Dengan standar kekristenan yang telah merosot dan mengalami penyimpangan, banyak teolog puas dengan pengetahuan Alkitab atau teologi yang mereka pahami yang juga telah terkristal dalam buku-buku di perpustakaan, bahan-bahan ajar di seminari atau sekolah tinggi teologi, berbagai karya ilmiah, dan jurnal. Allah hanya menjadi ilmu yang dinalar, dipercakapkan di ruang-ruang kuliah dan aula akademis, seminar-seminar rohani, bahan-bahan apologet, khotbah-khotbah di mimbar, dan berbagai bentuk diskusi. Dengan cara ini, Allah dimasukkan ke dalam kotak “ilmu” atau teologi, dan “dipenjara” dalam literatur. Tanpa mereka sadari, Allah telah menjadi “mati,” karena mereka tidak mengalami Allah secara riil. Tentu saja, jemaat Kristen yang mendengarkan khotbah-khotbah mereka di mimbar hanya mendapat impartasi pengetahuan, bukan impartasi kehidupan dari seorang yang berjumpa dan hidup berjalan dengan Allah. Mereka tidak mengenal hidup di hadirat Allah.
Hadirat Allah dianggap sebagai bahasan yang mistis, yang tidak bisa masuk dalam khazanah teologi. Dan karena itu, hal ini tidak mendapat tempat dalam kurikulum sekolah tinggi teologi. Padahal, justru hal ini lebih penting dari berbagai mata kuliah dalam sekolah tinggi teologi. Telah terbukti dalam kenyataan bahwa ada orang yang memiliki gelar kesarjanaan, tetapi ternyata tidak membawa dampak bagi gereja dan masyarakat luas. Mereka hanya bisa mengaktualisasi diri di lingkungan sekolah tinggi teologi. Dalam hal ini, yang dikhawatirkan adalah lulusan sekolah tinggi teologi yang hanya “dicekoki” ilmu dalam nalar, tetapi tidak mengisi hati dengan pengalaman perjumpaan dengan Allah. Maka dapat disadari, kekristenan telah menyimpang jauh dari jalur asli yang Yesus ajarkan.
Kekristenan yang telah menyimpang tersebut telah menjadi standar kehidupan agama Kristen yang dijalani oleh hampir semua orang Kristen di dunia. Ironisnya, mereka merasa sudah percaya kepada Yesus dengan benar, merasa sudah melayani Allah dengan benar, dan meyakini bahwa mereka akan masuk surga. Tentu saja hal ini berarti mereka hidup dalam kekristenan yang semu atau palsu. Tidak heran kalau kehidupan mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang bukan umat pilihan. Standar moral mereka tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang kelakuannya lebih buruk dari orang non-Kristen. Mereka tidak merindukan Kerajaan Allah. Kehidupan mereka adalah kehidupan wajar seperti manusia pada umumnya.
Kehidupan yang benar-benar berinteraksi dengan Allah, dimana orang percaya hidup di hadirat Allah, adalah kehidupan seseorang yang mengalami perjumpaan dengan Allah. Merekalah orang ber-Tuhan yang benar. Orang-orang yang ber-Tuhan pasti selalu mengalami perubahan, yaitu hidupnya semakin memiliki karakter seperti Tuhan atau Allah yang disembahnya. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan seseorang menyatakan kualitas agama yang diamalkan atau teologi yang ada di pikirannya. Oleh sebab itu, sebenarnya orang tidak mudah dapat berbangga diri atas doktrin atau ajaran yang dimiliki dan dikuasainya, serta menyatakan bahwa dirinya paling benar.
Tidak sedikit para akademisi dari seminari atau sekolah tinggi teologi yang menutup mata atau memang tidak tahu mengenai hal hidup di hadapan Allah. Dengan studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, mereka merasa dan percaya telah menemukan, memiliki, dan benar-benar hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mereka berpikir, semakin memiliki pengetahuan tentang Allah berarti sama dengan benar-benar telah menjumpai Dia. Sebenarnya, mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi mereka belum mengenal Allah secara benar. Mereka tidak mengenal Allah dengan benar. Tetapi, biasanya mereka merasa mengenal Allah lebih baik dibanding dengan mereka yang tidak pernah kuliah di sekolah tinggi teologi.
Dari perbuatannya, seseorang dapat membuktikan kebenaran ajaran yang dimilikinya. Dari pernyataan-pernyataannya, baik secara lisan maupun tertulis,