Alkitab mencatat saat-saat berbahaya ketika manusia hendak jatuh dalam dosa sebagai berikut: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya” (Kej. 3:6). Seharusnya, manusia cukup berkata “tidak” dengan tegas tanpa ragu sama sekali terhadap yang Allah sabdakan. Hawa telah meragukan Allah, sehingga Hawa meluangkan waktu untuk melihat buah tersebut. Ini adalah tindakan bodoh yang mengawali kejatuhannya ke dalam dosa atau pemberontakannya kepada Allah, yaitu dengan melihat buah pohon itu dan mulai mempertimbangkan bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan. Tertulis dalam Kejadian 3:6 terdapat kalimat: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan.” Seharusnya Hawa tidak perlu mempertimbangkan sama sekali apa yang dikatakan ular, artinya harus memiliki resistensi yang absolut, mutlak, dan radikal.
Menjadi persoalan yang harus kita perkarakan adalah bagaimana Hawa bisa tahu bahwa buah itu baik untuk dimakan. Tentu hal ini akibat input atau masukan dari ular yang telah didengarnya. Ular berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:5). Apa yang dikatakan ular merupakan kebalikan dari firman Allah, yaitu bahwa kalau Adam dan Hawa makan buah yang dilarang Allah, maka mereka akan mati. Perkataan ular di atas benar-benar perkataan yang bertentangan dengan Allah. Mestinya Hawa tidak mempertimbangkannya sama sekali. Mempertimbangkan perkataan kuasa gelap berarti memberi penghargaan kepadanya, dan hal ini menjadi pintu gerbang kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Ketika Hawa mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh ular, maka pertimbangan itu melahirkan keinginan untuk mencoba melakukan sesuatu, walaupun bertentangan dengan kehendak Allah. Kemudian Kejadian 5:6 menulis “sedap kelihatannya.” Dengan melihat, maka buah yang terlarang itu menjadi “sedap” di mata Hawa. Kata “sedap” dalam teks aslinya adalah ta’avah (תַּאֲוָה) yang artinya lust, appetite, covetousness (membangkitkan nafsu, selera, dan keserakahan, atau hasrat ingin memiliki). Dari hal ini, dapat diperoleh pelajaran bahwa sebelum sesuatu dapat dinikmati oleh fisik, terlebih dahulu dinikmati oleh pikiran. Jadi benarlah bahwa pikiran adalah gerbang pertama dosa masuk, yang juga menjadi medan atau area peperangan rohani.
Selanjutnya, buah dari pohon tersebut “menarik hati karena memberi pengertian.” Mengapa sampai bisa menarik hati? Kata “tertarik” dalam teks aslinya adalah chamad (חמד) yang artinya to desire, covet, take pleasure in, delight in (mengingini dengan kuat, mendambakan, bersenang-senang dengan). Hal ini menunjukkan bentuk atau suasana jiwa yang kecanduan sesuatu. Kemudian timbulah hasrat yang kuat untuk memilikinya dan berpikir bahwa itu memberi pengertian. Ini sebuah penyesatan yang sukses dari setan kepada manusia. Setan membuat manusia tertarik hatinya. Berbicara mengenai kecanduan atau addicted, bukan hanya terkait dengan alkohol atau zat adiktif lainnya, melainkan juga sesuatu di dalam pikiran yang dipandang sebagai kenikmatan atau kesenangan.
Hal ini memberi pelajaran mahal kepada kita, bahwa kita harus mendengar apa yang difirmankan Allah dan tidak mempertimbangkan sama sekali apa yang ditawarkan dunia. Dengan resistensi mutlak tersebut, seseorang tidak memberi ruangan sekecil apa pun untuk suara lain. Inilah bagian dari langkah meninggalkan dunia atau tidak menoleh ke belakang atau tidak berpaling kepada dunia. Sebenarnya, inilah fanatisme mutlak kepada Allah. Hanya dengan sikap inilah kita dapat menghadapi dunia yang pengaruhnya sangat kuat dewasa ini. Inilah juga yang dimaksud oleh Yohanes dalam suratnya mengenai keingina...