theireng
Download on the App Store

theireng episodes

  • Ini hanya perihal waktu dan aku
    jujur jika semua ini harus berakhir sungguh aku belum menyanggupinya, antara rasa bersalah yang telah ku perbuat hingga kau merasa ingin pergi dari rumitnya yang telah terjadi.
    perihal semuanya yang membuatmu kini membatasi diri denganku, tidak ada yang bisa ku lakukan lagi kecuali memahami diri ini serta permohonan maaf yang telah terucap ribuan kali.
    kini aku sadar hubungan bukan sekedar aku dan dikau yang harus berbahagia, tapi semuanya. sementara aku mengikhlaskan ini terjadi untuk sementara waktu tanpa berkomunikasi denganmu.
    aku akan memperbaiki diri dan akan kembali menemuimu dalam versiku yang lebih baik lagi
    2 min
  • Bunga
    sejak saat itu aku tidak lagi merasa murung, semua yang tersembunyi kini satu persatu mulai menyebar. senyum sebelumnya adalah raut kebohongan yang terpampang.
    kini mataku menjadi lebih tulus dalam memandang, senyumku beralih menjadi senyum yang begitu ikhlas tanpa kemunafikkan. aku tidak pernah meminta untuk dirubah, tidak ingin menjadi apa seperti yang dikau mau. tapi, setelah denganmu kini aku merasa lebih berbahagia dalam rasa syukur yang begitu besar. tanpa isyarat yang begitu jelas atau perihal perilaku yang mendasar.
    aku mengungkapkan ini sebagai rasa terima kasih, karna jika bukan tanpamu aku tetap menjadi seorang pria tanpa tujuan hidup yang jelas. kini kembali aku temukan sebagian rasa yang telah terkubur diantara sela-sela egoisnya diriku.
    terima kasih, karnamu aku menjadi lebih baik
    2 min
  • Nayanika
    Bagaimana untuk mulai lupa? Sementara masih tegar lara yang tak terkikis oleh ombak yang bersikeras untuk menghancurkan egoku...
    Dan andainya aku berkaca sudah tidak lagi ku lihat bayangan ''Nayanika'' di wajahmu.
    Kini aku bergialog di dini hari, berargumentasi dengan jiwaku agar aku dapat melenyapkan masalalu.
    Aku muak ketika aku memejamkan mata selalu ada ''Nayanika''
    Lalu ku pandang semesta ketika perlahan gelap yang mulai jatuh. Dan berharap pada surya yang akan memancarkan sinarnya, yang mungkin saja bisa menyembuhkanku dari lara.
    2 min
  • Masih juga belum ku temukan jawaban
    "hai... apa kabar?"
    kembali ku ajukan pertanyaan itu
    sedikitpun tidak ku dengar suara apapun, kecuali suara nafasmu
    "perihal semuanya, aku minta maaf, lagi-lagi aku memohon maaf padamu, seolah kamu adalah Tuhanku, dan aku adalah pendosa dihadapanmu.
    akhir-akhir ini lambat laun mulai ku hancurkan dirimu di ingatanku, bukan apa-apa, aku hanya ingin berdamai denganmu, setelah semua yang pernah ku perbuat, entah itu kebaikan atau keburukan.
    aku juga ingin bahagia meski tanpamu, dan kamu juga harus bahagia walau tanpaku, setelah ini peperangan antara kita sudah disepakati dengan kata damai.
    terserah kau mau menghilang selamanya dari kehidupanku, atau tetap berada dikehidupanku, tapi aku, aku akan memulai lagi semuanya dari nol, tentangmu, mungkin seperti kedua orang yang tidak saling kenal sebelumnya, aku menelfonmu hanya butuh sedikit jawaban darimu, iya atau tidak? itu saja tidak lebih dan melebihkan.
    kau ingat tentang seorang perempuan yang pernah ku ceritakan padamu? saat itu dia menangis setelah ku minta untuk mengakhiri semuanya, ya tentu saja kau tau semuanya, kau mau tau apa kabarnya? tentu saja dia sudah bahagia tanpaku sekarang, sudah menemukan seorang lelaki yang mungkin begitu berharga dihidupnya, perempuan lugu yang dulunya sama sekali tidak pernah mengenal cinta kecuali dari ayahnya.
    aku harap, setelah ini kau pun begitu
    sekarang kau hanya jadi orang asing yang tau semua ceritaku, tentang kehidupanku dan apa yang ku lalui.
    sekarang bagaimana jawabanmu dari semua pertanyaanku?"
    4 min
  • Tanpamu
    Malamku sama seperti biasanya, tapi, yang membedakan adalah, tanpamu.
    Aktifitasku juga masih seperti biasanya, yang membedakan lagi, itu juga tanpamu.
