Adalah sangat istimewa kalau kita terlahir dalam keluarga Kristen. Ada orang yang terlahir bukan sebagai orang Kristen, misalnya terlahir di daerah pedalaman. Mungkin sampai mati, ia tidak pernah menjadi orang Kristen. Kalaupun pernah mendengar Injil, tapi Injil yang didengarnya tidak benar. Kalau kita terlahir sebagai orang Kristen, kita disebut sebagai umat pilihan, tetapi ini bukan berarti pasti terpilih masuk surga. Ketika kita terlahir sebagai orang Kristen, kita diberi kesempatan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, mendapat kesempatan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Ini berarti, kita diberi kesempatan untuk dimuliakan bersama dengan Yesus. Tetapi aspek lainnya, kita harus menjalani hidup—yang berat dan sukar—sebagai umat pilihan, dan kita harus memutuskan hal ini sebagai pilihan.
Kalau kita terlahir sebagai orang Kristen, begitu lahir, kita sudah mendapat stempel “kamu bukan berasal dari dunia ini.” Masalahnya, bagaimana orangtua sejak dini bisa mewarnai jiwa anak-anaknya supaya mereka menghayati bahwa mereka bukan berasal dari dunia ini? Orangtua harus memancarkan kehidupan seseorang yang bukan berasal dari dunia ini. Jadi, betapa besar tanggung jawab orangtua untuk memperkenalkan iman kepada anak-anak, dan mereka harus memilih. Anak-anak generasi milenial kebanyakan sudah tidak mengenal hal ini sama sekali, tetapi orangtua harus dapat menggarami mereka agar anak-anak tergiring menuju Kerajaan Allah di langit baru dan bumi yang baru nanti. Umat pilihan terlahir sebagai orang Kristen yang berutang untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging (Yoh. 8: 12-14).
Manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah masih mampu menjadi orang bermoral berdasarkan hukum, secara otomatis oleh kondisi masyarakat dan kultur, dimana seseorang bisa terbawa untuk bermoral berdasarkan hukum. Tetapi kalau untuk menjadi orang percaya yang benar, ia harus mengikut jejak Yesus. Alkitab mengatakan “jadikan semua bangsa murid-Ku,” ini berarti bukan murid gereja, bukan murid orangtua, atau bukan pula murid pendeta (Mat. 28:18-20). Tuhan bisa memakai gereja, orangtua, pendeta untuk menjadi mentor, tetapi setiap individu harus berhubungan langsung dengan Allah. Harus ada hubungan interaksi, timbal balik dengan Allah secara konkret. Kalau hanya bermoral baik, seperti bangsa Israel, tidak harus memiliki hubungan langsung dengan Allah. Sebab, hukum bisa diajarkan kepada semua orang tanpa Roh Kudus. Tetapi untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula sesuai dengan maksud dan keselamatan yang Allah berikan, harus campur tangan Allah langsung kepada masing-masing individu; harus dipimpin oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya, kita harus memilih.
Umat pilihan sebenarnya juga disebut sebagai umat “perjanjian.” Bangsa Israel memiliki perjanjian dengan Allah. Sebagai umat perjanjian, mereka tidak boleh menyembah allah lain selain Elohim Yahweh; mereka tidak boleh hidup di luar Taurat, sebab jika tidak hidup menurut Taurat, itu berarti mengingkari perjanjian. Ini adalah sikap pemberontakan. Sejarah bangsa itu menunjukkan bagaimana Allah menghukum mereka dengan sangat menyakitkan ketika mereka berkhianat kepada Allah dengan tidak melakukan hukum. Sebagai tanda umat perjanjian, mereka harus “disunat.”
Bagaimana dengan orang percaya? Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengalami sunat hati, bukan secara fisik. Hati kita yang harus diremukkan. Kalau kita tidak mengikut jejak Yesus, berarti kita mengingkari perjanjian itu, sebab iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Jadi, tidak heran kalau dikatakan dalam Ibrani 12 sebagai “perlombaan yang wajib.” Perlombaan itu adalah berusaha memiliki iman yang sempurna seperti Yesus, artinya ketaatan kepada Bapa seperti Yesus (Ibr. 12:2). Orang percaya terikat perjanjian dengan Allah karena Yesus mati bagi kita; kita dibenarkan di hadapan Allah. Kita harus mengikut jejak Tuhan Yesus. Begitu terlahir, kita sudah berstatus bukan berasal dari dunia ini.