengurbanan Putra Tunggal-Nya dan penggarapan atas manusia, agar manusia bisa berkeadaan dapat bersekutu dengan Allah.
Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “jangan membanggakan atau memegahkan diri, kamu diselamatkan bukan karena perbuatan melainkan karena iman.