Dalam percakapan dengan ular, Hawa telah mengubah firman Allah. Dalam Kejadian 2:16-17, firman Allah demikian: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Hawa mengubah firman Allah tersebut dengan menambahi kata “raba” (dalam teks Ibraninya: naga, נָגַע). Pertanyaannya adalah mengapa Hawa mengubah firman yang Elohim Yahweh sampaikan? Bisa saja karena Hawa mendengar ular telah mengubah apa yang Allah katakan, sehingga tanpa disadari, ia pun tertulari perbuatan ular tersebut.
Mestinya Hawa tidak membuka ruang dialog dengan oknum setan. Ruang dialog merupakan celah Iblis mendapat kesempatan untuk merasuki hidup manusia. Mestinya Hawa tidak memberikan respons sama sekali terhadap setan. Sejatinya, prinsip yang harus ditegakkan adalah bahwa pohon pengetahuan tentang baik dan jahat tidak boleh dimakan. Titik. Tidak perlu ada pertimbangan atau percakapan lagi. Dengan membuka ruang dialog dengan setan, berarti Hawa memberi penghargaan kepada setan, dan hal ini berarti membuat Hawa tidak bermartabat. Setan adalah musuh Allah, pemberontak yang tidak pantas dihargai sama sekali. Orang yang melakukan perbuatan seturut dengan keinginan setan atau bertentang dengan kehendak Allah, berarti membuat dirinya tidak bermartabat. Itu juga berarti menghargai setan. Manusia yang membuka pintu dialog dengan setan adalah manusia yang tidak mempermuliakan Allah. Mempermuliakan berarti menghargai atau memberi nilai tinggi. Orang yang mempermuliakan Allah tidak akan memberi penghargaan sedikit pun kepada kuasa gelap. Itu juga berarti tidak memberi ruangan sekecil apa pun kepada segala sesuatu yang tidak membuat nama Tuhan dihargai. Ini juga berarti bahwa persahabatan dengan dunia dan persahabatan dengan orang yang tidak takut Allah berarti sikap yang tidak menghargai Allah.
Setan adalah oknum yang berusaha agar manusia tidak menghormati atau tidak menghargai Allah secara patut. Dalam Lukas 4:5-8, dikemukakan mengenai kisah Yesus yang dibawa oleh Iblis ke tempat tinggi agar Yesus mengingini keindahan dunia, dimana dengan cara demikian Yesus tidak menyembah Allah, Bapa-Nya, dan tidak berbakti kepada-Nya. Lukas 4:5-8 tertulis demikian: “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! Setan mencobai Yesus agar Yesus mengingini keindahan dunia dengan cara demikian Yesus tidak menghargai Allah Bapa atau menyembah Allah Bapa-Nya dan tidak berbakti kepadan-Nya.”
Dari sejak Yesus memilih murid-murid-Nya, Yesus sudah menyatakan bahwa salah satu dari murid-Nya adalah Iblis, maksudnya adalah bahwa salah satu dari murid-Nya akan terbujuk untuk menuruti keinginan Iblis atau setan, yang sama dengan kerasukan setan. Tentu hal ini dikatakan oleh Yesus berdasarkan nubuatan yang ada di dalam Alkitab, bahwa satu dari sahabat-sahabat-Nya akan mengangkat tumitnya melawan Dia (Mzm. 41:9; Yoh. 13:18). Hal ini bukan berarti harus terjadi atas Yudas. Bisa saja terjadi atas murid lain. Tetapi, ternyata Yudaslah yang memang terbiasa mencuri uang (Yoh. 12:6). Yudas terbiasa membuka celah mencintai uang. Percintaan terhadap dunia atau uang ini yang membuat Yudas benar-benar sampai pada level kerasukan Iblis secara permanen. Sampai pada tingkat tertentu, Yudas menjual Gurunya untuk 30 keping perak. Alkitab mencatat mengenai Yudas sebagai berikut: “Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot,