Truth Daily Enlightenment

Testimoni Bagi Dunia


Listen Later

Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi khususnya pada imam kepala, tokoh-tokoh agama, pemimpin dan rohaniwan Yahudi, “Robohkan Bait Allah ini. Aku akan membangunnya dalam 3 hari.” Bait Allah secara fisik sudah dibangun kira-kira selama 46 tahun. Diperbaiki oleh raja Herodes yang sedang mencari muka dari orang Yahudi, sebab dirinya bukan orang Yahudi, melainkan orang Edom. Ia diangkat raja oleh kaisar Roma untuk mengontrol Palestina. Tentu saja orang Yahudi tidak mau mengakui dia sebagai raja, sebab orang Yahudi sangat fanatik dalam kebangsaannya. Herodes mencoba mengambil hati orang-orang Yahudi dengan membangun kembali Bait Allah.
Yesus berkata, “Rombak Bait Allah. Aku akan membangunnya dalam 3 hari.” Maksud “Bait Allah” di situ bukan bangunan secara fisik, melainkan tubuh-Nya, itulah Bait Allah. Pernyataan Yesus ini menunjukkan bahwa tubuh-Nya adalah Bait Allah. Hal ini menegaskan yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 6:19-20, bahwa kemudian hari orang percaya yang telah ditebus oleh Yesus dengan darah-Nya juga menjadi bait dari Roh Kudus. Terkait dengan soal penebusan ini, menunjuk soal budak pada zaman itu. Biasanya, budak yang dimiliki seorang tuan dapat dibeli atau ditebus oleh seorang majikan yang baru untuk menjadi miliknya. Budak tersebut, yang tadinya hidup dalam dominasi kekuasaan seorang tuan, harus pindah ke tuan yang baru. Tuan yang baru tersebut berhak melakukan atau berbuat apa saja terhadap budak yang dimilikinya.
Kita ditebus oleh Yesus untuk menjadi milik-Nya. Kita seperti budak yang dibeli oleh seorang tuan, dimiliki sepenuh oleh tuan tersebut, yaitu Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan, “kamu bukan milik kamu sendiri.” Mengapa demikian? Karena kita telah ditebus, telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar. Pada zaman dahulu, seorang budak biasanya ditato di beberapa bagian tubuhnya untuk menunjukkan siapa pemilik budak itu. Hal ini juga kita alami sebagai orang percaya, Allah “menato” kita dengan memberikan meterai Roh Kudus. Meterai Roh Kudus ini tidak bersifat permanen, artinya kalau seseorang tidak hidup dengar-dengaran, maka ia bisa mendukakan Roh, memadamkan Roh, bahkan menghujat Roh. Ini berarti Roh Kudus akan meninggalkan dia.
Orang percaya yang ditebus oleh darah Yesus tidak lagi memiliki dirinya sendiri, namun ia mendapat “tato” atau meterai Roh Kudus, supaya hidup untuk kemuliaan Allah. Jadi, kalau ia tidak hidup untuk kemuliaan Allah, berarti ia tidak mau dimiliki oleh Tuhan. Memuliakan Allah tentunya bukan hanya mengikuti liturgi; hal itu belum tepat. Memang agama-agama pada umumnya—terutama pada agama suku—jika melakukan seremonial, hal itu dipandang dapat menyenangkan hati dewa atau alah atau ilah yang disembah. Itulah penyembahan yang masih primitif. Penyembahan yang benar adalah dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Seluruh perbuatan kita adalah penyembahan kepada Allah. Itulah sebabnya, dalam 1 Korintus 10:31 tertulis, “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
Allah kita bukan seperti allah, dewa atau ilah yang disembah dalam agama-agama suku yang dapat disukakan dengan seremonial atau liturgi. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak merasa dengan berliturgi, menyanyikan lagu rohani, berarti kita sudah menyembah Allah dan hal itu menyenangkan hati-Nya. Kenyataannya justru sebaliknya, sering liturgi malah membuat orang bohong atau menipu, sebab dalam kelakuan hidup kesehariannya tidak sesuai dengan syair yang dilantunkan dan pengakuan yang diucapkan dalam liturgi. Itulah sebabnya, menjadi persoalan penting, apakah syair yang termuat dalam lagu-lagu yang kita nyanyikan dan pengakuan-pengakuan dalam liturgi itu merupakan peta yang mewakili kenyataan hidup kita setiap hari? Kalau tidak, namanya munafik (Yun. hipokrites; orang yang memainkan peranan). Ini berarti malah membuat seseorang berdosa kepada Tuhan.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings