Setiap manusia memiliki perasaan. Inilah bagian dari keunggulan yang dimiliki manusia yang membedakan manusia dari binatang. Perasaan memberi warna hidup kepada manusia, artinya bahwa perasaan inilah yang membuat manusia menikmati dunianya. Sebab dengan perasaan, manusia dapat merasakan suasana susah, senang, sedih, cinta, sayang, benci, dendam, tersinggung, tersanjung, dan lain sebagainya. Perasaan merupakan institusi dalam jiwa yang memberi potensi seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan, khususnya dengan sesama. Dalam hal ini, kita temukan bila perasaan seseorang sehat, maka sehatlah hubungannya dengan sesama. Bila perasaan seseorang sakit, maka hubungan dengan sesama pun disharmoni. Perasaan merupakan institusi dalam jiwa yang memberi potensi seseorang untuk berinteraksi dengan Allah.
Perasaan memiliki peran yang sangat besar dalam hidup ini, sebab pilihan, keputusan, tindakan, dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi—bahkan kadang ditentukan—oleh perasaannya. Memang terdapat orang-orang tertentu yang lebih menggunakan logikanya daripada perasaan, namun demikian tidak dapat disangkal bahwa peran yang sangat besar perasaan dalam kehidupan manusia tidak dapat diabaikan. Banyak keputusan besar yang menentukan hidup seseorang dipengaruhi oleh perasaan, bahkan ditentukan olehnya. Perasaan terdapat dalam jiwa manusia. Dalam jiwa selain ada perasaan, juga ada pikiran atau rasio. Elemen-elemen ini menentukan kualitas jiwa. Perasaan dan pikiran inilah yang menciptakan kehendak.
Adapun yang memengaruhi kualitas antara lain adalah faktor keturunan—bagaimana pun karakter orangtua terwariskan kepada anak, sebab anak-anak “merekam” karakter orangtua di dalam dirinya—lingkungan (pendidikan, keluarga, pergaulan, dan lain sebagainya), dan pengalaman masa lalu. Pengalaman ini sangat memberi pengaruh terhadap kedewasaan perasaan. Dalam hal ini, ilmu jiwa juga mengakui bahwa pengalaman masa lalu seseorang membentuk kepribadian seseorang, termasuk perasaannya. Karena faktor-faktor inilah perasaan seseorang terbentuk. Ada orang yang gampang tersinggung, gila hormat, rendah diri, merasa tertolak, gampang marah, dan lain-lain. Bila perasaan yang sakit atau tidak dewasa ini belum disembuhkan, kehadiran orang tersebut akan melukai orang lain pula.
Pengalaman hidup membentuk kepribadian seseorang, termasuk memengaruhi perasaannya. Perasaan yang tidak dewasa dapat terbentuk dikarenakan oleh pengalaman-pengalaman negatif yang terjadi dalam hidup. Pengalaman masa lalu tersebut dapat berupa peristiwa-peristiwa yang menyakitkan, misalnya penolakan dari orangtua dan lingkungan, kekecewaan akibat pengkhianatan, melihat kejadian-kejadian yang menakutkan, pelecehan seksual, kemiskinan, penderitaan yang berkepanjangan, dan lain-lain. Inilah yang dimaksud dengan luka batin. Selain beberapa faktor yang membentuk perasaan, ada beberapa faktor yang juga memengaruhi perasaan seseorang, antara lain: fisik dan suasana jiwa pada waktu tertentu. Firman Tuhan dan pelayanan pembinaan pribadi yang intensif dan terpadu dapat mendewasakan perasaan seseorang. Gereja harus membina jemaat melalui pemberitaan Firman Tuhan dalam berbagai media untuk mendewasakan perasaan.
Kita harus sadar, bahwa tatkala kita bertobat, Tuhan telah menebus kita seluruhnya atau sepenuhnya, termasuk perasaan kita. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menghargai diri kita secara berlebihan sehingga kita lupa bahwa kita bukan milik kita sendiri. Berapakah harga perasaan kita sebenarnya? Seharga salib Tuhan Yesus, sebab kita telah disalibkan bersama Kristus. Kita telah dikuburkan bersama dengan Dia dan dibangkitkan dalam hidup yang baru (Rm. 6:4). Bila kita menyadari hal ini, kita tidak akan memanjakan perasaan. Orang yang memanjakan perasaan dan memberi nilai tinggi terhadap dirinya akan menjadi orang yang mudah tersinggung, tidak bisa diperlakukan tidak adil, tidak mau dianggap rendah, dan berharap selalu dianggap tidak penting,