Sungguh suatu bahaya besar, kalau orang percaya terlalu optimis menganggap Iblis tidak berdaya lagi. Iblis dianggap sudah kalah sama sekali. Sesungguhnya, Iblis yang cakap dalam strategi berusaha agar orang Kristen memiliki gambaran yang salah mengenai dirinya, yaitu bahwa Iblis sudah lemah dan tidak berdaya sama sekali. Faktanya, sekarang Iblis telah berhasil membangun pengertian di banyak kalangan komunitas Kristen bahwa Iblis sudah menjadi oknum yang kurang atau bahkan tidak membahayakan. Oleh sebab itu, muncul anggapan bahwa oknum Iblis tidak perlu dipikirkan atau dipersoalkan seluk beluknya. Itulah sebabnya, sedikit sekali pembahasan mengenai oknum ini.
Mereka tidak mengenal oknum ini dengan benar. Sebenarnya, kemenangan Yesus terhadap Iblis tidak membuat orang percaya otomatis menjadi ikut-ikutan menang, tanpa perjuangan secara individu orang percaya itu sendiri. Kemenangan Yesus memberi jalan, potensi, atau peluang bagi orang percaya untuk memperoleh kemenangan seperti Dia telah menang. Orang percaya harus memiliki kemenangannya sendiri terhadap setan atau Iblis. Itulah sebabnya, berulang-ulang dalam Kitab Wahyu dikatakan bahwa orang percaya harus menang seperti Yesus menang (Why. 2:7, 11, 24, 26; 3:5, 12, 21). Kemenangan masing-masing individu harus diperjuangkan sendiri, tentu oleh pertolongan Roh Kudus. Kesalahan pengertian bahwa orang Kristen otomatis sudah menang karena Yesus telah menang di kayu salib membuat orang Kristen tidak memiliki perjuangan menghadapi kuasa gelap, dan menjadi tidak waspada terhadap gerakan kuasa gelap yang sangat cerdik. Petrus, dalam 1 Petrus 5:8 mengatakan bahwa orang percaya harus sadar dan berjaga-jaga, sebab lawan orang percaya—si Iblis—berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Kata “mencari” dalam ayat ini adalah zeton (ζητῶν), dari akar kata zeteo (ζητέω), yang selain berarti “mencari,” juga berarti menuntut atau meminta (Ing. ask for, request, demand).
Pengertian yang salah dari banyak orang Kristen ini mengondisikan Iblis lebih bebas beroperasi dalam melancarkan serangannya. Di pihak lain, banyak orang Kristen yang merasa sudah menang, tetapi sebenarnya ada di dalam tawanan. Banyak orang Kristen berpikir bahwa yang penting mereka masih ke gereja, giat bekerja di ladang Tuhan dalam lingkungan gereja, dan memiliki kehidupan yang tidak melanggar moral umum. Mereka beranggapan bahwa kalau memiliki kehidupan seperti itu berarti mereka sudah hidup sebagai pemenang. Paling tidak, mereka merasa ada di zona di mana Iblis tidak bisa menyentuhnya. Ini sebuah pikiran yang salah. Kemenangan dalam Tuhan tidaklah diukur dengan ukuran tersebut. Kemenangan dalam Tuhan harus diukur dengan ukuran yang benar, yaitu ketaatan kepada Bapa seperti yang dilakukan oleh Yesus.
Harus dimengerti bahwa kemenangan Yesus di kayu salib bukan membuat Iblis tidak berdaya sama sekali terhadap orang percaya. Kalau Iblis tidak berdaya sama sekali, Petrus tidak perlu mengingatkan jemaat terhadap gerakan musuh itu seperti singa yang mengaum. Paulus juga mengatakan bahwa orang percaya harus waspada agar tidak memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27). “Kesempatan” di sini dalam teks aslinya adalah topon (τόπον) yang berarti pangkalan atau tempat berpijak (foodhold). Iblis masih bisa berpijak dalam kehidupan orang yang sudah mengaku dan telah percaya kepada Tuhan Yesus. Kalau orang percaya memahami bahwa Iblis masih berpotensi besar membinasakan manusia, maka orang percaya akan bersikap lebih waspada untuk berjaga-jaga dengan serius.
Dalam Matius 12:43-45, Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang telah menerima pelepasan dari kuasa gelap masih bisa kembali dikuasai, sehingga keadaannya menjadi lebih buruk. Dalam paragraf tersebut, Tuhan Yesus memberi peringatan yang jelas bahwa kuasa gelap dapat memobilisasi pasukannya untuk membinasakan keh...