Tidak ada hal yang lebih bernilai dalam hidup ini kecuali takut akan Allah. Dalam Doa Bapa Kami, kita diajar untuk takut akan Allah, sebab tidak mungkin orang bisa mengucapkan Doa Bapa Kami secara benar dengan hati yang tidak takut akan Allah. Tentu takut akan Allah di sini dibangun dari perasaan hormat dan mengasihi Allah, sehingga ketika memanggil Allah sebagai Bapa, pasti dilakukan dengan sikap hati yang benar. Dalam hal ini, sikap hati sangat menentukan kualitas dari Doa Bapa Kami yang diucapkan seseorang. Memang pada kenyataannya, banyak orang yang bisa mengucapkan Doa Bapa Kami begitu lancar tetapi tidak memiliki sikap hati yang benar. Tentu saja yang bisa mengetahui hal ini hanyalah Tuhan. Tetapi, setiap kita harus bisa mengenali diri kita sendiri: Apakah kita sungguh-sungguh memiliki sikap hati yang benar yang membuat kita dapat mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami dengan benar, sesuai dengan kehendak Allah?
Hanya orang yang takut akan Allah, yang dapat mengucapkan Doa Bapa Kami dengan benar. Takut akan Allah harus dibangun dari kehidupan setiap hari, melalui berbagai pengalaman yang riil dengan Allah. Jika tidak, maka takut akan Allah yang dimiliki hanya fantasi belaka. Orang-orang yang memiliki sikap takut akan Allah hanya di dalam fantasi, tidak akan pernah memiliki ketaatan yang berkualitas. Pada saat-saat tertentu, orang seperti ini akan mudah berbuat dosa, atau tidak memedulikan perasaan Allah. Orang Kristen yang belum memiliki pengalaman yang cukup dengan Allah, tentu belum bisa menghayati perasaan Allah. Tidak heran, kalau mereka bisa bersikap semena-mena terhadap perasaan Allah. Tetapi dalam kesabaran, Allah bisa mengerti dan menerimanya. Namun keadaan ini tidak boleh berlarut-larut. Orang Kristen tersebut harus bertumbuh dewasa dan bisa memiliki hati yang takut akan Allah secara benar.
Seiring dengan perjalanan waktu ketika seseorang semakin dewasa dan memiliki hati yang takut akan Allah secara benar—yaitu takut akan Allah yang didasarkan pada sikap hormat dan mengasihi Allah—maka kualitas Doa Bapa Kami yang diucapkan juga semakin meningkat. Idealnya, semakin berumur atau semakin tua usia seseorang, kualitas Doa Bapa kami yang diucapkan semakin tinggi. Ini berarti Doa Bapa Kami yang diucapkan juga diselenggarakan dalam kehidupan secara konkret. Harus selalu diingat, bahwa Doa Bapa kami bukan hanya sebuah format kalimat doa, melainkan format kehidupan yang harus diselenggarakan.
Dalam fakta kehidupan, kita dapat menjumpai orang-orang yang semakin tua bukannya semakin takut akan Allah, tetapi semakin hidup sembarangan. Hal ini tampak dari perilaku hidupnya setiap hari. Sangat menyedihkan kalau hal ini terjadi atas orang-orang Kristen yang sudah mengambil bagian dalam pelayanan atau pekerjaan Tuhan, seperti majelis gereja, pendeta, teolog, guru atau dosen sekolah teologi, dan aktivis gereja. Mereka bisa mengucapkan Doa Bapa Kami begitu fasih, tetapi sikap hati mereka tidak bertumbuh semakin dewasa, tidak semakin takut akan Allah. Tidak heran kalau mereka mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa sikap hati yang benar, dan hidupnya tidak berkualitas.
Salah satu penyebab kenapa banyak orang Kristen tidak memiliki perasaan takut yang benar terhadap Allah—khususnya mereka yang mengerti banyak mengenai teologi—adalah karena mereka merasa bahwa pengetahuan mereka tentang Allah sudah merupakan realitas. Dengan memikirkan tentang Allah serta mempercakapkan-Nya, mereka merasa sedang masuk dalam realitas hubungan dengan Allah, padahal sebenarnya tidak atau belum sama sekali. Tanpa disadari, mereka tertipu oleh dirinya sendiri. Mereka mencari Allah hanya di Sekolah Tinggi Teologi atau seminari. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, dan mereka merasa telah berurusan dengan Tuhan. Padahal, mereka hanya berurusan dengan pengetahuan tentang Tuhan, bukan Tuhan secara pribadi. Tidak heran kalau mereka tidak memiliki hati yang takut akan Allah secara benar.