Banyak orang, termasuk orang Kristen, yang semakin konsumeristis. Banyak faktor penyebabnya, di antaranya media iklan dan promosi yang sangat memikat. Berbagai media telah menjadi “kendaraan iklan.” Banyak orang menjadi serakah, selalu ingin memiliki apa yang ditawarkan oleh dunia dengan menjanjikan kepuasan-kepuasan jiwa. Banyak orang hanyut oleh gairah untuk memiliki apa yang orang lain miliki. Hal ini berjangkit hampir kepada semua orang, termasuk orang-orang Kristen, bahkan para rohaniwannya. Inilah yang dimaksudkan oleh Yohanes dalam tulisannya sebagai “keinginan mata” (1Yoh. 2:16). Pola hidup seperti ini tentu juga memengaruhi pola berpikir banyak orang percaya. Hal ini terbukti dengan kenyataan adanya orang Kristen yang memenuhi dirinya dengan berbagai fasilitas hidup yang tidak berguna untuk pelayanannya bagi Tuhan, dan hanya untuk citra diri di mata manusia atau kebanggaan. Alkitab menyebut ini sebagai “keangkuhan hidup.” Semua fasilitas yang diperjuangkan untuk dapat diraih dan dimiliki, pada dasarnya hanya untuk kenyamanan hidup secara duniawi. Padahal, Yesus tegas mengatakan bahwa hidup manusia tidaklah tergantung oleh kekayaan (Luk. 12).
Yesus menyatakan bahwa serigala memiliki liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yesus sendiri tidak menuntut kesenangan atau kenyamanan hidup. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya harus berani menderita seperti yang dialami oleh Yesus (Rm. 8:17). Dengan demikian, bukan berarti hidup orang percaya menjadi tidak nyaman. Kenyamanan hidup bukanlah ditentukan oleh fasilitas materi dunia dan hiburannya, melainkan suasana jiwa. Untuk ini, Yesus menjanjikan damai sejahtera yang melampaui segala akal untuk mengawal hidup kita.
Paulus sebagai pengikut Yesus, juga memiliki pola pelayanan yang sama dengan Tuannya. Dalam kesaksiannya, ia berkata, “Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku… bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun… Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” Pola hidup seperti Paulus inilah yang harus menjadi standar pelayanan pemimpin rohani sepanjang zaman, yang pada dasarnya mengacu pada pelayanan Yesus Kristus, yaitu sebuah pelayanan yang disertai kerelaan untuk tidak menikmati kesenangan hidup.
Kalau ditinjau dari pola hidup masyarakat pada zamannya, kehidupan Yesus bisa dipandang tidak normal. Hal ini dimulai ketika Yesus berusia 12 tahun. Anak-anak seusia ini biasanya masih hanyut dengan berbagai kesenangan anak-anak. Tetapi, Yesus pada usia tersebut sudah sangat giat belajar Taurat melampaui anak-anak lain. Karena kemampuan-Nya yang luar biasa memahami Taurat, Ia bisa bersoal jawab dengan para ahli-ahli kitab atau teolog-teolog Yahudi. Dalam peristiwa di Bait Allah tersebut, orang-orang kagum terhadap kecerdasan-Nya (Luk. 2:46-47). Peristiwa ini memberi pesan jelas bahwa sejak kanak-kanak, Yesus telah memiliki kehidupan yang tidak sama dengan anak-anak lain. Bisa diduga secara logis, bahwa hari-hari hidup Yesus sangat giat belajar Taurat lebih dari anak-anak sebaya-Nya.
Dalam masyarakat Israel, memang pengajaran Taurat diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Tetapi, “Pribadi” Yesus ini berbeda dengan anak-anak yang lain. Dari hal ini, kita menangkap satu pesan, bahwa Tuhan Yesus sudah menyadari panggilan-Nya sebagai Anak Allah yang harus melakukan kehendak Bapa di surga. Hal ini menginspirasi kita agar juga berani mengajarkan kebenaran kepada anak-anak, agar sejak dini mereka sudah mengerti panggilannya sebagai anak-anak Allah.
Sebagai pria yang normal pada umumnya, usia 30 tahun sudah menikah dan hidup berumah tangga. Biasanya,