“Yesus yang lain” tidak mengajak orang Kristen masuk dalam “kematian,” tetapi Yesus mengajak orang percaya masuk dalam kematian, yaitu kematian terhadap dosa dan hidup untuk kemuliaan Allah. Itulah sebabnya harus dipahami bahwa baptisan yang diterima orang percaya adalah lambang kematian. Dalam Roma 6:4 tertulis,“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”Bagi orang percaya, baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus atau dalam nama Tuhan Yesus Kristus berarti kesediaan untuk hidup sebagai warga Kerajaan Surga dengan hukum Kerajaan-Nya, yaitu kehendak Allah. Ketika seseorang memberi diri dibaptis, berarti ia bersedia mati dari (meninggalkan) cara hidupnya yang telah dijalani dan mengenakan cara hidup Tuhan Yesus.
Menjadi satu dalam kematian Yesus berarti bahwa orang percaya harus berjuang sampai mencapai level berkenan di hadapan Bapa seperti yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus. Yesus telah taat sampai mati di kayu salib. Semakin menujuakhir tahun hidupnya, orang percaya harus semakin tepat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan tugas yang dipercayakan Bapa. Dengan isi hidup seperti ini, suatu hari orang percaya akan dibangkitkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus dan hidup bagi kemuliaan Bapa dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya Firman Tuhan menyatakan bahwa orang percaya akan menerima janji-janji Allah Bapa yang akan diterimanya bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Janji itu adalah dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dalam Kerajaan Bapa di surga, yaitu memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Hanya orang-orang yang mengalami kematian di dalam Tuhan—ini berarti kematian terhadap dosa dan hidup bagi kemuliaan Allah— yang akan dibangkitkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
Kematian Yesus menunjukkan kesediaan menerima segala penderitaan demi menyelesaikan tugas yang telah Bapa percayakan. Yesus tidak pernah menghindari penderitaan atau kesulitan sebesar apa pun demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Yesus menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.Artinya, Ia tidak memiliki kenyamanan di bumi ini. Hidup-Nya hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kehidupan Tuhan Yesus seperti kehidupan seorang yang telah divonis hukuman mati, tinggal menunggu waktu pelaksanaan eksekusinya. Pengakuan teguh-Nya adalah,“Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”(Mat. 26:39).
Dalam tulisannya Paulus menyatakan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2Kor. 4:7-10). Inilah yang dimaksud dengan menderita bersama dengan Yesus. Dengan membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya, kehidupan Yesus menjadi nyata. Dari pernyataan Paulus ini, kita dapat memperoleh pelajaran sangat berharga, yaitu seseorang tidak akan pernah mengalami kehidupan Yesus secara nyata dalam dirinya sebelum menerima dengan segala kepasrahan semua penderitaan yang harus dialami demi kepentingan pekerjaan Tuhan.
Kematian dari hal-hal duniawi bukanlah proses sebentar dan mudah, melainkan sebuah proses yang menyangkut segenap hidup, waktu, dan kekuatan. Tuhan Yesus melalui Roh Kudus terus memproses orang percaya atau memuridkan mereka yang haus dan lapar akan kebenaran atau yang mengasihi Tuhan. Dalam hal ini, tekad masing-masing individu untuk berubah harus kuat dan permanen. Waktu yang Tuhan berikan harus diterima sebagai anugerah yang tidak ternilai. Melalui Injil kebenaran, orang percaya harus mengalami pembaruan pikiran setiap hari secara intensif. Kesempatan untuk mengalami “kematian” sangatlah terbatas...