    Dan jujur, aku muak dengan semua ini, dihantui oleh bayang-bayang yang kini tiada lagi
    Perihal kalimatmu yang pernah kamu kirim "Ya aku juga sayang kamu kok"
    Dan juga soal janjiku yang dulu "Aku akan pulang untukmu"
    Bedanya sekarang adalah, kau menghilang dengan kalimatmu
    Dan aku, masih sama seperti janjiku
    Aku tidak bisa menebak, bagaimana dirimu sekarang?
    Sudah tidak lagi ku baca celotehmu diujung malam yang selalu membuatku tersenyum.
    Tidak lagi ku lihat kiriman fotomu di percakapan kita.
    "Coba tebak aku dimana?" ucapmu
    disebuah foto yang hanya terlihat sedikit bagian dari wajahmu yang cantik.
    "Entah aku tak tau kamu dimana, tapi tepatnya dibumi, aku juga, dan dibumi aku ada untukmu" balas kalimatku.
    Masih jadi tanda tanya setelah kepergianmu
    Setelah ku lakukan kebodohanku.
    Sialan, aku harus kehilangan lagi seseorang dihidupku yang sudah ku anggap berarti
    3 min
  • Sebats dan Tuhan
    Tuhan,
    dalam sebats nama-Mu ku sebut
    sebab ku tahu nikotin tak cukup menenangkan
    untuk menghadapi situasi seasu ini.
    Ada begitu banyak perkara yang tak selesai
    Problematika hidup yang dengan sombongnya ingin ku tangani sendiri,
    tapi pada akhirnya
    aku menjadi seperti secangkir kopi yang di dinginkan sepi
    Tuhan,
    dalam sebat aku bertobat,
    aku tidak meminta kembali Kau hangatkan
    aku hanya ingin Engkau menerimaku,
    meski aku tinggal ampas dan abu
    2 min
  • Apakah kamu sudah bahagia?
    Notifikasi pesanmu masih menyala
    dan aku belum siap membacanya.
    Ku habiskan secangkir kopi
    menyambung setengah batang rokok yang tadi mati
    Aku tak ingin melihat tanda tanyamu
    karena ia selalu menuntut tanda seru
    Dan benar,
    isi pesanmu adalah sebuah pertanyaan:
    apakah kamu sudah bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang?
    "Aku tidak fanatik pada kebahagiaan.
    Bagiku semua perasaan itu baik!"
    ketikan itu ku terjang
    Entah perasaan macam apa yang hadir ketika kau membacanya.
    Yang jelas, setelah setengah jam kau baru membalasnya:
    kamu gak pernah berubah ya...
    Aku tahu, pernyataan itu penuh luka mungkin juga penyesalan.
    Karena jawabanku pasti mengingatkanmu pada ujung kisah dimana kau meminta perpisahan,
    karena merasa tak menemukan kebahagiaan
    sedangkan aku mencoba bertahan karena yang ku inginkan bukan bahagia
    tapi kamu.
    Singkatnya, yang butuh kebahagiaan adalah kamu.
    Dan aku mengikhlaskanmu mencari kebahagiaan diluar diriku
    Entah kau telah menemukannya atau belum
    Yang jelas, tiba-tiba kau berkata:
    "Maaf, aku dulu egois, bolehkah aku kembali?"
    Aku tak ingin melihat tanda tanyamu
    karena ia selalu menuntut tanda seru
    Sedangkan tanda seru tak bisa diletakkan di akhir kalimat yang ragu-ragu
    4 min
  • Menunda apa kabar
    Sejak kau menyudahi semuanya, hanya satu yang ku lakukan: menunda apa kabar. Karena aku tahu baik-baik sajamu yang tanpaku akan terdengar sangat menyakitkan. Dan lagi pula, sama sekali tak mendengar kabarmu toh lebih baik dari pada mengetahui kau merana namun. tak berbuat apa-apa, karena nyatanya, aku bukan lagi siapa-siapa
    2 min
  • Terima kasih kau rela bukan menjadi siapa-siapa
    Meski aku tahu yang kau rasa terima kasih kau tak mengungkapkannya karena kau tahu pasti aku tak boleh lebih dari sekedar mengetahui. Terima kasih kau telah dengan tabah menghadapi kemustahilan ini. Meski aku tahu perasaanmu. Terima kasih kau tetap tak melakukan apa-apa, karena aku tahu bahwa aku tak boleh lebih dari sekedar ada. Terima kasih kau rela menjadi bukan siapa-siapa. Meski aku tahu kau mengetahui perasaanku. Terima kasih untuk tak pernah meminta "kita" Karena perasaanku tak boleh lebih dari sekedar rasa. Sebab jika lebih dari itu, kita salah, kita keliru.
    2 min

About theireng

From the publisher's feed

Podcast ini hanya berisi tentang isi hati seorang lelaki, yang entah kepada siapa dia bercerita jika bukan kalian