Orang yang telah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah adalah orang yang tidak lagi mencari kehormatan untuk dirinya sendiri dari manusia. Kehormatan atau penghormatan di sini adalah pengakuan bahwa dirinya adalah seorang yang bernilai atau memiliki nilai—sekecil apa pun nilai tersebut—atau paling tidak, dipandang sebagai manusia yang sederajat dengan yang lain dengan segala hak-haknya. Orang yang masih mencari kehormatan adalah orang yang dituntut oleh dirinya sendiri untuk memperoleh kehormatan dari orang lain, sehingga ia juga menuntut orang lain memberi penghomatan kepada dirinya. Orang yang mencari penghormatan akan menuntut dirinya dihargai, atau paling tidak, dipandang sebagai sejajar dengan orang lain.
Penghormatan adalah sesuatu yang abstrak, sebab nilai atau harga yang dituntut atau diharapkan bisa sangat relatif. Semua ini menyangkut perasaan. Kalau seseorang merasa bahwa dirinya tidak mendapat nilai atau penghargaan yang diharapkan dalam situasi tertentu, maka ia merasa dirinya direndahkan. Biasanya, kemudian ia menjadi tersinggung atau hatinya terlukai. Keadaan perasaan seperti ini sudah menjadi hal yang umum atau wajar dalam kehidupan banyak orang. Orang-orang yang masih memiliki perasaan seperti ini adalah orang-orang yang sangat rentan. Perasaannya mudah tersinggung dan terlukai. Inilah orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah. Tidak mudah bergaul dengan orang seperti ini. Orang yang mencari kehormatan—sehingga belum selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah—adalah orang yang bisa dikategorikan sombong atau tinggi hati. Terkait dengan hal ini, kita harus memahami: Sebenarnya, apa kerendahan hati itu?
Kerendahan hati digerakkan oleh kesadaran bahwa ada Allah yang hidup, sumber segala sesuatu. Karena segala sesuatu berasal dari Dia, maka hanya Dia yang layak menerima segala kehormatan. Keadaan kita ini hanya oleh pemberian anaugerah-Nya semata-mata. Dengan demikian, mestinya kita tidak boleh memegahkan diri dan tidak berhak menuntut penghormatan dari siapa pun. Sikap menuntut penghormatan adalah kesombongan, yang secara implisit merupakan sikap hati yang tidak mengakui bahwa keberadaannya dari Tuhan semata-mata. Paulus, dalam suratnya di 1 Korintus 4:7 berkata: pada umumnya, orang tidak mengakui bahwa apa yang dimilikinya, diterimanya dari Tuhan. Sebagai bukti bahwa seseorang tidak menerima kenyataan bahwa Tuhan merupakan sumber berkat adalah ketika menuntut penghormatan dari orang lain.
Roma 11:36 mengatakan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dari Dialah seseorang dapat mencapai segala prestasi yang dimilikinya hari ini, kekayaan, pangkat, gelar, kekuasaan, dan lain-lain. Oleh sebab itu, seharusnya sebuah prestasi atau keberhasilan tidak perlu ditonjolkan dan mengharapkan orang lain mengetahui serta menghargainya. Seseorang yang membanggakan apa yang dimilikinya kepada sesama berarti merendahkan orang lain, seolah-olah orang lain tidak dihargai Tuhan. Hal ini bukan saja menyakitkan hati sesama kita, melainkan juga menyakitkan hati Tuhan.
Kerendahan hati yang benar harus digerakkan oleh kesadaran bahwa ada Allah yang hidup menjadi objek pemujaan dan penyembahan. Untuk dapat memiliki sikap hati yang benar dalam memuji dan menyembah Tuhan, seseorang harus sadar bahwa batas antara Allah dan umat tidak terhalangi, walaupun Dia adalah Allah yang Mahatinggi dan manusia adalah ciptaan-Nya. Alkitab menyatakan dengan tegas bahwa hanya Allah yang harus menjadi objek penyembahan manusia ciptaan-Nya. Kerendahan hati ini adalah sikap hati, sesuatu yang bersifat batiniah. Dalam hal ini, hambatan atau halangan seseorang memuji, menyanjung, dan menyembah Allah adalah penilaian yang tidak tepat atas diri, pengagungan diri, dan ketidaksediaan menundukkan diri di hadapan Allah. Kesadaran ini akan membuat seseorang dengan tegas menolak segala bentuk pengkultusan atas dirinya.