Menjadi seseorang yang beragama Kristen itu bisa bukan pilihan, karena hanya terhanyut secara otomatis oleh keadaan, berhubung orangtua beragama Kristen atau karena menikah dengan seseorang yang beragama Kristen. Tetapi untuk menjadi pengikut Yesus, seseorang tidak bisa “terhanyut secara otomatis,” karena itu adalah sebuah pilihan yang berat dan sukar yang harus diambil, serta harus memiliki komitmen yang bulat. Seseorang yang mau mengikut Yesus harus mengagendakan seluruh kegiatan hidupnya hanya untuk satu maksud, yaitu menjadi pengikut Yesus. Dan jika seseorang mengikut Yesus dengan benar, berarti ia menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.
Merupakan suatu kesalahan fatal bila diajarkan bahwa menjadi orang Kristen itu dapat menikmati kenyamanan hidup di dunia seperti manusia pada umumnya, dan dengan mudah memiliki jaminan pasti masuk surga, kalau sakit bisa didoakan dan dengan mudah memperoleh mukjizat kesembuhan sebab bilur-bilur Yesus berkuasa. Di gereja-gereja tertentu, selalu juga dikemukakan bahwa Allah itu baik, penuh kasih, memberi berkat jasmani secara berlimpah. Ajaran-ajaran seperti ini akhirnya melahirkan orang-orang Kristen oportunis; artinya orang-orang yang mencari keuntungan tanpa memedulikan kebutuhan atau kepentingan pihak lain, sebab bagi mereka, yang penting dirinya memperoleh keuntungan. Tentu mereka menjadi orang-orang Kristen yang tidak mengerti bagaimana mengabdi dengan benar kepada Tuhan.
Di dalam gereja, kita sering mendengar pernyataan-pernyataan seperti: “Allah baik, Allah menyayangi, Allah melindungi, Allah menjaga, Allah mengerti perasaan kita, tetesan air mata kita disimpan dalam kirbat-Nya,” dan lain sebagainya yang senada. Pernyataan-pernyataan tersebut tidak salah kalau ditujukan kepada orang Kristen yang masih baru, tetapi untuk orang Kristen yang dewasa, mestinya tidak lagi dijejali dengan kalimat-kalimat tersebut. Kalau orang Kristen selalu terpaku pada pernyataan-pernyataan tersebut, mereka terparkir pada kebodohan sehingga selalu menjadi orang Kristen yang berpikir secara kanak-kanak. Kita bisa maklum kalau kalimat-kalimat tersebut hanya untuk orang yang baru masuk Kristen. Tetapi, kalau kita sudah akil baligh, dan mestinya sudah menjadi dewasa rohani, maka sudah tidak lagi memiliki alam pikiran seperti Kristen kanak-kanak.
Banyak komunitas Kristen yang tidak bertumbuh. Mereka tetap pergi ke gereja, tetap berliturgi, tapi pemahamannya tentang Allah dangkal. Mereka hanya berbicara mengenai Allah yang baik, yang melindungi, yang mengampuni dosa, Allah yang nanti menyediakan surga, memberi kekuatan, menyembuhkan yang sakit, mencukupi semua kebutuhan, dan lain sebagainya. Mereka tidak mau tahu bahwa mengikut Yesus berarti harus memiliki gaya hidup-Nya. Mestinya setelah menjadi Kristen yang dewasa, yang harus dipersoalkan bukan hanya bagaimana dijaga oleh Tuhan, tetapi bagaimana menjaga diri kita dari pengaruh dunia dan menjaga pekerjaan Tuhan, atau ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Ini adalah pilihan untuk tidak memiliki kehidupan normal menurut dunia.
Orang Kristen karena keturunan bisa menjadi orang-orang Kristen yang setia dalam ukuran umum. Mereka bisa membela kekristenan dengan kekerasan, tapi bukan itu yang Tuhan kehendaki. Yang Tuhan kehendaki adalah memilih untuk mengikut Yesus. Kalau hanya menjadi orang yang beragama Kristen, bisa dilakukan tanpa memilih, bisa terkondisi dengan sendirinya, pergi ke gereja setiap hari Minggu, dan menjadi orang yang bermoral baik. Tetapi kalau mengikut Yesus, itu adalah pilihan. Karena tidak bisa terkondisi dengan sendirinya. Harus ada komitmen dan tekad untuk bagaimana mengisi hari hidup dalam pertumbuhan iman yang benar.
Harus diingat bahwa menjadi tua itu otomatis, tapi menjadi dewasa adalah perjuangan. Memang melalui pengalaman hidup, seseorang bisa menjadi dewasa secara mental, tetapi untuk menjadi dewasa rohani—dimana makin hari makin serupa dengan Yesus—adalah perjuangan. Hendaknya,