Kehidupan normal orang percaya adalah kehidupan Yesus. Hal ini benar-benar telah dikenakan oleh orang-orang percaya pada gereja mula-mula. Untuk mewujudkan hal tersebut, Allah mendatangkan keadaan sulit, yaitu penganiayaan. Dalam penganiyaan tersebut, orang percaya mengarahkan diri kepada Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang, dan kehidupan tidak bercela sama seperti yang dikenakan oleh Yesus, sehingga mereka disebut sebagai orang Kristen. Tetapi ketika orang Kristen tidak berada dalam penganiayaan, mereka tidak lagi memiliki kehidupan normal seperti yang diajarkan oleh Yesus. Ini berarti orang-orang Kristen memiliki new normal yang sebenarnya telah menyimpang dari kekristenan yang sejati atau new normal yang salah.
Keadaan new normal yang menyimpang dari kebenaran ini, diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Gereja dan para teolognya hanya mewariskan doktrin dan liturgi, tetapi pola kehidupan Yesus tidak diajarkan dengan benar. Gereja dan teolognya sibuk dengan perdebatan teologi dan saling menyakiti. Gereja dan para teolognya hanya cakap berteologi, tetapi tidak menghidupkan Yesus dalam kehidupan mereka. Karena gereja dan para teolognya tidak memiliki kehidupan Yesus, tidak ada yang bisa diwariskan kepada penerusnya. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang tidak tahu bahwa kekristenan yang mereka warisi adalah keberagamaan, bukan jalan hidup Yesus yang harus dikenakan.
Sebenarnya, kehidupan Kristen yang normal telah ditunjukkan oleh orang percaya sesudah kenaikan Yesus ke surga. Salah satu sosok orang percaya yang menjadi model orang percaya yang normal di mata Allah adalah Paulus. Dari sejarah kehidupan Paulus dan kesaksiannya, dalam tulisan-tulisannya, kita dapat memperoleh gambaran kehidupan orang percaya yang normal. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: “Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1Kor. 4:16). Di bagian lain, Paulus juga memberi pernyataan yang sama: “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu” (Flp. 3:17).
Dengan demikian, tidak dapat disangkal bahwa kehidupan Paulus adalah standar normal kehidupan orang percaya. Dalam hal ini, hendaknya kita tidak memandang kehidupan seorang rasul adalah kehidupan istimewa yang tidak dapat dimiliki oleh orang percaya pada umumnya. Kehidupan para rasul seperti Paulus adalah model kehidupan orang percaya yang harus dijalani oleh setiap orang percaya di sepanjang zaman dan di segala tempat. Namun, bukan hanya kehidupan para rasul, kehidupan Yesus juga merupakan model kehidupan utama yang harus orang percaya kenakan sebagai gaya hidup normalnya.
Paulus menyaksikan pengalaman hidupnya, dimana ia memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Dengan kesediaannya meninggalkan segala sesuatu, hidup Paulus menjadi tidak normal di mata manusia. Tetapi, itulah yang normal di mata Allah, dan kemudian diikuti oleh orang percaya pada abad pertama. Kehidupan Rasul Petrus juga kehidupan yang normal di mata Allah dalam pengiringannya kepada Yesus. Hal ini tampak dari suratnya, seperti misalnya dalam 1 Petrus 1:3-18; 2 Petrus 1:3-4.
Pertanyaan penting sekarang ini adalah: Di manakah model kehidupan seperti yang dikenakan oleh Yesus dan diteruskan oleh murid-murid-Nya, dan juga oleh Paulus? Hari ini, kekristenan telah mengalami kemerosotan yang sangat parah. Hal ini menunjukkan keberhasilan penghulu dunia atau kuasa kegelapan dengan tipu dayanya, sehingga dapat menyesatkan banyak orang percaya dari kesetiaannya yang sejati kepada Kristus, seperti Hawa diperdaya oleh ular (2Kor. 11:2).