Menyembah Allah (Yun. proskuneo) artinya memperlakukan Dia sebagai Yang Mulia dan Agung. Dengan demikian, berarti memberi nilai tinggi bagi Allah, dan memperlakukan Dia sebagai satu-satunya yang bernilai. Sejatinya, inilah yang dimaksud dengan mempermuliakan nama-Nya. Kalau seseorang memberi nilai tinggi kepada Allah, maka seseorang bisa membunuh nafsu dan hasrat rendahnya. Orang seperti ini menjaga setiap kata yang diucapkan. Dia tidak meledakkan emosi yang dapat melukai hati orang lain. Dalam segala hal yang dia lakukan, tidak menyakiti dan tidak merugikan siapa pun. Orang percaya harus belajar memuliakan Allah dengan perbuatan-perbuatan baik secara umum atau dalam pengertian umum, hingga nantinya dapat selalu melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini bisa terjadi kalau kita mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat ilahi. Perubahan kodrat dimulai dari hal-hal sederhana setiap hari, sampai pada hal-hal yang besar. Ini bagian dari proses terjadinya kelahiran baru.
Pada awal kita belajar untuk sungguh-sungguh dapat memuliakan Allah melalui segala hal yang kita lakukan, seakan-akan Allah tidak memberikan reaksi atau respons. Tetapi kita harus melakukannya terus, sebab itulah sebenarnya yang dimaksud dengan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Dari pengalaman hidup tersebut, kita akan memperoleh kesaksian dalam batin yang menjadi testimoni pribadi, bahwa Dia adalah Allah yang hidup. Kalau hal tersebut kita lakukan dengan setia, kita dapat memahami yang dimaksud dengan hidup tanpa memiliki kepentingan kecuali hanya untuk kesukaan hati Allah. Dalam hal ini, kita masuk dalam pelayanan yang sesungguhnya kepada Allah Bapa kita dan kepada Tuhan Yesus.
Kehidupan yang memuliakan Allah itu tidak kompleks, sederhana, namun sangat sukar. Untuk ini, kita tidak boleh merasa memiliki kepentingan. Kita harus bertekad tidak memiliki kepentingan apa pun selain Allah, yaitu menyenangkan hati-Nya. Kita adalah budak (Yun. doulos) milik Tuhan Yesus. Untuk ini, kita tidak harus menjadi pengerja atau aktivis gereja, majelis gereja, apalagi menjadi pendeta. Kalau kita tidak terpanggil di tempat tersebut, kita malah membuat kesalahan. Yang penting, dalam segala hal yang kita lakukan, kita dapat menyukakan hati Allah dengan tidak melukai hati dan merugikan siapa pun. Orang yang berusaha dengan motivasi yang tulus mau menyenangkan hati Allah, pasti tidak melukai atau merugikan siapa pun. Sebab, orang yang mengasihi sesama pasti menyenangkan hati Allah.
Oleh sebab itu, kita harus mempersoalkan apakah ada tindakan yang kita lakukan yang merugikan atau menyakiti orang lain? Kalau kita tidak merugikan dan tidak menyakiti siapa pun, kehidupan kita yang seperti ini adalah gift (hadiah) dari Tuhan untuk manusia di sekitar kita. Seperti Yesus yang adalah grace, gift dari Allah Bapa bagi dunia. Sebagai utusan Kristus, kita menjadi gift untuk orang di sekitar kita. Bahkan, untuk orang-orang yang memusuhi dan melukai kita. Jika kita bisa melakukan hal ini, kita benar-benar memuliakan Allah. Dan hal tersebut benar-benar menyenangkan hati Bapa. Dalam hal ini, betapa naifnya orang-orang yang merasa sudah memuliakan Allah hanya karena menyanyi atau mengucapkan syair yang memuat pujian bagi Allah. Memuliakan Allah pada dasarnya adalah sikap hati, yang tentu saja terekspresi dalam tindakan.
Sangat mungkin di antara kita ada yang mempunyai dendam atau sakit hati, tersimpan di bawah sadar. Kita harus memperkarakan hal tersebut di hadapan Tuhan. Harus dipahami bahwa dendam yang tidak diselesaikan akan menjadi duka abadi, tetapi pengampunan adalah sukacita abadi di Kerajaan Surga. Tidak ada orang yang masih menyimpan dendam diperkenan masuk surga, karena memiliki dendam terhadap orang lain berarti membenci, dan seorang pembenci saudaranya adalah seorang pembunuh (1Yoh. 3:15). Memang dalam kenyataan hidup, sering kita dimusuhi oleh orang yang bukan berasal dari agama lain, tetapi saudara seiman,