
Sign up to save your podcasts
Or


Bincang2 dengan Ayu, warga Kampung Banyu Urip Lor (seri ke-2)
Senin, 10 Januari 2021
Anitha Silvia dan Hilman Prakoso berkunjung ke rumah Ibu Umi di Jalan Kampung Banyu Urip Lor. Umi bercerita mengenai kenangannya tinggal di Kampung Wonokitri, kemudian selalu berpindah-pindah meskipun masih di dalam satu kelurahan. Sebagai kontraktor (Umi menyebut dirinya sebagai kontraktor, orang yang mengontrak rumah), Umi berbagi cerita mengenai pengalaman tiga tahun tinggal di Kampung Banyu Urip Lor.
Senin, 10 Januari 2021
Anitha Silvia dan Hilman Prakoso naik angkot lyn I dari persimpangan Balongsari, turun di muka gang Banyu Urip Lor III, berjalan kaki ke arah barat melewati banyak gang menuju Kali Banyu Urip Lor. Kami janjian bertemu Ayu Rosyidah di warung di gang Banyu Urip Lor X, persis baratnya sungai. Sambil minum jamu dari bakul jamu Ibu Sugiyem, nyamil pastel yang masih hangat, dan ketan bungkus daun pisang, kami ngobrol dengan Ayu tentang Kampung Wonokitri, rumah masa kecilnya.
Januari 2021 adalah bulan terakhir Ayu tinggal di Jalan Banyu Urip Lor gang I, minggu depan ia akan pindah ke Jakarta Selatan, sementara keluarganya akan pindah ke Sukodono-Sidoarjo.
Tiga perempuan naik angkot Lyn N jurusan JMP. Berjalan kaki di sepanjang Jalan Panggung dan ngopi di warkop Cak Muhari di depan Hotel Kemajuan.
Jumat, 17 Desember 2021
Senin, 29 November 2021, pukul 07.15
Saya janjian dengan Fiky dari Reading Sideways Press untuk minum kopi di warkop Sederhana di kawasan pasar Pacar Keling.
Sambil menunggu Fiky datang, saya sarapan sego pecel dan kopi hitam sambil ngobrol dengan pengunjung, seorang pemilik salon kecantikan di Jalan Jagiran 22, tidak jauh dari pasar Pacar Keling.
Warkop Sederhana menyajikan minuman kopi panas dan sego pecel mulai pukul 05.00 sampai habis (biasanya sego pecel ludes terjual pukul 09.00). Warkop Sederhana dikelola oleh seorang perempuan, Mak Ni, dibantu oleh anak laki-lakinya, Mas Agung.
-anithasilvia
Surabaya, 15 Desember 2020
Lewat jam 10 pagi, kelompok pelanggan pekerja infrastruktur gorong-gorong berdatangan ke warkop Beki di Jalan dr Wahidin. Mereka memesan es susu kedelai seharga 3000 rupiah.
Pasar Karang Menjangan menjelang jam 9 pagi. Beberapa pria mengangkat meja-meja pedagang dan menyimpannya di balai RW VII. Ibu Guwuk dengan cekatan dan jantung yang berdegup mengingat SATPOL PP sudah datang.
Surabaya, 12 Desember 2020
#mblaelopasar #openairmarkets
Ibu Guwuk menjual nasi sambal ikan lele, ikan mujaer, tahu dan tempe di pasar Karang Menjangan. Mencari makan dengan memasak sejak usia belasan tahun, Ibu Guwuk bersiasat untuk tetap meraih pelanggan di masa yang singkat, pengurangan jam operasional pasar terbuka di Jalan Karang Menjangan ini, dari jam 10 pagi menjadi jam 8 pagi.
Surabaya, 12 Desember 2020
#mbalelopasar #openairmarkets
“Ini opo sing iso ditabung, pasarnya sepi.”
Per 17 Juni 2020, lebih dari 150 pedagang pasar tumpah Tembok mulai menjadi anggota Koperasi Sugeng Rawuh yang mengambil peran sebagai paguyuban pedagang, bekerja sama dengan RW VIII Kelurahan Tembok Dukuh. Bersama Nurul, petugas Koperasi Sugeng Rawuh, kami menyusuri pasar tumpah Tembok pasca-jam 6 pagi, setelah SATPOL PP menyisir Jalan Tembok Dukuh dari pedagang.
Surabaya, 5 Desember 2020
Surabaya, 10 Desember 2020
Mbak Har adalah pedagang terlama di pasar terbuka di Jalan Padmosusastro, sudah lebih dari 35 tahun. Mbak Har mengikuti jejak orang tuanya menjadi pedagang sayur di pasar ini. Mbak Har menggunakan keranjang dan tempeh untuk menjajakan sayur dan ikan asin. Selepas kulakan di pasar Keputran Utara jam 2 pagi, Mbak Har langsung menyiapkan dagangan di trotoar jalan, tepat di depan rumah Ibu Ina yang menjual peyek grago. Tepat jam 10 siang, anak lelakinya datang membantu membereskan dagangan, lalu Mbak Har pulang ke rumahnya berjalan kaki di Kampung Kembang Kuning.
#mbalelo pasar #pasarterbuka #surabaya
From the publisher's feed