Banyak orang yang sedang terbawa arus dunia, dimana tanpa mereka sadari mereka semakin masuk ke dalam pusat pusarannya. Kuasa gelap pun selalu berusaha membuat mereka terbuai oleh berbagai kesenangan hidup, kesibukan, dan lain sebagainya, sehingga tidak menyadari keadaan yang sangat mengerikan tersebut. Ini berarti akan semakin menutup kemungkinan untuk bisa berbalik kepada Tuhan. Kesenangan hidup telah membutakan mata hati dan pengertian mereka, sehingga mereka tidak menyadari keadaan tersebut. Padahal, mereka sudah mendekati jurang atau semacam jeram yang akan menjatuhkan mereka ke dalamnya sehingga mereka tidak akan pernah bisa balik. Keadaan orang-orang ini sudah dinyatakan oleh Kitab Wahyu.
Itulah sebabnya Firman Allah mengatakan: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya” (Why. 18:1-5). Seperti Lot dan keluarganya meninggalkan Sodom dan Gomora dengan berlari dan tidak boleh menoleh ke belakang, demikianlah kita yang hidup di abad yang kemungkinan abad terakhir ini. Tuhan Yesus sudah berpesan agar kita tidak menjadi seperti istri Lot (Luk. 17:32). Pernyataan Tuhan ini bermaksud agar kita rela meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Untuk bisa meninggalkan Tuhan dengan segala kesenangannya, ini membutuhkan waktu. Jika tidak segera dilakukan, seseorang tidak akan sanggup meninggalkannya.
Tidak sedikit orang-orang baik dalam gereja, bahkan bisa dianggap sebagai rohani dan bijaksana, yang belum meninggalkan dunia ini. Mereka bisa melakukan pekerjaan pelayanan gereja, tetapi mereka masih hidup dalam percintaan dunia. Mereka memiliki kerajaan sendiri di samping Kerajaan Allah. Kalau kita menyadari keadaan ini, kita tidak boleh menunda untuk berbalik kepada Tuhan agar segera meninggalkan dunia ini dan terus berlari menuju Kerajaan-Nya. Segala sesuatu bisa atau boleh ditunda, tetapi satu hal ini—meninggalkan dunia—tidak boleh ditunda karena menyangkut nasib atau keadaan kekal kita. Sesuai Firman Allah, kita harus berlari untuk menjauhi kehidupan yang tidak sesuai dengan standar anak Allah. Harus berlari—bukan sekadar berjalan—sebab tarikan dunia sangat kuat. Kalau seseorang tidak serius meninggalkan percintaan dunia dengan sungguh-sungguh, ia tidak pernah bisa meninggalkannya sampai selamanya. Ini berarti taraf menghujat Roh Kudus.
Semakin masuk pusat pusaran arus Tuhan, seseorang akan mengikis potensi “menoleh ke belakang.” Untuk berbagai hal, banyak orang tidak membatas diri, seperti untuk studi, karier, bisnis, kesehatan, hobi, dan lain sebagainya. Tetapi untuk Tuhan, mereka begitu membatasi diri. Banyak orang Kristen yang membatasi diri tidak masuk ke dalam pusat pusaran arus Tuhan. Kuasa gelap berusaha menggiring orang-orang ini untuk memiliki banyak kesibukan dan kesenangan, sehingga tidak menyediakan diri yang memadai bagi Tuhan guna mencari Kerajaan-Nya. Orang-orang akan dibuat atau didorong kuasa kegelapan untuk all out bagi kesenangannya sendiri, bukan untuk Tuhan. Tanpa sadar, mereka telah tergiring ke api kekal
Perlu dipertanyakan: Mengapa untuk banyak hal seseorang “habis-habisan” atau all out, tetapi mengapa untuk Allah seseorang tidak bisa berbuat demikian? Ini berarti tidak mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (Mat. 22:37-40). Orang yang tidak mencintai Tuhan Allah dengan segenap hati, cintanya tidak bisa dinikmati oleh Tuhan. Tuhan belum merasa sudah menemukan cinta dalam hati orang-orang seperti itu. Cinta yang dinikmati oleh Allah adalah cinta kepada-Nya dengan “segenapnya.” Orang yang belum mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, berarti orang yang masih terbawa arus dunia. Mereka belum bisa menjadi mempelai Tuhan. Mereka tidak akan diterima sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, sebab belum menjadi anak kesukaan Bapa. Untuk hal ini, seseorang tidak dipaksa Tuhan.