Banyak orang Kristen selama bertahun-tahun mengalami pergumulan, merasa selalu gagal menyenangkan hati Allah, sementara itu merindukan sebuah kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, kehidupan yang sempurna. Karena selalu gagal, maka mereka sampai pada tingkat tertentu dimana mereka menjadi putus asa, dengan berpikir: “Apakah mungkin saya bisa mencapai kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela atau mencapai kesempurnaan?” Tidak sedikit yang terjebak dalam “mental block,” artinya suatu keadaan dimana seseorang sudah tidak lagi memiliki keyakinan bahwa ia akan pernah bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela, menyenangkan hati Allah dengan benar. Biasanya orang-orang seperti ini tidak lagi memiliki perjuangan yang memadai untuk mencapai kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan.
Untuk menjawab pertanyaan bagaimana mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, kita harus melihat kehidupan orang Kristen pada abad pertama, bagaimana Tuhan memisahkan orang-orang percaya dari Yudaisme (agama Yahudi). Kalau kita membaca Kisah Para Rasul, kita dapat menemukan kisah mengenai Yohanes dan Petrus yang masih pergi ke Bait Allah, pada awal gereja mula-mula. Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid pertama Yesus masih bergabung dengan orang Yahudi yang beragama Musa (agama Yahudi atau Judaism) sesudah kenaikan Yesus ke surga. Kalau kehidupan orang percaya tidak dipisahkan dari agama Yahudi atau agama Musa, maka mereka tidak akan menemukan kekristenan yang sejati.
Tuhan sengaja memisahkan orang-orang percaya dari agama Yahudi dan dunia sekuler dengan maksud agar orang percaya mula-mula menemukan kekristenan yang sejati. Keterpisahan dari agama Yahudi terjadi melalui penganiayaan yang dimotori oleh imam-imam kepala dan tokoh-tokoh agama Yahudi. Mereka menangkapi orang-orang percaya dan membunuh mereka dengan semena-mena, seperti yang dialami oleh Yakobus, Stefanus yang dirajam batu, dan lainnya. Salah satu tokoh yang menganiaya orang percaya adalah Saulus. Saulus dengan semena-mena menangkapi orang Kristen dan membunuhnya. Tetapi, kemudian hari Saulus bertobat dan menjadi pengikut Yesus, yang berubah nama menjadi Paulus. Aniaya yang dialami orang percaya tersebut menciptakan pemurnian iman Kristen. Dalam hal ini, penganiayaan mengondisi orang Kristen memiliki iman yang murni.
Di sisi lain, orang percaya juga dipisahkan dari dunia sekuler secara drastis melalui aniaya yang dilakukan oleh kekaisaran Roma. Dengan hal ini, orang percaya secara pribadi dan gereja secara komunitas dipisahkan dari dunia. Dengan aniaya-aniaya tersebut, orang percaya terpisah dari dunia. Aniaya dari pihak kekaisaran Roma mengondisi orang percaya tidak mendapatkan akses sekecil apa pun untuk dapat menikmati hidup yang nyaman di dunia ini.
Dalam penganiayaan, orang-orang Kristen dipancung, dibakar hidup-hidup, dimasukkan belanga panas sampai mati, dimasukkan kandang binatang buas untuk menjadi makanannya, dan lain sebagainya. Colloseum di kota Roma hari ini menjadi fakta sejarah tersebut. Aniaya dari pihak kekaisaran Romawi juga menciptakan pemurnian iman Kristen gereja mula-mula sampai akhir abad ke-4. Penderitaan orang-orang Kristen pada zaman itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Demikian pula dengan keberanian mereka menghadapi aniaya, serta sukacita mereka di dalam Tuhan, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Hal ini menjadi kesaksian yang sangat kuat bagi dunia.
Format kehidupan orang percaya di gereja mula-mula tersebut sangat penting untuk dapat menjadi pola atau landasan hidup orang percaya sepanjang zaman. Pola ini adalah pola yang tidak pernah Tuhan ubah. Pada dasarnya, orang percaya harus dipisahkan dari pola hidup agamani dan pola hidup duniawi. Orang percaya harus mengalami pemutusan sama sekali, cut off dari kedua unsur tersebut, yaitu unsur agamani dan unsur duniawi. Tentu landasan kebenaran ini bukan hanya dari aspek atau sisi sejarah (historis) saja,