Kalau jujur dan teliti, kita dapat melihat banyak orang—termasuk orang Kristen—yang menjadikan dunia ini sebagai perhentiannya. Perhentian artinya tempat di mana seseorang merasa aman, terlindungi, dan bahagia. Tentu hal ini menjadi tujuan hidup manusia yang tidak mengenal kebenaran. Orang yang menjadikan dunia sebagai perhentiannya pasti sangat bergantung kepada dunia ini, artinya suasana jiwanya sangat ditentukan oleh fasilitas materi dunia dan segala hiburannya. Memang mereka ke gereja dan menjalankan kehidupan sebagai orang yang beragama Kristen, tetapi mereka menjadikan Tuhan bukan sebagai perhentian, melainkan sekadar menjadi alat untuk meraih dunia sebagai perhentiannya. Pada dasarnya, mereka adalah musuh Allah; sebab orang yang mengasihi atau bersahabat dengan dunia memosisikan dirinya sebagai musuh Allah (Yak. 4:4).
Hal tersebut sungguh sangat menyedihkan. Sementara mereka masih menaruh perhentiannya di dunia ini, namun mereka merasa sudah menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya. Hal ini dapat terjadi dalam kehidupan orang-orang Kristen, sebab mereka tidak memahami standar hidup sebagai orang percaya yang harus mengenakan Yesus sebagai teladannya. Yesus menolak ketika mendapat tawaran menyembah Iblis agar dapat memperoleh dunia ini (Luk. 4:4-8). Hal ini mengindikasikan bahwa Yesus menolak menjadikan dunia sebagai perhentian-Nya. Bagi Yesus, Bapa adalah perhentian-Nya.
Tuhan Yesus memanggil orang untuk datang kepada-Nya dan memperoleh perhentian (Mat. 11:28). Panggilan itu berarti setiap orang percaya harus meletakkan perhentiannya hanya pada Tuhan saja. Banyak orang Kristen masih meragukan, apakah dengan menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya, dirinya dapat menemukan kelegaan? Keraguan itu sendiri terbangun oleh kenyataan banyak orang Kristen yang rajin ke gereja tetapi tidak menunjukkan ketenangan jiwa, seakan-akan kekristenan tidak menjawab kebutuhan jiwa, dan para rohaniwan yang juga menunjukkan sikap materialisme. Ini berarti mereka belum menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya.
Ketika seseorang menjadikan Tuhan Yesus sebagai perhentiannya, ia tidak boleh lagi berpikir akan beralih ke perhentian lain. Baginya, itulah tujuan akhir perjalanannya. Ia harus mulai belajar untuk tidak memiliki keinginan atau memiliki sesuatu. Baginya, segala sesuatu yang dimilikinya semata-mata untuk kepentingan pekerjaan Tuhan (Flp. 1:21). Orang yang menjadikan Tuhan sebagai pelabuhannya, tidak lagi memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan dari segala sesuatu yang diperolehnya dari dunia ini. Bagi orang percaya, kebanggaan dan kebahagiaannya adalah ketika ia boleh mengorbankan nyawanya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Orang yang belum rela berkorban bagi Tuhan dengan segenap hidup, berarti belum menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya perhentiannya.
Orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya perhentian adalah orang-orang yang sudah merdeka dari belenggu dunia, dan sangat menikmati damai sejahtera Allah yang melampaui segala hal. Orang seperti ini mengikatkan dirinya dengan Tuhan. Sejatinya, apabila seseorang semakin terikat dengan Tuhan, berarti ia semakin merdeka dari belenggu kuasa kegelapan. Orang yang menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya tidak akan dapat tergiring ke dalam dunia, sebaliknya, ia akan semakin mengasihi Tuhan dan rela tidak memiliki apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya.
Orang yang menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya berhak mengklaim bahwa dirinya dimiliki oleh Tuhan dan Tuhan dimilikinya. Kalau seseorang mau menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya dan memiliki Kristus, ia harus berani kehilangan segala sesuatu dalam hidup ini. Seseorang tidak akan memiliki Kristus kalau masih merasa masih memiliki sesuatu. Seorang yang dimiliki dan memiliki Kristus adalah orang yang merasa hanya memiliki satu harta, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Orang seperti ini akan rela berjuang untuk Tuhan tanpa batas. Paulus adalah sosok manusia yang benar-benar termasuk kelompok orang yang mengabdi kep...