Salah satu penyebab mengapa orang tidak merindukan surga adalah karena ia tidak menikmati suasana surga sejak hidup di bumi. Dulu ada lagu yang kalimatnya: “Suasana surga turunlah.” Lagu itu sering dinyanyikan pada tahun 1970-1980an. Suasana surga artinya apa? Suasana surga adalah suasana kehadiran Tuhan dalam hidup seseorang dimana orang itu bisa menikmati damai sejahtera Allah. Masalahnya adalah bagaimana orang bisa menikmati Allah yang tidak kelihatan dan bisa menikmati damai sejahtera-Nya? Ini rahasianya. Orang yang menikmati atmosfer Kerajaan Allah adalah orang yang tidak membutuhkan apa-apa dan tidak membutuhkan siapa-siapa selain Tuhan. Sukacitanya ditopang oleh kerinduannya untuk menyukakan hati Allah dan bisa merasakan hadirat Tuhan setiap saat. Di situ orang baru bisa merasakan atmosfer Kerajaan Allah atau suasana surga. Kalau seseorang memiliki suasana jiwa yang sukacitanya ditopang oleh uang, fasilitas dunia atau materi, pujian, sanjungan, kehormatan manusia, kedudukan, dan lain sebagainya, maka tidak ada atmosfer Kerajaan Allah yang hadir.
Seseorang bisa merasakan atmosfer Kerajaan Allah kalau ia sudah benar-benar tidak mengharapkan kebahagiaan apa-apa dari dunia ini. Memang hal ini sulit sekali dialami oleh orang-orang muda. Bahkan, orang tua-orang tua pun sulit bisa merasakan dan mengalami hal ini kalau mereka belum patah hati terhadap dunia. Kita harus melihat realitas kalau dunia memang tidak membahagiakan. Kalaupun memberikan kesenangan, itu adalah kesenangan sementara, kesenangan semu, dan orang percaya pun tidak bisa merasakan kebahagiaan kalau melihat orang lain menderita. Ketika seseorang melihat tragisnya hidup ini dan melihat—apalagi mengalami tragisnya hidup seperti ditinggal oleh orang yang dicintai, dikhianati orang yang dicintai, ditipu, selalu ditindas, selalu diperlakukan tidak adil, gagal dalam banyak hal—maka orang-orang seperti ini berpotensi memindahkan hatinya ke Kerajaan Surga. Hal ini berpotensi untuknya merasakan kehadiran Allah, yaitu jika dia berhenti mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Tetapi orang-orang seperti ini juga berpotensi menoleh ke belakang kalau tidak dewasa dalam arti matang rohaninya. Ada peluang untuk menoleh ke belakang.
Oleh sebab itu, dalam suasana dimana seseorang merasa gagal, tertindas, tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari dunia ini, justru ia harus belajar kebenaran dengan tekun, berkomitmen dengan bulat meninggalkan dunia, dan memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Dan harus diketahui juga, suasana hidup yang dialami itu pun harus diterima sebagai anugerah, jangan merasa malang. Jangan pernah bertanya: “mengapa orang lain tidak mengalami seperti yang aku alami?” Seakan-akan kita memang orang yang dilukai oleh Allah. Sebenarnya, di balik semua yang diizinkan Allah terjadi dan berlangsung dalam hidup kita, terdapat berkat kekal. Ketika seorang wanita dikhianati oleh seorang pria sehingga dia patah hati, dia tidak mau lagi berhubungan dengan pria-pria lain, bahkan ia tidak mau menikah. Dia pikir semua pria sama seperti laki-laki yang mengkhianatinya. Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang sampai bunuh diri, karena tidak ada yang diharapkan lagi dari dunia, sebab kebahagiaannya hanya tertuju pada pria itu. Sekarang dirinya dikhianati, sehingga dia tidak lagi memiliki seseorang yang menyayanginya dan didamba.
Situasi hidup seseorang yang seperti itu—gagal dalam karier, gagal studi, dikhianati orang, selalu tertindas, dan lain-lain—bisa mengondisi dia untuk bunuh diri. Tapi, yang kita bunuh bukan diri kita. Yang kita bunuh adalah semua hasrat yang ada dalam diri kita untuk menikmati dunia ini, kita gantikan untuk menikmati Tuhan dan Kerajaan-Nya saja. Kita harus berkomitmen memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan itu efektif sekali. Situasi itu sangat kondusif untuk membuat kita memindahkan hati di Kerajaan Allah. Kita harus merasa bahwa kita adalah orang yang istimewa. Kalau mengalami hal ini, berarti kita adalah orang yang istimewa; kita ...