
Sign up to save your podcasts
Or


Belakangan ini, konsumsi film sangatlah mudah. Cukup dengan berlangganan salah satu streaming platform di smartphone, kita sudah bisa menikmati beragam tayangan yang diproduksi dan diperankan oleh nama-nama tenar di Hollywood.
Tetapi, pernahkah terbesit di pikiran kalian --- bagaimana caranya para sineas/aktor memulai karirnya di kota yang dijuluki "La La Land" tersebut? Nancy Rumagit, yang pernah mengenyam pendidikan seni peran di Stella Adler Academy, menceritakan tentang suka-duka merintis karir di dunia perfilman, keberaniannya untuk memilih jalan yang ia tempuh sekarang, dan juga menjawab beberapa rasa penasaran saya terhadap kehidupan di Los Angeles selama tiga tahun terakhir.
All that and much more, only on The Talisman Talkshow, episode 17!
Selama menetap di Kuwait, Bayu "terpaksa" mengkonsumsi berita tentang konflik di Afghanistan secara rutin. Oleh karena itu, kekacauan yang terjadi di negeri "Graveyard of Empires" belakangan ini seharusnya bukan hal yang mengejutkan baginya. Namun, kegagalan pemerintah Amerika Serikat untuk menyelesaikan perang ini dengan lebih terencana, ditambah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban yang begitu cepat, membuat reaksi internasional, termasuk Indonesia, menjadi bervariasi dan menarik untuk ditunggu.
Episode ini bertepatan dengan peringatan 20 tahun semenjak aksi teror 9/11 yang kemudian mendorong Bush untuk menginvansi Afghanistan. Apa saja dampak yang terjadi setelahnya, khususnya bagi rakyat sipil? Dimana saja letak kesalahan strategis yang dilakukan para petinggi militer dan politik Amerika? Bagaimana mereka dapat menghabiskan triliunan dolar untuk upaya perang dan rekonstruksi, tanpa akuntabilitas dan transparansi? Kenapa Obama tidak menarik seluruh pasukan setelah membunuh target nomor satu mereka? Simak diskusi kami dalam The Talisman Talkshow, episode #16!
Disclaimer: The Talisman Talkshow condemns the Taliban's brutal and repressive actions, especially against women, children, and minorities.
Baca artikel yang ditulis Bayu, di sini: https://www.pinterpolitik.com/in-depth/indonesia-perlu-akui-taliban
"Outer space and its problems are limitless". Walau saya sedikit terintimidasi dengan luasnya luar angkasa, namun hal tersebut dikalahkan oleh rasa penasaran saya. Pada episode ini, saya berdiskusi mengenai berbagai macam aspek antariksa dari sudut pandang Indonesia bersama Christou, yang baru saja merilis jurnal tentang pertanggungjawaban terhadap fasilitas peluncuran roket. Berangkat dari tulisannya itu, Christou lalu menjawab beberapa pertanyaan saya tentang progres pemerintah di teknologi dan tata hukum antariksa, pertumbuhan pesat komersialisasi luar angkasa yang ditombaki oleh beberapa milyuner ambisius, hingga potensi pembuatan fasilitas peluncuran roket di wilayah Indonesia.
Kalian bisa membaca jurnal terbaru Christou di sini: http://jurnal.lapan.go.id/index.php/jurnal_kkpa/article/view/3582
Di episode perdana Read & Reviewed ini, kami akan membahas beberapa aspek penting yang kami temukan ketika membaca buku To Kill A Mockingbird (1960) karya Harper Lee.
Deskripsi Buku: “To Kill a Mockingbird is primarily a novel about growing up under extraordinary circumstances in the 1930s in the Southern United States. The story covers a span of three years, during which the main characters undergo significant changes. Scout Finch lives with her brother Jem and their father Atticus in the fictitious town of Maycomb, Alabama. Maycomb is a small, close-knit town, and every family has its social station depending on where they live, who their parents are, and how long their ancestors have lived in Maycomb”.
Nugie, Noah, dan Marshel berdiskusi mengenai beberapa "efek samping" masa PPKM di kala pandemi yang berkepanjangan ini. Dalam trialog perdana ini, kami menyampaikan pandangan terhadap masa depan kehidupan sosial anak-anak bangsa, kesempatan karir bagi para mahasiswa yang terhambat, hingga kemunculan sifat asli masyarakat Indonesia di kala pandemi, yang ada baik dan buruknya. Kami tentunya bukanlah pakar, jadi jangan serius-serius amat lahh~
All that and much more, in the 14th episode of The Talisman Talkshow!
