Para teolog dan pemimpin gereja merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas keadaan kekristenan yang telah begitu merosot dan mengalami penyimpangan. Biasanya, para teolog dipandang oleh jemaat awam atau umat sebagai perwakilan dari Allah untuk mengajar jemaat dengan memberi penjelasan mengenai siapa Allah dan bagaimana seharusnya menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah. Walau praktiknya, banyak teolog hanya mengajarkan pengetahuan tentang Allah (teologi), dan itu pun belum tentu menjawab kebutuhan umat. Jemaat awam atau umat merasa tidak memiliki akses langsung kepada Allah seperti yang dimiliki oleh para teolog. Ditambah lagi, dengan pola keberagamaan pada umumnya yang memandang bahwa tokoh agama adalah mediator antara Allah dan umat, maka umat semakin menaruh harapan dan keyakinan kepada para teolog sebagai mediator dengan Allah. Dari hal ini, para teolog memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap umat. Kondisi ini memberi peluang atau berpotensi terjadinya dominasi manusia kepada manusia lain.
Betapa rusaknya kehidupan iman orang percaya kalau para teolog dan pemimpin gereja tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan hidup berjalan dengan Dia. Teolog yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup berjalan dengan Dia, akan menyusun doktrin atau sistematika teologi yang tidak mengubah umat, tetapi hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan teologi. Mereka sendiri tidak mengalami perubahan kodrat, bagaimana bisa membangun pemikiran yang berorientasi pada perubahan kodrat? Orang yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah tidak akan pernah mengalami perubahan kodrat, sebanyak apa pun ilmu teologi yang dimiliki, sebanyak apa pun gelar yang disandangnya, dan setinggi apa pun jabatan dalam sinode atau kepemimpinan di dalam gereja.
Tidak sedikit para teolog yang memahami Allah hanya Allah di atas lembar-lembar halaman buku dan transfer knowledge di seminari atau sekolah tinggi teologi. Mereka tidak memahami Allah dari perjumpaan langsung dan kehidupan konkret hidup berjalan dengan Allah. Ironisnya, hampir semua mereka berpikir bahwa dengan pengetahuan teologi yang banyak, gelar akademis di lingkungan teologi, dan pengalaman dalam kegiatan rohani—baik di seminari maupun di gereja—mereka merasa sudah mengenal Allah lebih lengkap. Mereka merasa sebagai sumber pengetahuan tentang Allah yang paling bisa dipercaya, paling benar, dan paling sah. Sikap para teolog seperti ini sebenarnya merupakan sebuah pelecehan terhadap Allah. Mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Allah dari buku dan pendidikan teologi, serta menalar Allah dengan pemahaman yang belum tentu benar, tetapi sudah merasa berhak mewakili Allah dengan memberikan keterangan mengenai Allah.
Pengetahuan teologi yang dimiliki para teolog bisa menjadi komoditas untuk kehidupan nafkah atau sebagai profesi guna mendapatkan uang, tetapi bukan sebagai dedikasi. Sebab, tidak mungkin mereka bisa berdedikasi kepada Allah yang tidak pernah dijumpai secara riil dan tidak pernah hidup berjalan dengan Dia. Hal ini bukan bermaksud menyatakan bahwa seorang teolog tidak berhak hidup dari panggilannya sebagai pengajar atau pengkhotbah, tetapi kalau mereka tidak mengalami perjumpaan langsung dengan Allah—sehingga tidak mengalami perubahan kodrat—pasti mereka hidup dalam kewajaran seperti manusia lain yang menjadikan aktivitasnya sebagai profesi guna memperoleh uang atau keuntungan pribadi lainnya.
Biasanya, para teolog seperti ini cenderung meneliti pengajaran orang lain untuk melakukan kritik, kecaman, tuduhan sampai pada tingkat penghakiman, yaitu menyatakan orang lain atau gereja lain yang tidak sepaham dengan mereka sebagai orang Kristen atau gereja yang sesat atau bidat. Arogansi seperti ini bagi mereka adalah kebanggaan dan nilai diri, dimana melalui tindakan-tindakan tersebut, mereka mengaktualisasi diri dan memperoleh nafkahnya. Nafkah di sini bisa berupa uang atau nilai diri. Dengan karakter semacam itu,