panggilan agar orang percaya memiliki hubungan yang benar-benar intim, eksklusif, dan konkret dengan Dia. Satu hal yang sukar dipahami, terjadinya pergeseran-pergeseran dari kekristenan yang sejati menjadi kekristenan yang kosong, sehingga banyak orang beragama Kristen, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Ironisnya, jiwa mereka tidak merasa terganggu. Mereka merasa sejahtera dengan kekristenan yang palsu tersebut. Hal ini yang mengondisi banyak orang Kristen hidup dalam kewajaran anak dunia. Keadaan ini sebenarnya bisa menggagalkan proses keselamatan yang dimiliki seseorang, bahkan bisa menjerumuskannya ke dalam api kekal; artinya, jangankan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, menjadi anggota masyarakat saja tidak.
Kekristenan adalah pengalaman berjalan dengan Allah. Alkitab harus menjadi sarana komunikasi kita dengan Allah dalam pimpinan Roh Kudus. Alkitab dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan Allah, kalau seseorang hidup dalam pimpinan Roh Kudus, dalam kerendahan hati, hidup dalam kesucian, dan tidak mencintai dunia. Jika tidak, Alkitab hanya menjadi sumber pengetahuan mengenai Allah dalam asumsi dan premis-premis manusia yang tidak berkuasa mengubah karakternya. Hal ini tidak berbeda dengan orang yang mempelajari ilmu agama. Kesombongan banyak teolog karena merasa dengan rasionya ia dapat menalar Allah dalam Alkitab dengan mudah. Berhubung merasa diri sebagai seorang akademisi, maka dengan percaya diri, ia merasa mampu memahami isi Alkitab berdasarkan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis. Tentu saja kita membutuhkan alat untuk memahami Alkitab—yaitu hermeneutik dan eksegesis—tetapi harus disertai pimpinan Roh Kudus, kerendahan hati, hidup dalam kesucian, dan tidak mencintai dunia.
Banyak orang menjadikan Alkitab hanya sebagai objek eksplorasi dalam dunia akademis tanpa berdampak dalam kehidupan secara konkret, yaitu untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Bahkan ironisnya, menjadi penghalang perjumpaan dengan Allah secara konkret. Dalam hal ini, pengalaman yang harusnya terbangun antara setiap individu dengan Allah, Bapanya, telah digeser dengan nalar yang membangun rumusan-rumusan tentang Allah dan doktrin-doktrin serta pengajaran-pengajaran yang didasarkan hanya oleh asumsi-asumsi dan premis-premis pikiran manusia. Keadaan ini menjadi penyebab hancurnya kekristenan di negara-negara Barat. Fakta ini tidak dapat dibantah.
Tentu kita tidak antidoktrin atau sistematika teologi. Gereja membutuhkan doktrin yang sehat, harus ada pengajaran yang benar. Tetapi di lain pihak, harus juga ada pengalaman yang konkret dengan Allah, sebab Dia adalah Allah yang hidup dan nyata. Biasanya, dalam lingkungan akademis atau di lingkungan para teolog yang menekankan rasio saja, subjektivitas dianggap sebagai ancaman terhadap kebenaran. Mereka selalu memandang subjektivitas dari pengalaman pribadi sebagai hal yang negatif. Padahal, mestinya kita tidak boleh selalu bersikap negatif terhadap subjektivitas dari pengalaman seseorang.
Sebagai ilustrasi, adalah sesuatu yang subjektif kalau seseorang menceritakan mengenai istrinya dan pandangan-pandangannya mengenai istrinya tersebut. Menceritakan tentang istri dari perspektifnya, tentu adalah sesuatu yang subjektif. Tetapi harus diingat, bahwa istri orang tersebut benar-benar ada. Orang tidak belajar tentang siapa istrinya, tapi dari perjumpaan dengan istrinya setiap hari, ia mengenal siapa dan bagaimana istrinya tersebut. Ini kemungkinan adalah subjektivitas yang benar. Dan kalau kita percaya Allah itu hadir di dalam dan melalui Roh Kudus yang dimeteraikan dalam diri kita, Allah pasti menuntun dan membimbing kita dalam segala hal. Maka, kita pasti dapat bersentuhan dengan Dia secara konkret (Ef. 1:13; Rm. 8:28-29).
Allah adalah Allah yang hidup dan nyata. Tentu Allah yang benar harus dialami secara konkret, bukan hanya dipercakapkan secara lisan dan dalam tulisan. Pengalaman individu dengan Allah, pasti subjektif.