Kali ini, gua akan mencoba to kill two birds with one stone, yaitu mencoba peruntungan di lomba #PramborsPodcastar, sekaligus merintis segmen baru yang lebih pendek ketimbang dialog ala in-depth interview yang sudah menjadi kekhasan The Talisman Talkshow. Di edisi perdana Talishorts ini (plis tolong kasih saran nama yang lebih bagus!), gua mencoba membandingkan beberapa logat lokal di Inggris, dengan Multicultural London English (MLE), yang sekarang menjadi salah satu ekspor kultural populer dari negeri Ratu Elizabeth. Eitss, dikira semua orang Inggris ngomong kayak ratu? Di sini juga, gua nge-eksplor sedikit tentang asal-usul subkultur dan musik Grime, yang kemudian turut menaikkan "derajat" penggunaan logat MLE, dan mematahkan asumsi bahwa ada yang dinamakan sebagai "British accent". Sepertinya belum ada podcast di Indonesia yang ngebahas musik grime, so why not?
Sebagai sutradara dari salah satu film paling populer di Indonesia, sosok Rudi Soedjarwo identik dengan kisah Rangga dan Cinta di "Ada Apa Dengan Cinta". Namun, saya merasa ada lebih banyak hal yang bisa digali dari filmografinya yang begitu beragam, apalagi mengingat bahwa beliau sudah berada di industri film tanah air sejak awal abad ke-21. Oleh karena itu, sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat duduk ngobrol bersama sang sineas legendaris, dan berbicara mengenai berbagai pengalaman hidupnya. Perbincangan yang lepas ini pun diawali dari membicarakan proses pembuatan film sebagai panggilan hidup, kemudian cerita membangun chemistry bersama aktor muda saat itu (seperti Nicholas Saputra dan Dian Sastro), usaha beliau untuk bangkit dari penyakit stroke, hingga membahas tanggung jawab sosial dari film, yang seharusnya bisa mendorong ekspansi kultural tanah air, sekaligus mengangkat ekonomi lokal dan memberdayakan bakat-bakat manusianya.
-> Kembangkan potensi dan tunjukkan bakat terpendam kalian melalui aplikasi Maudikenal! Download sekarang di www.maudikenal.com.
-> Intro song: "In My Dream" by Chiro
Sesudah mengambil suatu keputusan berat untuk meninggalkan sekolah di saat sedang dalam puncak akademisnya, Nico menemukan potensi dan jati dirinya di musik. Namun sebelum itu, ada proses panjang semenjak masih bernaung di dalam Seminari, yang harus dilalui dengan keteguhan hati terhadap panggilan yang diemban. Kebanyakan orang mengenal seorang Nico Gea dari karya-karya musiknya, namun kesempatan berdialog ini memberi wadah baginya untuk mengungkapkan beberapa kisah pribadi yang belum pernah ia beberkan sebelumnya. Saya dan Nico masuk dan keluar dari institusi yang sama dengan cara yang berbeda, namun ada beberapa kesamaan pandangan yang membuat episode ini semakin menarik untuk didengar.
>> For better audio quality, plug in your headphones, and enjoy this exciting dialogue! <<
Yuk, bantu yayasan yang dikelola keluarga Nico, melalui laman Instagram @yayasanprimaunggul
Drake, Raptors, dan CN Tower. Mungkin ketiga hal tersebut merupakan yang pertama kali terlintas di pikiran kebanyakan orang, ketika menyebut kata "Toronto". Tapi, ibu kota dari Provinsi Ontario ini bukan hanya sekadar kota besar. Sebagai pusat bisnis, kesenian, dan budaya Kanada, Toronto menampilkan wajah multikultur yang sangat beragam, dengan banyak karakteristik otentik nan unik yang tentu menarik dikupas. Oleh karena itu, The Talisman Talkshow pada episode kali ini duduk ngobrol bersama Audrey, yang sedang menempuh pendidikan di kota yang sering dijuluki sebagai "The Six". Mulai dari kisah kesehariannya sebagai mahasiswi rantau dari Indonesia yang berusaha beradaptasi, hingga pengalaman-pengalaman menarik seperti "bertemu" dengan PM Kanada Justin Trudeau, Audrey menjadi narasumber yang tepat untuk diajak berdiskusi mengenai kehidupan di Toronto, baik dari pengalaman pribadi maupun perspektif secara umum.
Penasaran? Yuk, dengerin episode #11 of The Talisman Talkshow!!
For a better listening experience, plug in your earphones! And don't forget to click the follow button, so you won't miss future episodes!
Sebagai pelajar yang telah menempuh kurang lebih satu tahun pendidikan di Jerman, Michael menemukan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh negara tersebut, terlebih jika dibandingkan dengan Indonesia. Dengan eksposur terhadap literatur Jerman yang memiliki karakteristik tersendiri, tidak heran jika perbincangan santai ini kemudian beranjak menjadi berbobot. Dalam episode kali ini, kami membahas permasalahan fundamental pendidikan di Indonesia, pewadahan diskusi hal-hal "tabu", perbedaan sudut pandang awam, hingga batasan kebebasan dengan tanggung jawab.
Kalian bisa membaca salah satu tulisan terbaru Michael di tautan berikut: https://logosid.xyz/pengamatan-tingkat-pertama-menjaraki-diri-dari-perspektif/
From the publisher's feed