Kita harus memilih, dan pilihan itu harus kita baharui setiap hari (update). Hendaknya, kita tidak menunda dalam memilih mengikut Yesus secara konsisten dan konsekuen. Penundaan berarti sebuah penolakan. Jika Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk berubah, kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Kalau seseorang sudah tidak ada kesempatan lagi, itu keadaan yang sangat mengerikan. Jadi, kalau hari ini Tuhan masih memberi kita nafas hidup, kita masih bisa mendengar peringatan Tuhan, kita harus mengambil keputusan memilih Dia. Dalam hal ini, dibutuhkan keberanian untuk memilih. Seseorang akan sangat menyesal ketika meninggal dunia, tetapi ia belum menemukan tujuan dirinya dihadirkan di bumi ini. Sesungguhnya, dalam kehidupan setiap individu ada rancangan Allah, dan setiap individu bertanggung jawab mewujudkannya.
Oleh sebab itu, fokus kita hanya Kerajaan Allah saja. Dan itu adalah sebuah pilihan: menjadi manusia hari ini atau menjadi manusia hari esok. Kita harus memilih untuk menjadi manusia hari esok yang dibahasakan dalam Matius 6:21, “memindahkan hati; di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Kita harus mengakhiri jalan hidup dalam kewajaran dunia. Kelihatannya ini satu hal yang sederhana, tapi sebenarnya tidak. Kalau seseorang memiliki fokus hidup Kerajaan Allah, ia dapat merasakan perasaan krisis terhadap keselamatannya sendiri dan keselamatan orang lain. Nuh memiliki perasaan krisis ini, sehingga ia mendedikasikan hidupnya untuk membangun bahtera, karena ia melihat keselamatan umat manusia.
Harus selalu diingat bahwa kita akan mati. Setelah itu, kita akan menghadapi kekekalan. Mengapa kita tidak maksimal untuk berprestasi bagi Allah selama kita masih hidup di bumi? Prestasi itu adalah menjadi serupa dengan Yesus, yaitu memiliki kemampuan melakukan kehendak Allah, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ini adalah prestasi kehidupan yang bernilai kekal. Menjadi serupa artinya berkarakter seperti Dia dan menderita seperti Dia untuk keselamatan orang lain (Flp. 3:9-10). Roh Kudus pasti membimbing kita pada jalan salib penderitaan, atau persekutuan dalam penderitaan-Nya.
Untuk itu, kita harus memulai dengan melakukan sesuatu bersama Tuhan, dimana Tuhan nyaman bersama dengan kita. Kalau kita merasakan sesuatu dimana Tuhan tidak nyaman dengan apa yang kita lakukan, hendaknya kita tidak melakukannya. Seperti misalnya kalau kita bergaul dengan orang yang Tuhan tidak berkenan, seharusnya kita tidak bergaul dengan orang tersebut. Keputusan itu harus sekarang, tidak boleh ditunda. Hendaknya, kita tidak berpikir selalu masih ada waktu untuk berubah. Jangan sampai kita tertipu oleh kuasa gelap yang jahat, yang mengintimidasi untuk menunda, sampai akhirnya kita tidak mempunyai waktu untuk berubah dan memang tidak akan bisa berubah lagi; dimana pikiran sudah menjadi tumpul dan tidak akan pernah bisa mengerti kehendak Allah.
Kita harus berani mengambil keputusan menjadi anak-anak Allah yang setiap saat menyukakan hati-Nya. Tuhan akan mengizinkan kita mengalami banyak hal—kesempatan berbuat dosa, korupsi, berzina, membalas kejahatan dengan kejahatan—namun kita harus memilih untuk tidak melakukan kesalahan. Tuhan sering membawa kita kepada keadaan-keadaan dimana terdapat peluang untuk berbuat dosa. Keadaan-keadaan seperti itu sebenarnya menjadi ujian bagi kita, seberapa kita mengasihi Tuhan. Kita terus menjaga kesucian, sampai kemudian kita bisa memberikan apa pun untuk kepentingan Kerajaan Allah. Dalam Filipi 3:10 tertulis, “dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” artinya Tuhan Yesus mati untuk kemuliaan Bapa. Hidup-Nya sepenuhnya utuh untuk Bapa di surga, demikian pula seharusnya gaya hidup kita. Kalau kita tidak mulai sejak sekarang, kita tidak bisa berubah. Dan pilihan itu kita lakukan setiap hari. Kita memiliki kehendak bebas, kita mau mengarahkan pikiran kita ke Kerajaan Surga atau dunia, tergantung diri kita sendiri. Mestinya, orang percaya hidupnya hanya diarahkan untuk melakukan kehendak All...