Manusia adalah makhluk yang harus bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya manusia harus melakukan tugas atau memenuhi suatu kewajiban, serta memikul akibat suatu tindakan dari keputusan dan pilihannya sendiri. Tidak ada manusia yang tidak memiliki tanggung jawab. Adanya tanggung jawab ini harus membuka mata kita terhadap realitas hidup yang riil dan faktual. Tanpa mengerti arti tanggung jawab, manusia tidak menjadi manusia seperti yang Allah rancang dan kehendaki. Tanggung jawab inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang bermartabat tinggi. Allah tidak akan memercayakan pelayanan pekerjaan-Nya yang besar dan kudus kepada manusia yang tidak memiliki tanggung jawab. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak mungkin dapat masuk surga, sebab orang yang tidak bertanggung jawab menyangkali kemanusiaannya, dan orang yang menyangkali kemanusiaannya pasti menyangkali keberadaan Allah sebagai sesembahan.
Kesalahan orang Kristen dalam berteologi adalah ketika mereka merelasikan kasih karunia dengan kehendak bebas secara keliru. Pada umumnya, mereka membenturkan kasih karunia dengan kehendak bebas dari perspektif yang salah. Kekeliruan tersebut disebabkan pengertian yang salah mengenai kasih karunia itu sendiri, dan pengertiannya mengenai kedaulatan Allah atas keadaan manusia. Mereka memandang kasih karunia adalah tindakan sepihak Allah secara absolut dan mutlak dalam menentukan manusia yang dipilih untuk menerima keselamatan. Hal ini mereka yakini, sebab mereka mengakui kedaulatan Allah yang mutlak, sehingga mereka yang ditentukan selamat tidak dapat menolak kasih karunia. Dan sebaliknya, yang tidak ditentukan selamat dikondisikan tidak dapat menerima kasih karunia. Ini berarti pemberian kasih karunia dari Allah dipaksakan di luar kemampuan dan kehendak manusia untuk menolak atau menerimanya.
Dengan pemahaman tersebut, berarti manusia tidak memiliki kehendak bebas sama sekali. Sejatinya, jika mereka konsekuen dan konsisten dengan pemahaman tersebut, seharusnya tanggung jawab manusia tidak perlu dibicarakan lagi. Tetapi ironinya, mereka masih menempatkan manusia sebagai manusia yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini adalah kebebasan yang aneh, kalau manusia yang ditentukan keselamatannya namun masih harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Pandangan ini adalah pikiran yang tidak sehat, tidak konsekuen, dan tidak konsisten, sebab kalau kehendak bebas tidak ada berarti juga tidak ada tanggung jawab. Untuk mengklarifikasi masalah ini, kita harus memahami pengertian keselamatan secara benar. Kalau keselamatan hanya dipahami sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, maka memang kehendak bebas tidak perlu tampil sama sekali.
Kasih karunia dapat dimiliki bukan karena ditentukan oleh Allah atas orang-orang yang ditetapkan dapat menerima keselamatan, melainkan karena kehendak bebas yang digunakan untuk menerimanya. Kasih karunia menempatkan manusia sebagai pribadi yang memiliki pikiran dan perasaan untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Itulah fungsi pikiran dan perasaan yang Allah berikan. Kalau kasih karunia diberikan tanpa melibatkan respons dari pertimbangan manusia, berarti sia-sia Allah memberi pikiran dan perasaan pada manusia. Pikiran dan perasaan inilah yang memberi kemampuan kepada manusia untuk mempertimbangkan sesuatu. Dengan pertimbangan tersebut, manusia dapat menerima atau menolak kasih karunia. Dalam hal ini, manusia harus bertanggung jawab. Itulah sebabnya Yesus mengatakan: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (Yoh. 3:18).
Keselamatan adalah proses dimana seseorang dikembalikan ke rancangan semula Allah. Mereka yang merasa sudah ditentukan oleh Allah untuk selamat dan yakin sudah selamat, maka tidak ada usaha yang proporsional untuk bertumbuh guna mencapai kehidupan seperti Yesus. Perjuangan mengerjakan keselamatan akan membawa ...