Dalam Doa Bapa Kami, kita temukan kalimat: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Ini adalah kalimat yang penting dalam rangkaian Doa Bapa Kami. Hal pengampunan termuat di dalam rangkaian kalimat Doa Bapa Kami. Hal ini jelas menunjukkan bahwa hal pengampunan itu penting di dalam kehidupan. Apa pentingnya? Sebelum membahas hal pengampunan terkait dengan kesalahan orang terhadap kita, harus terlebih dahulu membahas mengenai pengampunan Allah yang diberikan kepada manusia, karena ini merupakan dasar atau landasan mengampuni orang lain. Banyak orang berpikir bahwa hal pengampunan itu adalah hal yang sederhana. Sehingga mereka tidak merasa perlu dibahas. Namun ternyata, kalau dipelajari, bukanlah sesuatu yang sederhana.
Pengampunan menjadi suatu hal yang tidak sederhana ketika dipahami dari sudut pandang Allah. Pengampunan yang Allah berikan bukan sekadar tindakan Allah untuk memuaskan hati-Nya ataupun melegakan manusia yang diampuni. Pengampunan yang diberikan Allah berangkat dari hakikat-Nya yang Mahakasih. Allah adalah Allah Yang Mahakasih, sehingga Ia tidak mungkin tidak mengampuni manusia. Dalam hakikat-Nya ini, terpancar keagungan dan kemuliaan Allah dimana Ia dapat menerima keadaan manusia yang diciptakan-Nya. Hakikat Allah ini tetap atau tidak berubah. Hakikat-Nya tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar diri-Nya, sehingga keadaan manusia yang berdosa tidak mengubah hakikat Allah Yang Mahakasih.
Kasih Allah ini dinyatakan dalam kehadiran Putra Tunggal-Nya untuk menebus dosa manusia. Dalam Yohanes 3:16 dinyatakan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat ini menyiratkan bahwa kasih Allah akan dunia ini memiliki bentuk yang dapat dipahami. Kasih Allah dinyatakan dalam bentuk kesediaan-Nya memberikan Putra Tunggal-Nya sebagai kurban tebusan bagi umat manusia. Dalam pengurbanan Tuhan Yesus, kasih Allah yang mengampuni umat manusia dapat direalisasikan. Tuhan Yesus menanggung dosa seluruh umat manusia dan memperdamaikan manusia dengan Allah. Akibatnya, murka Allah atas dosa manusia dapat dipadamkan dan terbuka peluang pemulihan hubungan antara Allah dan manusia. Manusia tidak lagi berada di bawah kutuk atau hukuman kekal, melainkan berpotensi untuk masuk dalam kehidupan kekal.
Hakikat Allah Yang Mahakasih tidak boleh dipandang secara murahan. Terlepasnya manusia dari penghukuman karena kasih Allah yang dicurahkan melalui pengampunan bukan tujuan akhir dari pengampunan itu sendiri. Seakan-akan ketika manusia sudah diampuni, maka ia boleh bertindak semaunya sendiri karena sudah tidak berada di bawah hukuman. Jika demikian, maka pengampunan Allah merupakan suatu hal yang rendah dan tidak bernilai guna. Pengampunan Allah hanya berfungsi sebagai instrumen yang terkesan digunakan manusia untuk melegakan dirinya atas dosa yang telah dilakukan. Dosa seakan dipahami sebagai sebuah bidang kotor yang perlu dibersihkan dan cara untuk membersihkannya adalah permintaan ampun kepada Allah. Setelah meminta ampun, seolah-olah manusia kembali berhak untuk melakukan dosa lagi, asalkan setelah melakukannya ia harus kembali meminta ampun kepada Allah. Pengampunan semacam ini adalah pengampunan yang murahan dan tidak bernilai guna mengubah manusia.
Pengampunan Allah terhadap manusia adalah pengampunan bernilai tinggi dan memiliki tatanan yang jelas. Pengampunan Allah pertama-tama memang dikerjakan atas inisiatif Allah sendiri melalui Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada manusia yang dapat diampuni jika Tuhan Yesus tidak mati di atas kayu salib. Dalam kematian-Nya, manusia diperdamaikan dengan Allah dan mereka yang menerima-Nya dimungkinkan untuk menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12). Secara de jure, manusia telah dibenarkan di hadapan Allah. “Dibenarkan” di sini maksudnya dianggap benar,