Tidak ada masalah yang besar dalam hidup kita kecuali melakukan esuatu yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Jadi, satu-satunya masalah besar dalam hidup orang percaya adalah tidak melakukan kehendak Allah, sehingga menyakiti hati-Nya. Kehendak Allah adalah melakukan segala sesuatu yang Dia ingini sampai dapat memuaskan hati-Nya. Tuhan Yesus tidak mengatakan, “Aku tidak mengenal kamu yang tidak melakukan kehendak-Ku,” tetapi “kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa” (Mat. 7:21-23). Kehendak Bapa tentu sama dengan kehendak Tuhan Yesus. Kehendak Bapa maksudnya adalah pikiran dan perasaan Roh Kudus yang dimeteraikan di dalam diri kita. Roh Kudus sama dengan Roh Allah. Dengan demikian mestinya seseorang tahu apakah dirinya menyenangkan hati Allah atau menyakiti-Nya.
Kalau umat Perjanjian Lama melakukan kehendak Allah hanya dengan melakukan hukum-hukum tertuli satau Taurat, tetapi bagi orang percaya melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini sebenarnya sama dengan yang dimaksud dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Tidak melakukan kehendak Allah berarti memberontak kepada Dia. Tentu hal ini terkait dengan usia rohani masing-masing individu, sebab yang diberi banyak dituntut banyak. Kalau seorang anak usia 4 tahun bersikap sebagai anak usia 4 tahun orang tua tidak sakit hati, tetapi kalau anakusia 20 tahun bersikap seperti anak usia 4 tahun berarti menyakiti hati orang tua. Seharusnya semakin lama seseorang menjadi Kristen, semakin dewasa, dan semakin menyenangkan hati Allah. Jika tidak, berarti suatu kemunduran atau sebuah keadaan tidak bertumbuh. Ini bisa merupkan keadaan mati.
Dalam 1 Petrus 1:17 tertulis, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Kalimat penting dari ayat ini adalah “hidup dalam ketakutan selama menumpang di bumi.” Kata “ketakutan” dalam teks aslinya adalah phobos (φόβος). Kata phobos juga berarti ketakutan yang hebat: fear (great fear of apprehension), dread, terror (extreme fear), perasaan takut karena menghormati Allah. Sebenarnya secara lengkap kalimat “selama menumpang di bumi,” terjemahannya adalah ἐνφόβῳ τὸντῆς παροικίας ὑμῶνχρόνονἀναστράφητε (enphobo ton tesparoikiashumonkrononanastraphete), yang artinya dalam ketakutan di tempat sementaramu pada waktu perjalanan balik (pulang).
Dalam kalimat “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya,” kata “tidak memandang” dalam teks aslinya adalah “tidak menghormati siapa pun” yang berasal dari kata aprosopoleptos (ἀπροσωπολήπτως). Kalimat ini menarik perhatian kita agar kita memperhatikan karakter Bapa yang tidak memandang muka, artinya memperhatikan perilaku kita. Oleh sebab itu, kalau kita mengaku Allah adalah Bapa, maka kita harus serius memperhatikan “karakter atau sifat-Nya” bahwa Ia tidak memandang siapa pun.
Oleh sebabitu, jika kita berurusan dengan Allah seharusnya kita tidak lagi mempersoalkan kebutuhan jasmani kita dan segala kesenangan diri sendiri, tetapi bagaimana melakukan kehendak Dia yang kita panggil sebagai Bapa. Dengan demikian sejatinya, percaya kepada Tuhan Yesus berarti hidup untuk kepentingan-Nya. Kepentingan-Nya adalah menyukakan hati Bapa. Hal ini berarti menempatkan diri kita kepada keadaan tidak memiliki keingingan diri sendiri, tetapi harus bersedia hidup hanya untuk kesukan hati Bapa. Oleh karenanya kita harus selalu memikirkan Bapa, Pribadi Mahaagung yang sungguh-sungguh sangat dahsyat dan mengerikan. Selalu memikirkan Bapa maksudnya adalah apakah segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran, perasaan dan kehendak-Nya.
Dalam segalahal yang kita lakukan harus selalu mempertimbangkan apakah yang kita pikirankan,