Entah bagaimana semua itu berubah. Dia yang dulu tak lagi sama. Kadang berpikir untuk berpisah tapi rasa ini melarang. Tapi berjuang untuknya pun seakan bukan jalan keluar. Bimbang melanda, dilema tercipta. Lalu harus bagaimana?
Mereka adalah pribadi-pribadi yang pertama kali melihat kita membuka mata. Mereka adalah dua raga penuh dengan jiwa untuk membuat kita bahagia. Pelajaran demi pelajaran diberikannya. Waktu demi waktu telah begitu banyak kisah yang dibagikannya.
Cinta tak sekadar diucapkan. Tapi juga ditunjukkan. Namun terkadang bahasa cinta amat rumit. Untuk mengerti apakah benar itu cinta, atau sekadar rasa. Rasa yang mudah pudar dan hilang berhembus ke ruang hampa.
Berbeda itu biasa. Berbeda itu adalah kekuatan. Tiap insan di muka bumi memilih jalan yang berbeda untuk menghidupi hari-harinya. Tak ada yang dapat begitu saja menghentikan apalagi mengubahnya. Hanya menerima satu sama lain yang dapat merajut harmoni dalam asmara.
Pria oh pria.. Segala keputusannya kadang hanya membuat para wanita bimbang dan berada dalam dilema. Beribu cara telah dicoba untuk mengerti tapi tak ada jawaban yang pasti.
Kisah-kisah romantis dalam layar kaca terkadang membuai, menghasut benak untuk menginginkan cerita itu benar terjadi pada diri. Ada pula kubertanya apakah kisah romantis itu menyampaikan pesan untuk kehidupan nyata manusia?
Bagaimana dapat melupakannya? Apakah aku benar harus pergi atau tetap setia di sampingnha? Kapan akhirnya aku akan benar-benar tidak peduli padanya? Segala pertanyaan ini saat disimpan sendiri memang seperti tak ada jawabannya..
Butuh waktu nan cukup tuk mengerti kapan ada akhir dari sebuah lingkaran. Butuh waktu nan cukup tuk akhirnya berkata dia adalah pelabuhan terakhir kapal ini. Pemberhentian yang hendak membuatku bilang. Sudah. Sudah habis masaku berlari ke sana ke mari.
Sudah dengar sana, dengar sini. Tetap tak berjalan lancar. Sudah baca sana, baca sini, hubungan tak kunjung membaik. Butuh berapa banyak waktu lagi untuk mempelajari cinta?
Tak mudah melupakan si dia yang ada di masa lalu. Tapi ketika waktunya memang sudah harus berakhir tak semestinya kita mencoba tuk tetap berbicara apalagi tatap muka. Terutama saat luka masih basah. Yang ada hanyalah keinginan untuk kembali. Mempertanyakan apakah putus sebuah keputusan yang tepat. Lalu bagaimana?