Berbicara mengenai doa, bukan hanya menyangkut hubungan pada waktu bercakap-cakap dengan Tuhan, tetapi bagaimana kualitas hubungan sehari-hari antar dua pribadi, yaitu Tuhan dan umat yang berdoa. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga menyaksikan cara orang berdialog. Kualitas hubungan dua orang tersebut nampak dari isi percakapan mereka. Kualitas hubungan setiap hari mereka menentukan kualitas percakapan tersebut, atau sebaliknya. Dalam dialog, yang penting adalah relasi antara kita dengan Tuhan. Relasi sangat ditentukan oleh pengenalan kita akan Tuhan dan kesediaan kita memahami kehendak-Nya. Seorang yang tidak mengenal Tuhan dan tidak hidup di dalam kehendak-Nya, jangan berdoa.
Interaksi setiap hari lebih menentukan kualitas percakapan mereka, bukan percakapan itu sendiri yang lebih menentukan hubungan keduanya. Demikian pula relasi orang Kristen dengan Tuhan. Bukan kata-kata dalam doa di hadapan Tuhan yang menentukan kualitas hubungannya dengan Tuhan, tetapi kualitas interaksinya dengan Tuhan setiap hari. Seseorang bisa berdoa setiap hari, tetapi kalau tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, maka percakapannya dengan Tuhan tidak berkualitas.
Ketekunan hidup dalam persekutuan dengan Bapa digambarkan oleh Tuhan Yesus seperti seorang janda yang tekun menghadapi hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli siapa pun (Luk. 18:1-8). Ketekunan untuk tetap dalam persekutuan dengan Bapa seperti itulah yang diharapkan Tuhan Yesus ditemukan pada akhir zaman, di tengah dunia yang semakin sibuk, di mana orang tidak memedulikan Tuhan (Luk. 18:8). Kalau manusia sudah tidak memedulikan Tuhan, maka cara berpikir dan filosofi hidupnya semakin jauh dan bertentangan dengan kebenaran Allah. Sebagai hasilnya adalah manusia-manusia fasik yang tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum-Nya.
Dalam perjumpaan pribadi dengan Allah tersebut kita akan lebih menyadari dan menghayati kekudusan Allah yang tiada tara. Seiring dengan itu, kita menyadari pula betapa rusaknya hidup dan diri kita ini. Keadaan kita ternyata masih sangat jauh dari kesucian dan kesempurnaan Allah. Kita merasa sangat tidak layak di hadapan kekudusan Allah. Seperti pengalaman yang dialami Yesaya bertemu dengan Allah. Yesaya berkata: Lalu kataku:”Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam (Yes. 6:5).”
Kekudusan Allah bukan hanya diyakini, tetapi sesuatu yang riil yang harus dialami oleh setiap orang. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak hanya merasakan apa yang diyakini, tetapi merasa apa yang dialami. Dari pengalaman pertemuan dengan Tuhan yang membangkitkan kesadaran betapa jauh keadaan diri kita dari kekudusan Allah, maka kita akan berusaha untuk bertobat, artinya berbalik. Di sini terjadi pertobatan. Kita akan membuat komitmen-komitmen baru untuk memulai hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Setiap kali kita bertemu dengan Tuhan, kita seperti baru bertobat kembali dan rasanya kita baru mengalami kelahiran baru.
Impartasi dari Allah sama dengan penularan dari Allah kepada orang percaya yang sungguh-sungguh bertemu dengan Dia. Seperti Musa, sesudah bertemu dengan Tuhan wajahnya bercahaya. Ternyata Musa mendapat impartasi atau penularan cahaya terang dari Allah. Demikian pula dengan kita yang setiap hari bertemu dengan Tuhan di Gunung Kudus Allah, kita memperoleh impartasi atau penularan dari kekudusan Allah. Impartasi tersebut membuat kita takut Allah dan aspek lain kita menjadi jijik terhadap dosa. Melalui perjumpaan tersebut banyak hal yang tidak dapat diceritakan kepada orang lain. Tetapi dari pertemuan tersebut, tidak mungkin seseorang tidak mengalami perubahan. Sehingga bagaimanapun perjumpaan seseorang dengan Tuhan setiap hari akan sangat dirasakan orang di sekitarnya. Bagi seorang pelayan jemaat,