Kalau kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan dan kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita pasti berusaha agar setiap saat kita berkeadaan berkenan di hadapan Bapa. Jadi, setiap saat kita harus berjaga-jaga. Sehingga kalau waktunya tiba kita menghadap Allah, kita didapati benar-benar berkenan di hadapan Dia. Dan hal itu memang bisa terjadi setiap saat. Kalaupun kita tidak meninggal dunia, sejatinya kita harus ada di hadirat Allah setiap saat. Semestinya kita tidak sembarangan atau semena-mena hidup. Masalahnya, kadang-kadang bahkan sering, kita tidak memperhitungkan bahwa kita ada di hadirat Allah. Kadang-kadang, bahkan sering, kita tidak menghayati bahwa kita ada di hadirat Allah.
Mumpung masih ada kesempatan, mari kita bertekad untuk benar-benar menjadi orang yang menghormati Allah, mengasihi Allah dengan benar. Dan kita tunjukkan dengan usaha kita yang serius dengan meninggalkan segala hal yang dapat mendukakan hati Tuhan. Pertama, jangan sampai kita berbuat sesuatu yang melukai hati Tuhan, menyakiti hati Tuhan. Dan yang kedua, jangan sampai kita masih terikat dengan dunia ini. Mari kita menjadi orang-orang yang luar biasa di mata Allah. Walaupun di mata manusia kita sering dipersalahkan, sering kita dihakimi—baik oleh orang jauh, maupun orang dekat—atau kita dihakimi, kita dikata-katai atas hal-hal yang tidak kita lakukan.
Sebaliknya, justru hal itu yang memicu kita untuk berusaha lebih berkenan di hadapan Tuhan. Itu yang lebih mendorong kita untuk memiliki keadaan yang benar di hadapan Allah. Dimana suatu hari nanti di pengadilan Tuhan akan nyata keadaan kita masing-masing yang sesungguhnya. Kiranya ini yang memberi kita motivasi yang sangat kuat untuk menjalani hidup dan mengisi hari hidup kita ini dengan benar. Kalau kita mau berkompetisi, kita bukan berkompetisi di bumi ini untuk hal-hal fana; menjadi siapa yang paling terkenal, siapa yang paling terhormat, gereja mana yang paling besar, siapa yang dipandang lebih mulia dan terhormat. Bukan! Kalau kita mau berkompetisi, baiklah kita berkompetisi kita secara diam-diam, yaitu berlomba untuk mendapatkan penilaian yang terbaik dari Allah, Bapa kita.
Allah yang Mahamulia, Mahabesar, Mahaagung itu layak menerima persembahan seutuhnya hidup kita, sepenuhnya. Tidak ada kepentingan dalam hidup ini selain menyenangkan Tuhan. Tidak ada hal yang lebih besar, tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup ini selain menyenangkan Allah Bapa kita dan Tuhan kita, Yesus Kristus. Dan mestinya inilah yang harus menjadi satu-satunya agenda hidup kita. Tidak ada agenda hidup yang lain selain menyukakan hati-Nya. Dan untuk itu, kita rela melepaskan segala sesuatu dalam hidup ini untuk kesukaan Dia. Ini bukan berarti kita lalu memberikan seluruh uang kita untuk gereja, atau mengirimkan uang kita kepada pendeta. Tentu, kita harus dipimpin Roh Kudus dalam mengelola uang, harta, dan segala sesuatu yang Allah percayakan kepada kita.
Kita bukan takut kepada manusia atau mencari hormat dari manusia, tetapi kita takut akan Allah. Dalam Alkitab, dikatakan bahwa orang kaya itu sukar masuk surga. Hal itu bukan semata-mata karena kekayaan yang dia miliki, melainkan karena ia merasa bahwa kekayaannya merupakan haknya. Mereka sudah terbiasa dengan irama hidup mengelola uang sesuka hatinya. Kita harus ingat, kalau suatu hari kita di hadapan Tuhan, biarlah tangan kita ini sudah bersih. Tangan kita sudah bersih dari dosa, dari percintaan dunia, dan dari harta yang mestinya sudah kita lepaskan. Tidak ada keterikatan dengan dunia, tidak ada yang kita sisakan.
Tidak ada yang kita sisakan, artinya kita tidak terikat dengan dunia. Kita bisa melihat ini sebagai suatu keniscayaan, suatu kemungkinan bahwa kita memang bisa hidup tidak bercacat tidak bercela. Kita bisa melepaskan diri dari keterikatan kita dengan harta, dengan dunia ini, dengan harta kekayaan. Yang mengerikan bukan uang itu sendiri yang menjadi masalah, tetapi ketika seseorang tidak setia dalam keuangan,