
Sign up to save your podcasts
Or


Mencari nafkah untuk keluarga adalah suatu kewajiban penting bagi seorang kepala rumah tangga, tapi bukan kewajiban yang paling penting
Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu, tapi tentang siapa yang menurut Allah lebih siap dalam menjalani the next chapter in life
Dulu, aku mengira mereka terlalu berlebihan dalam beragama. Tetapi ternyata setelah aku belajar, akulah yang terlalu cinta dunia ini.
Padahal ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan antara yang hak dan yang batil sesungguhnya ketaatan kita sedang diuji. Apakah kita tersandera oleh perasaan kita sendiri ataukah kita mampu mendobraknya dan mengedepankan akal yang kita punya?
Sejatinya Allah telah menganugerahkan akal untuk berpikir tentang sebuah kebenaran. Lantas, mengapa kita memandulkannya dengan perasaan kita sendiri?
-muslimahtimes.com
Al-Buhuti mengatakan:
“Syarat dalam nikah adalah syarat karena tujuan tertentu yang diajukan salah satu pihak, calon suami atau istri kepada yang lain ketika akad. Waktu yang ternilai untuk pengajuan syarat itu adalah ketika akad. Misalnya, pihak wali mengatakan: “Saya nikahkan Anda dengan putriku fulanah dengan syarat berikut.” Kemudian pihak suami menerimanya. Demikian pula ketika kedua calon membuat kesepakatan syarat tertentu sebelum akad nikah.” (Kassyaful Qana’, 5:91)
Imam Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Ketahuilah bahwa persyaratan yang diajukan dalam nikah hanya ternilai ketika bersamaan dengan akad nikah atau sebelum akad nikah. Bukan menyusul (setelah) akad nikah.” (Asy-Syarhul Mumthi’, 12:163).
"Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results". Kalau cara kita sudah terbukti gagal berkali-kali, lalu kenapa tidak coba menggunakan cara yang Allah tetapkan?
Gimana bisa kita menikah sama orang yang hanya beberapa bulan kita kenal? Doesn't make sense. Nggak masuk akal atau kita yang belum cukup menggunakan semua akal kita untuk mempelajari syariat ini?
Di dalamnya disebutkan : “Istikharah itu tidak bisa dilakukan pada saat ragu-ragu, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
Dan jika seorang muslim merasa ragu dalam suatu hal, maka hendaklah dia memilih salah satu dari kedua hal tersebut dan memohon petunjuk dalam menentukan pilihan tersebut. dan setelah istikharah, dia biarkan semua berjalan apa adanya. Jika baik, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan padanya dan memberikan berkah kepadanya dalam hal tersebut. Dan jika tidak, mudah-mudahan Dia memalingkan dirinya dari hal tersebut serta memudahkan kepada yang lebih baik dengan seizin-Nya yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
Menyalahkan orang lain adalah cara yang termudah dan tercepat saat terjadi suatu masalah. Tapi ketika 1 jari menunjuk seseorang, kemana sisa jari lainnya mengarah?
Kita selalu diajarkan supaya jangan menjadi manusia yang egois. Untuk mendahulukan kepentingan orang lain lebih dulu, bahkan harus rela berkorban demi kebaikan bersama. Tapi mereka lupa mengajarkan bahwa sifat egois, tidak selamanya menjadi sesuatu yang buruk.
From the publisher's feed